29 Dosen ISBI Aceh Kirim Surat Mosi Tak Percaya Kepada Rektor, Ada Masalah Apa?

0
126
29 Dosen ISBI Aceh Layangkan Surat Mosi Tak Percaya terhadap Rektor ISBI. Foto: Liputanaceh

Aceh Besar | LA – Sejumlah dosen dari Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Aceh mentgaku telah mengirimkan surat mosi tidak percaya terhadap Rektor ISBI Dr. Ahmad Akmal. Pengakuan tersebut disampaikan perwakilan dari 29 orang dosen kampus tersebut, Dindin Ahmad, M. SN kepada media Liputan Aceh, di Batoh, Banda Aceh, pada Rabu sore 31 Juni 2017.

Ungkap Dindin kepada sejumlah media, selain melayangkan surat mosi tidak percaya kepada Rektor kampus tersebut, dia menuturkan para dosen kampus seni pertama di Aceh itu juga beramai-ramai mengundurkan diri dari jabatan pimpinan di ISBI Aceh sejak hari Senin 29 Mei 2017 lalu.  “Surat pengunduran diri itu ditandatangani di atas materai dan langsung disampaikan kepada Rektor ISBI Aceh Dr. Ahmad Akmal secara bersama-sama,” ungkap Dindin.

Menurut dia, alasan mereka bersama-sama mengundurkan diri dari jabatan di ISBI Aceh yang berlokasi di Kota Jantho Aceh Besar itu, karena menilai sistem yang dijalankan Rektor ISBI tersebut sarat praktik  kekeluargaan atau nepotisme. Selain itu juga disebut karena Rektor sangat tertutup dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar maupun dengan Pemerintah Aceh. “Hal ini dibuktikan, selama tiga tahun sudah ISBI Aceh menggunakan sistem kekeluargaan yaitu, semua diatur oleh sanak family,” klaim Dindin.

Lanjut Dindin, sudah tiga tahun yang lalu, kampus tersebut berdiri tapi belum melakukan upaya apapun dalam meningkatkan status kampus seperti akreditasi. Padahal menurut aturan, ISBI sudah harus terakreditasi maksimal dua tahun. “Ini dikarenakan ketidaktahuan Rektor dalam hal pengelolaan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), dikarenakan beliau tidak memiliki pengalaman yang cukup dalam mengelola organisasi PTN,” jelas Dindin lagi.

Masih kata Dindin, honor tunjangan juga tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 33 tahun 2016 untuk anggaran tahun 2017. Tunjangan Hari Raya (THR) tidak pernah diberikan kepada para dosen, tapi hanya diberikan kepada para staff. “Inikan tidak baik sehingga menimbulkan kesenjangan dan ketidaknyamanan kita dalam bekerja,” sebutnya.

Karena berbagai permasalahan tersebut, sehingga membuat Dindin bersama 28 orang dosen lainnya berusaha mengubah keadaan ini menjadi lebih baik kedepan, yaitu dengan cara melayangkan surat mosi tidak percaya kepada Rektor ISBI yang diduga sama sekali tidak memiliki kapabilitas dalam hal kepemimpinan sebagai Rektor ISBI Aceh. “Surat pengunduran diri itu telah diserahkan kepada Rektor ISBI Aceh. Selanjutnya tembusan surat dan tuntutan akan kami disampaikan kepada Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti),” bebernya.

Dari 36 dosen tetap ISBI Aceh, 29 memilih mengundurkan diri, namun aku Dinin, mereka hanya mengundurkan diri dari jabatan saja, sedangkan sebagai dosen pengajar, mereka tetap melaksanakan kewajibannya.

“Kami berharap Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Muhammad Nasir mau meninjau kembali Surat Keputusan (SK) perpanjangan Jabatan Rektor ISBI Aceh, dan memakzulkannya dengan cara mencopot. Kami juga meminta kepada Menristekdikti untuk melakuakn reformasi birokrasi di ISBI Aceh, agar dugaan Kolusi, Korupsi dan Nepotisme dapat diberantas sesuai Nawa Cita Presiden Joko Widodo,” harap Dindin menyampaikan keluhan 28 dosen lainnya. (Ayi)