4 Pemateri Seminar Internasional di STAI Pante Kulu Sepakat Ekonomi Syariah

0

* Di Aceh Minim Sosialiasi

BANDA ACEH | LA – Jurusan Hukum Ekonomi Syariah (HES) Tgk Chiek Pante Kulu bekerjasama dengan Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) mengadakan seminar internasional dengan tema “Peluang dan Tantangan Pengembangan Ekonomi Syariah di Aceh”

Acara seminar tersebut berlangsung di Aula Kampus Pante Kulu, Rabu, 28 November 2018.

Tgk Jamaluddin Thaib, MA selaku Ketua STAI Pante Kulu dalam sambutannya menyampaikan, acara ini merupakan salah satu sarana penting dalam pengembangan kampus ke depan, dan juga untuk penguatan kapasitas mahasiswa dari sisi ekonomi syariah

“Diharapkan bahwa Hukum Ekonomi Syariah (HES) ke depan tidak hanya  dapat kerja di perbankan dan berbagai Bank,  tapi lebih dari itu. Alumni  juga ahli dan menjadi pakar dalam Perbankan Syariah,”  Papar Tgk Jamaluddin yang juga selaku Sekum Ikatan Alumni Sarjana Dayah (ISAD) Aceh.

Syaikh Ayyub Azhary Al-Jazairy alumni Universitas Al Azhar, Kairo dari Aljir – Aljazair dalam pemaparan materinya menyampaikan, Rasulullah SAW diutus di antaranya untuk membersihkan praktik ribawi yang sudah sangat mendarah daging kala itu.

“Namun anehnya, muslim di abad modern ini lebih ribawi dari masa jahiliyah dulu, itu yang saya lihat di Aljazair, Mesir dan sekitarnya,”katanya.

Walaupun disepakati riba haram secara ijma’ ulama, namun perkembangan ribawi cukup luar biasa pesat di negera – negara mayoritas muslim.

Kita lihat kehidupan sekarang, muslim membeli kenderaan, rumah, perabotan sampai pakaian pun dengan kredit ribawi. Padahal, Allah sudah jelaskan “Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba” (al Baqarah : 275)

“Karena dalam Riba ada unsur tipuan nyata, misal, ambil sepuluh bayar dua belas,  itu jelas tipuan, bukan pertolongan. Sebagaimana hadist rasulullah SAW

“Bukan dari kami siapa yang menipu.” HR. Abu Daud.” Terang Syaikh Ayyub dengan nada kesal.

Sementara itu, Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, S.E, Ak, M.M juga ketua umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Aceh, fokus pada Pemberantasan rentenir kapitalis kuadrat di Wilayah otoritas-nya.

Dengan visi misi utama Kota Gemilang “Meningkatkan pelaksanaan syariat islam dalam bidang penguatan aqidah, akhlak, ibadah, muamalah dan syiar islam.”

“Oleh karena itu, kami  fokus pada membangun keuangan syariah dengan mendirikan Lembaga Keuangan Mikro Syariah, PT Mahirah Muamalah Syariah. Tujuannya hanya satu, menghancurkan rentenir yang suku bunganya mencapai 5 % /hari,” terangnya

Ia juga berharap seluruh Aceh ada lembaga keuangan semisal Mahirah.

“Selaku ketua MES Aceh akan membantu mempermudah izin lembaga syariah. Juga membantu tentang sosialiasi ekonomi syariah kepada warga,” terangnya

Sementara H Musannif Sanusi, SE selaku pimpinan DPRA, komisi VII menjelaskan tentang tantangan Ekonomi Syariah di Aceh, Diantaranya, Dinas Syariat Islam bermodal 5 % APBA tidak mensosialisasikan manfaat ekonomi syariah non ribawi. Juga Mudharat Ekonomi berbasis konvensional.

“Jadi, tugas Dinas Syariat Islam bukan hanya bagi-bagi alat pengeras suara mesjid dan meunasah saja. Coba kita lihat masa orde baru, Seoharto mensosialiasikan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi,” tegas Musannif.

Oleh karena itu  perlu koordinasi dan sinergisitas mulai Pemerintah, lembaga pendidikan, lembaga perbankan, ulama dan da’i untuk mengedukasi akan pentingnya muamalah umat sesuai syariah.

Hampir senada juga disampaikan oleh Dr Sabri Abd Majid, M. Ec  Fakustas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-raniry.

Acara itu dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya, Ketua Yayasan Tgk Chiek Pante Kulu, Fachrurrazi Zamzami SE MBA, T Hanansyah SE Ak CA. CRBD, Direktur Mahirah Muamalah Syariah Banda Aceh dan Dr Yusran Hadi, MA.

Juga dihadiri 250 lebih, yang terdiri dari mahasiswa, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), dosen, da’i dan masyarakat umum.