200 UMKM di Banda Aceh Ikuti Pelatihan bersama BI

0

BANDA ACEH |LA- Kantor Perwakilan Bank Indonesian (BI) Provinsi Aceh menyelenggarakan pelatihan bertajuk “Penguatan Daya Saing Pemasaran UMKM di Era Revolusi Industri 4.0” bertempat di Digital Lounge, Banda Aceh. Pelatihan tersebut diselenggarakan selama 2 hari, mulai 22 s.d. 23 April 2019 yang melibatkan sekitar 200 UMKM se-Banda Aceh.

Dalam mendukung pelaksanaan kegiatan ini, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Aceh, Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Aceh, Dinas Industri dan Perdagangan Provinsi Aceh, idea (Konsultan), dan Dilo Telkom.

Pembukaan acara dihadiri langsung oleh Z. Arifin Lubis (Kepala Bank Indonesia Provinsi Aceh), Aulia Fadly (Kepala Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Aceh), Taufik perwakilan Dinas Koperasi dan UMKM, serta Fajar Manager Digital Lounge Telkom.

Pelatihan dimaksud merupakan upaya dalam meningkatkan kemampuan UMKM dalam menghadapi revolusi 4.0, denghan focus penguatan pada aspek pemasaran berbasis digital. Beberapa materi yang diberikan antara lain mengenai P2P lending, teknik fotografi berbasis ponsel, Teknik editing foto, strategi promosi di sosial media, aktivasi fitur e-payment, hingga pendaftaran peserta pada beberapa market place.

Selain itu, pelatihan ini juga diharapkan dapat mendorong kualitas pertumbuhan ekonomi dan keuangan digital melalui pemberdayaan UMKM di Aceh, sekaligus secara tidak langsung meningkatkan share ekonomi digital terhadap PDB nasional, meningkatkan peran UMKM sebagai motor penggerak ekonomi digital, yang pada gilirannya dapat memperbaiki defisit transaksi berjalan.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia menyadari perkembangan cepat ekonomi digital yang memicu perubahan secara eksponensial dan mendisrupsi hampir seluruh industri yang ada. Industri musik, buku, transportasi, perhotelan, dan keuangan telah mengalami dampak akibat perubahan tersebut. Aspek sosial dan ekonomi juga mengalami tranformasi yang awalnya dilakukan secara analog atau tradisional berubah menjadi digital.

Tatanan hubungan sosial juga mengalami pergeseran dimana sosial media memiliki peranan yang cukup besar terhadap hubungan antar personal.
Ekonomi dan keuangan digital perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah/stakeholder lainnya.

Pasalnya, perkembangan ekonomi digital menimbulkan kerentanan terhadap tingginya inequality, meningkatnya ancaman kejahatan cyber, dan ancaman terhadap privasi atau identitas. Selain itu, ekonomi digital yang berkembang sedemikian pesat tentu perlu didorong dan diarahkan agar selaras dengan pembangunan ekonomi nasional.
Menilik beberapa data yang dirilis menujukkan bahwa perkembangan ekonomi dan keuangan digital nampaknya masih belum memberikan dampak optimal terhadap perekonomian.

Mesikpun data transaksi perdagangan elektronik terus meningkat per November 2018 menunjukkan bahwa transaksi perdagangan elektronik mencapai Rp10,9 Triliun atau tumbuh 15,8% (mtm). Namun, share terhadap ekonomi masih kegiatan. Pangsa pasar masih didominasi oleh Tokopedia, Shopee, dan Lazada. Sementara itu, metode pembayaran mayoritas dilakukan melalui transfer bank dan kartu kredit/debit online.
Barang-barang yang diperdagangkan di lapak-lapak online pun ditengarai masih didominasi oleh barang-barang impor.

Lebih dari 50% barang-barang berasal dari impor dan sebagian kecilnya merupakan produk lokal. Produk/jenis barang yang dibanyak diminati oleh masyarakat Indonesia antara lain Pakaian (45,8%), Aksesoris (10,9%), Sepatu (6,7%), Tiket Perjalanan (4,7%) dan Handphone (4,6%), Busana Muslim (3,5%), Kosmetik (3,5%), Aksesoris elektronik (3,3%), lainnya (17%).

Pemanfaatan platform e-commerce oleh UMKM masih sangat potensial namun penyebarannya belum merata. Volume dan nominal transaksi e-commerce masih didominasi oleh beberapa daerah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, D.I. Yogyakarta. Sementara itu, penjual e-commerce mayoritas masih berdomisili di Pulau Jawa.

Dengan demikian, pemanfaatan e-commerce di Aceh merupakan hal yang wajib dilakukan secara konsisten, mengingat Aceh memiliki potensi ekonomi di bidang fashion muslim dan wisata halal. (Adv)