Mengupas Esensi Halalbihalal dalam Berbagai Perspektif

0

UMAT Islam pasca bulan Ramadhan kembali bertemu dengan Hari Raya Idul Fitri. Salah satu tradisi masyarakat Indonesia yang menarik dalam perayaan Idul Fitri ini acara tersebut dikenal dengan halal bihalal.

Masyarakat Indonesia walaupun di luar negeri tradisi Halal bihalal ini sudah lazim dilakukan apalagi di nusantara ini dilaksanakan di lingkungan gampong, kantor ataupun instansi resmi pemerintah. Bentuk kegiatan ini biasanya diadakan pasca beberapa hari setelah Idul Fitri, berupa kumpul bersama untuk bersilaturrahmi dan saling bermaaf-maafan satu sama lain.

Sejarah Lahirnya Istilah “Halalbihalal”

Halal Bihalal ini merupakan salah satu warisan ulama NU yang dicetus KH AbduL Wahab Hasbullah atas permintaan Presiden Sukarno ketika itu. Sebagaimana dituturkan oleh KH Fuad Hasyim (alm) dari Buntet Cirebon, penggagas istilah halal bi halal ini adalah KH Abdul Wahab Hasbullah, seorang ulama besar Indonesia yang karismatik dan berpandangan modern, hidup pada masa penjajahan dan masa-masa awal Negara Indonesia.

Setelah Negara Indonesia merdeka pada tahun 1945, Indonesia menghadapi babak baru dalam menghadapi masalah pasca kemerdekaan. Pada tahun 1948 Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa, di mana para elit politik saling bertengkar, sementara pemberontakan mulai terjadi di mana-mana.

Pada pertengahan bulan Ramadhan tahun 1948, Presiden Soekarno memanggil KH Wahab Hasbullah ke istana negara. Beliau dimintai saran agar Bung Karno dapat menyelesaikan situasi pelik dari politik di Indonesia saat itu. Kiai Wahab mengusulkan agar Bung Karno mengadakan acara silaturrahmi antar elit politik, karena sebentar lagi adalah hari raya Idul Fitri di mana umat islam disunnahkan untuk bersilaturrahmi.

“Silaturrahmi kan sudah biasa, saya ingin (istilah) yang lain.” Jawab Bung Karno.

Kiai Wahab lalu menjawab, “Itu gampang. Begini, para elit politik tidak mau bersatu itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa, dan dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah ‘halal bi halal’.”

Saran Kiai Wahab tersebut kemudian diamini oleh Bung Karno, sehingga pada Hari Raya Idul Fitri saat itu beliau mengundang semua tokoh elit politik untuk datang ke istana menghadiri acara silaturrahmi bertajuk halal bi halal. Dari situ kemudian para elit politik dapat kembali berkumpul dan duduk dalam satu meja untuk kembali menyusun kekuatan dan persatuan bangsa

Makna Halalbihalal dalam Beberapa Perspektif

Sebagaimana kita ketahui bahwa Halal Bihalal merupakan khazanah keislaman milik bangsa Indonesia. Istilah itu memang khas Indonesia. Bahkan boleh jadi pengertiannya akan kabur di kalangan bukan bangsa Indonesia, walaupun mungkin yang bersangkutan paham ajaran agama dan bahasa Arab.

Mengapa? Karena istilah tersebut juga muncul secara historis dan filosofis oleh salah seorang Pendiri NU Kiai Abdul Wahab Chasbullah untuk menyatukan bangsa Indonesia yang sedang dilanda konflik saudara sehingga harus menyajikan bungkus baru yang menarik agar mereka mau berkumpul dan menyatu saling maaf-memaafkan.

Terkait dengan makna yang terkandung dalam istilah halal bihalal, Pakar Tafsir Al-Qur’an Prof Dr Muhammad Quraish Shihab dalam karyanya Membumikan Al-Qur’an (1999) menjelaskan sejumlah aspek untuk memahami istilah yang digagas Kiai Wahab Chasbullah tersebut.

