Tgk. Abdul Wahab PUSA dan Tgk Abdul Wahab Ruhul Fata, Siapakah Sosok Tokoh Seulimeum Ini? (3)

0

SEBAGIAN orang memandang sejarah itu tidak terlalu penting sehingga para generasi muda penerus sekarang banyak yang mengabaikan sejarah bahkan tidak ingin tahu sejarah endatu. Padahal sejarah itu sangat penting. Siklus kehidupan didunia terkadang alur fenomena yang terjadi sering sama namun dilakoni oleh aktor yang berbeda sesuai dengan zamannya.

Mereka yang tahu dan memahami sejarah fenomena yang terjadi di jagad raya ini perbedaannya terletak pada pemain. Terkadang sebagian kita tidak teliti dalam memahami sejarah. Umpamanya saat disebutkan Tgk. Abdul Wahab Seulimum salah seorang ulama PUSA, mereka beranggapan ia adalah Tgk. Abdul Wahab Seulimeum pimpinan dan pendiri Dayah Ruhul Fata Seulimeum ayahandanya Abon Seulimeum. Padahal jauh sangat beda bahkan kontradiksi dalam banyak hal termasuk pemahaman keagamaan dan lainnya.

Tgk. H. Abdul Wahab Seulimeum atau akrab disapa Abu Wahab Seulimeum merupakan ulama tarekat dan Salafiah Aceh yang masih berpegang kepada manhaj dayah tradisional pada umumnya dan lulusan Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga. Sedangkan Tgk Abdul Wahab Seulimeum satu lagi yang pernah menjadi Bupati Pidie itu berpaham pembaharuan dalam bahasa ekstrimnya dikenal dengan “Wahabi”. Ia sealiran dengan Tgk. Daud Beureueh, Ali Hasymy, Said Abu Bakar dan lainnya serta tokoh utama ulama yang tergabung dalam PUSA.
.

Biografi Allahuyarham Syaikhuna Abu Wahab Seulimeum pendiri Dayah Darul Fata Seulimeum telah kita kupas pada edisi sebelumnya. Demi mengantisipasi kesalahan pahaman sebagian generasi kita terhadap sejarah, berikut kita paparkan biografi singkat Tgk. Abdul Wahab Seulimum PUSA.

Teungku Abdul Wahab Seulimeum PUSA

Teungku Abdul Wahab yang lahir pada tahun 1898 merupakan anak dari seorang kepala kampung (Geuchik) Buga, Kecamatan Seulimuem, Aceh Besar. Sebagai anak yang terlahir pada masa perjuangan melawan Belanda, Teungku Abdul Wahab berkarakter tegas, berani, jujur serta sangat benci terhadap sifat kepenjajahan.

Teungku Abdul Wahab menempuh pendidikan pertama pada Governement inlands cheschool di Seulimuem mulai tahun 1913. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan pada sebuah Dayah terkenal, yaitu Dayah Jeureula di Kecamatan Sukamakmur, Aceh Besar. Di Dayah ini ia belajar dari tahun 1913 hingga tahun 1925. Selama pendidikan di Dayah, ia banyak belajar bahasa Arab, Fiqih, Tasauf, Tauhid, Sejarah, Hadis dan Tafsir.

Setelah lama belajar di Dayah, sekitar 12 tahun, ia di nyatakan selesai studinya dan mendap. Dalam tkan Ijazah untuk mendirikan tempat pendidikan baru atau Dayah.

Pembaharuan Sistem Pendidikan

Cita-citanya untuk membangun sebuah pendidikan dan mengembangkan Ilmu pengetahuan yang sudah di perolehnya untuk di sebarkan kepada orang lain menjadi kenyataan. Pada tahun 1926, ia mendirikan sebuah Dayah, Dayah tersebut di beri nama Madrasah Najdilah bertempat di Kenaloi, Kecamatan Seulimuem, Aceh Besar.

Seperti halnya sebuah Dayah, selain empunyai balai ruang belajar, ia juga mempunyai musala (meunasah) dan rangkang-rangkang (asrama) bagi para siswa yang belajar di Dayah tersebut. Dalam waktu yang relatif singkat,Madrasah Najdila telah mempunya bayak siswa yang datang dari seluruh Aceh.

Pembaharuan sistem pendidikan Islam sudah lama ia fikikan bahkan ketika masih belajar di Dayah. Cita-cita itu kemudian ia wujudkan dalam bentuk nyata, ia merubah namaMadrasah Najdilah menjadi perguruan Islam disesuaikan dengan sistem pendidikan Perguruan Thawalib di Sumatera Barat.

Dayah Kenaloi termasuk Dayah yang mempelopori pembaharuan sistem pendidikan di Aceh. Di bawah pimpinan Teungku Abdul Wahab, segera merubah sistem pendidikan tradisional menjadi sistem sekolah/madrasah dengan menggunakan meja dan bangku, meskipun pada awalnya dari bahan-bahan yang sangat sederhana. Perguruan Islam ini terdiri dari dua tingkat, yaitu tingkat Ibtidaiyah (Sekolah Dasar Islam) dan Tsanawiyah (Sekolah Menengah Islam). .

