Masyarakat Aceh Menolak Wahabi Intoleran, Kenapa?

0

MESJID Oman pusat wahabisasi, Aceh. Semua dedangkot Wahaby dan yang berafiliasi dengan Wahaby diundang ke mesjid itu. Diantaranya, Zulkarnain Sanusi, Firanda Andirja, Mursalli dan Arif.

Ohya, kalangan hampa (tidak tahu duduk perkara) atau aswabi (aswaja campur wahabi), ketika kita bilang Mesjid Oman pusat Wahaby ada yang marah. Malah balik menyerang.

“Mereka jamaah hampa dan aswabi bilang, apa salah mereka?.”
Mereka rajin jamaah, urus mesjid bersih, rapih, rajin i’tikaf, nyunnah bukan pelaku bid’ah dst..

Lalu akhirnya mengklaim kaum dayah intoleran, dengan menjustifikasi Firanda mengajar di mesjid Nabawi. Kenapa Aceh ditolak?

Sebenarnya, Wahabi yang Intoleran, ketika diusir, bilang, ini dakwah sunnah kok dicegat.

Padahal mereka sudah mengambil alih tugas tugas Tuhan, dengan memvonis muslim ahli surga dan ahli neraka.

Sekedar analogi sederhana, Yahudi juga menguasai Aqsa, muslim Palestina terkadang mesti izin terlebih dahulu ke Pemerintah Israel untuk bisa beribadah.

Jadi, bukan patokan benar dan salah bagi orang yang berada di al haramain.

Begini saja, agar fair, kami ikut manhaj saudi saja dalam pelarangan perkembangan aliran fikih dan aqidah selain mazhab resmi kerajaan.

Di Saudi, di Bandara saja di razia buku-buku bacaan yang bertentangan dengan mazhab kerajaan. Di antara yang disita kitab Tasauf, Ihya Ulumiddin, Karya Imam Alghazali.
Bukankah itu pengekangan dan pengkerdilan ilmu pengetahuan?

Nah, di Aceh dan Indonesia yang mayoritas bermazhab Fikih Syafi’i, Aqidah Asy’ary dan Tasauf Alghazali sudah wajar dan pantas menolak faham yang bertentangan dengan mazhab resmi pemerintah.

Itu reaksi dari kelancangan kalian yang setiap pengajian menyesatkan imam dan mazhab ibadah kami?

Kalau begini, siapa yang intoleran?

Aqidah dan mazhab tuan rumah diinjak-injak, ketika dibuat perlawanan, dengan cerobah bilang, kaum pelawan dakwah sunnah, syiah kalian. Hehehe. Sunnah dari Hongkong kali?

Karena mereka tiap kesempatan menyesatkan dan memfonis muslim sesat dan masuk neraka.

Akhirnya, apresiasi yang tinggi kepada Majlis Permusyarawatan Ulama (MPU) dan Wali Kota Banda Aceh yang telah mengambil sikap tegas atas polemik agama dengan cepat. Karena jika wahabi takfiri dibiarkan berkembang di Banda Aceh maka akan terjadi pertumpahan darah.

Wassalam,
***Tgk. Mustafa Husen Woyla, Ulama Muda dan Singa Muda Aswaja Aceh