Pertama, dari segi hukum fiqih. Halal yang oleh para ulama dipertentangkan dengan kata haram, apabila diucapkan dalam konteks halal bihalal akan memberikan kesan bahwa mereka yang melakukannya akan terbebas dari dosa.

Dengan demikian, halal bihalal menurut tinjauan hukum fiqih menjadikan sikap kita yang tadinya haram atau yang tadinya berdosa menjadi halal atau tidak berdosa lagi. Ini tentu baru tercapai apabila persyaratan lain yang ditetapkan oleh hukum terpenuhi oleh pelaku halal bihalal, seperti secara lapang dada saling maaf-memaafkan. 

Quraish Shihab tidak memahami kata halal dalam istilah khas Indonesia itu (halal bihalal), dengan pengertian atau tinjauan hukum. Sebab, pengertian hukum tidak mendukung terciptanya hubungan harmonis antar-sesama.

Kedua, tinjauan bahasa atau linguistik. Kata halal dari segi bahasa terambil dari kata halla atau halala yang mempunyai berbagai bentuk dan makna sesuai rangkaian kalimatnya. Makna-makna tersebut antara lain, menyelesaikan problem atau kesulitan atau meluruskan benang kusut atau mencairkan yang membeku atau melepaskan ikatan yang membelenggu. 

Penulisan yang Benar Halalbihalal atau Halal Bihalal

Istilah halalbihalal berasal dari bahasa Arab. Akan tetapi, sebenarnya dalam bahasa Arab istilah tersebut tidak digunakan. Halalbihalal tidak bisa diartikan secara harfiah, misalnya (1) halal, (2) bi yang artinya ‘dengan’, dan (3) halal sehingga dimaknai ‘halal dengan halal’ atau ‘boleh dengan boleh’. Dengan demikian karena ketiga unsur tersebut dianggap sebagai satu kepaduan, penulisan unsur-unsurnya harus dirangkai atau digabung. Jadi, penulisan yang benar adalah halalbihalal, bukan halal bihalal atau halal bilhalal

Sementara itu halalbihalal jika dilihat makna kata halal, bisa ditelusuri keterkaitannya dengan kata tersebut. Kata halal berasal dari kata halla yang dalam bahasaArab memiliki tiga makna, yakni (1) halla al-habl yang artinya ‘benang kusut terurai kembali’, (2) halla al-maa’ yang artinya ‘air keruh diendapkan’, dan (3) halla as-syai yang artinya ‘halal sesuatu’. Dengan memperhatikan ketiga makna tersebut, dapat ditarik pengertian atau benang merah bahwa kekusutan, kekeruhan, dan kesalahan yang selama ini dilakukan seseorang kepada orang lain dapat dihalalkan kembali. Dengan begitu, semua kekusutan, kekeruhan, dan kesalahan tersebut akan lebur dan kembali seperti keadaan semula.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi IV (2008:476), halalbihalal didefinisikan sebagai ‘hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa, biasanya diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dsb.) oleh sekelompok orang’. Berdasarkan definisi tersebut, halalbihalal dapat dimaknai sebagai suatu kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama sesudah bulan puasa Ramadan dalam suasana Idulfitri pada bulan Syawal dengan tujuan sebagai media untuk saling bermaafan sesama muslim dan orang yang hadir dalam acara tersebut supaya segala kesalahan yang telah dilakukan dapat dimaafkan. 

Makna Halal bi halal dalam Tinjauan Al-Quran dan Hadist

Selain itu, di dalam Al-Quran juga disebutkan tentang betapa pentingnya makna halal bi halal dengan menjaga silaturahmi dan saling bermaafan. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Al-A’raf ayat 199 dan surat Ar-Ra’du ayat 21.