Guru yang mengajar di perguruan Islam pada mulanya adalah Teungku Muhammad Ali Ibrahim sebagai kepala sekolah dan Ali Hasjmy sebagai guru. Namun, mereka kemudian melanjutkan studi ke Sumatera Barat dan setelah belajar disana kembali lagi ke dayah tersebut, yaitu pada perguruan Thawalib Parabek dan pergguruan Thawalib di Padang Panjang. Ali Hasjmy kemudian melanjutkan lagi pendidikannya ke Al-Jamiah Al-Islamiyah di padang. Setelah selesai belajar, mereka kembali ke Aceh dan mengajar di perguruan Islam ini.

Selain kedua orang itu, ada lagi para pelajar lain, ysitu Said Abu Bakar (lulusan Thawalib Padang Panjang dan Al-Jamiah Al-Islamiyah Padang), dan Ahmad Abdullah (lulusan Normal Islam Padanag). Dengan empat orang pengajar itu, yang di pimpin oleh Teungku Abdul Wahab, Perguruan Islam Seulimum mencapai kemajuan yang sangat pesat sehingga menjadi salah satu Madrasah yang sangat terkenal pada waktu iatu. .

Teungku Abdul Wahab dan PUSA

Rasa kebenciannya kepada Kolonal Belanda sangat tinggi bahkan ketika masih belajar di Dayah Jeureula, ia sudah bercita-cita untuk mengusirpenjajahan Belanda. .

Pada waktu Persatuan ‘Ulama Seluruh Aceh (PUSA) di bentuk pada tahun 1939, Teungku Abdul Wahab terpilih menjadi salah satu pengurus pusat PUSA. Di samping menjadi pengurus pusat, Teungku Abdul Wahab, juga merangkap menjadi ketua umum Pusa Aceh Besar, Ali Hasjmy dan Ahmad Abdullah sebagai pimpinan pemuda PUSA dan Kepanduan Islam Aceh Besar.

Gerakan Fujiwa-Kikan
Markas perlawanan rakyat di pindahan dari Keunaloi ke Dataco, sekitar 15 Km ke Selatan Kota Seulimuem . Teungku Abdul Wahab sebagai pimpinan dan Ali Hasjmy ikut pindah, sedangkan Ahmad Abdullah di tugaskan ke Samalanga untuk melakukan gerakan di daerah tersebut, sementara Said Abu Bakar bergerak dari kampung ke kampung dalam membangkitkan semangat rakyat menentan kekuasaan Belanda di Aceh.

Tgk. Abdul Wahab mempelopori lahirnya Gerakan Fujiwara-Kikan. Ini merupakan sebagai salah satu gerakan perlawanan terhadap kekuasaan Belanda bertujuan memuluskan pendaratan Jepang tahun 1942 di Aceh. Gerakan itu kemudian menyebar keseluruh daerah Aceh. .

Setelah Jepang mendarat beberapa bulan di Aceh pemimpin PUSA dan pemuda PUSA, mengadakan perundingan rahasia untuk menilai politik Jepang. Hasil dari perundingan itu, mereka berpendapat bahwa Jepang sama saja dengan Belanda, yaitu sama-sama penjajah dan menindas rakyat. Oleh karena itu muncul ungkapan dalam bahasa Aceh “Tapeucrok bui, Jitamoeng asee”,. Akibat bocornya rahasia itu,  sejumlah pemmpin PUSA dan pemuda PUSA di tangkap oleh polisi Jepang. Di antara yang di tangkap itu adalah Teyngku Abdul Wahab.

Bupati Pidie
Setelah melalui masa perjuangan panjang melawan Belanda dan Jepang kini Teungku Abdul Wahab diangkat menjadi Bupati Pidie pada tanggal 1 Mei 1946. Waktu itu, daerah ini masih dianggap sebagai daerah yang paling berat menjalani tugas bagi seorang Pamong Praja. Namun, Teungku Abdul Wahab selaku bupati saat itu dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Selain berkedudukan sebagai Bupati Pidie, Teungku Abdul Wahab pernah pula diangkat menjadi Kepala Jawatan Agama Sumatera Utara. Pada bulan juli 1953, ia menunaikan ibadah haji dan tinggal di Mekkah selama tiga tahun. Selama berada di Saudi Arabia, ia diperbantukan pada Kedutaan Besar Republik Indonesia. Sekitar tahun 1955, ia kembali ke Indonesia dan ditempatkan di Jakarta sebagai pegawai tinggi pada Dpartemen Agama Republik Indonesia.

Berdasarkan penjelasan diatas jelaslah perbedaan Tgk. Abdul Wahab Seulimeum PUSA (Tgk. Abdul Wahab PUSA) dengan Tgk. H Abdul Wahab Seulimeum (Abu Seulimeum). Abu Seulimuem mempunyai banyak keturunan yang juga menjadi ulama dan pimpinan dayah bahkan menjadi politisi termasuk menjabat sebagai wakil bupati, diantaranya Abon Seulimeum (Pimpinan Dayah), Waled Husaini (Ulama/Wakil Bupati, Tgk. Muhibussabri, Aba Muksalmina dan lainnya. Setidaknya uraian singkat diatas menjadi pegangan untuk lebih mengenal sosok kedua putra Seulimeum tersebut yang telah berkontribusi untuk negeri ini dan selanjutnya kita menghindari dari kesalahan dalam memahami siapa itu Tgk. Abdul Wahab PUSA dengan Tgk. H. Abdul Wahab Seulimeum (Abu Seulimeum). Semoga…!!!

Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq

***Helmi Abu Bakar Ellangkawi, Penggiat Literasi Dayah MUDI Samalanga, Dikutib dari beberapa sumber.