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh” (QS. Al-A’raf:199)

“Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah swt perintahkan supaya dihubungkan (Yaitu mengadakan hubungan silaturahim dan tali persaudaraan).” (QS. Ar Ra’du : 21)

Jika kita memahami kata halal bihalal dari tinjauan kebahasaan ini, seorang akan memahami tujuan menyambung apa-apa yang tadinya putus menjadi tersambung kembali. Hal ini dimungkinkan jika para pelaku menginginkan halal bihalal sebagai instrumen silaturahim untuk saling maaf-memaafkan sehingga seseorang menemukan hakikat Idul Fitri.

Dari mana mulanya istilah halalbihalal? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), halalbihalal berarti ‘hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan, biasanya diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dan sebagainya) oleh sekelompok orang.’ Halalbihalal sepadan maknanya dengan silaturahim.

Ungkapan halalbihalal berasal dari kalimat berbahasa Arab, halalun bi halalin. Artinya, ‘saling menghalalkan.’ Maknanya, seseorang yang melakukan halalbihalal ingin menyampaikan kepada orang lain kira-kira sebagai berikut. “Kesalahan Anda atas saya sudah saya halalkan sehingga tidak ada lagi salah Anda kepada saya. Karena itu, harapan saya demikian adanya agar kesalahan saya mohon dimaafkan.”

Anjuran untuk melakukan Halal Bihalal juga ada diungkapkan dalam hadist. Hadisnya adalah sebagai berikut.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ رواه البخاري.

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang mempunyai tanggungan kepada saudaranya baik berupa harta benda atau sesuatu yang lainnya, maka mintalah halal darinya hari ini juga, sebelum dinar dan dirham tidak berlaku lagi, jika tidak maka ketahuilah bahwa orang yang punya tanggungan pada orang dan belum terselesaikan di dunia, maka di hari hisab  kebaikannya diberikan pada orang yang didzalimi di dunia, jika amal baiknya habis, maka amal buruk orang yang didzaliminya dilimpahkan padanya. HR. Al-Bukhari.

Di dalam hadis tersebut, Nabi saw. sangat jelas bersabda “Falyatahallalhu/ maka mintalah halal kepadanya”. Beliau memerintahkan kepada kita agar segera meminta halal kepada saudara kita atas segala barang, tindakan, perilaku, atau ucapan yang tidak berkenan kepada sesama saudara kita.

Mungkin kita pernah menggunakan barang saudara kita atau memiliki tanggungan hutang kepada saudara kita, maka segeralah clear kan dengannya. Bayarlah hutang Anda. Atau tanggungan berupa pernah menyakiti hati saudara kita, maka segeralah minta halal kepada mereka dengan cara meminta maaf.

Mengapa demikian? Di dalam hadis tersebut, Nabi saw. menyebutkan sebelum semuanya terlambat. Karena di akhirat atau hari Kiamat nanti, kita tidak lagi mampu membayar hutang kita kepada saudara kita, karena mata uang sudah tidak lagi berlaku. Permintaan maaf atas segala hal yang pernah kita lakukan kepada sesama saudara kita pun sudah terlambat, karena di hari Kiamat, yang berlaku hanyalah pembalasan.

Beranjak dari penjelasan diatas, mari kita saling menebarkan kebaikan dan memaafkan orang lain, namun juga berbuat baik terhadap orang yang melakukan kesalahan kepadanya. Oleh karena itu, makna halal bi halal yang sebenarnya adalah menyambungkan hubungan yang putus, mewujudkan keharmonisan dari sebuah konflik, serta berbuat baik secara berkelanjutan. Jadi halal bi halal tidak hanya sekedar saling memaafkan saja, namun juga menciptakan kondisi persatuan. Halal bi halal buka hanya sekadar ritual keagamaan, tapi juga merupakan tradisi kemanusiaan dan kebangsaan yang baik demi hari esok yang lebih baik hatta akhirat nantinya.

***Helmi Abu Bakar Ellangkawi, dikutip dari beberapa sumber termasuk nu online dan lainnya.