Rekonsiliasi dalam Secangkir Kopi dan Seuntai Senyuman

0

MANUSIA sebagai khalifah al-ardhi dalam berinteraksi satu sama lainnya,tentu saja etika dan norma sangat harus di kedepankan. Di samping itu Islam juga mengajarkan estetika yang juga tidak kalah pentingnya sebagai pernik-pernik dan warna kehidupan.

Membingkai etika dan estetika dalam sebuah wadah yang bernama ibadah juga di tuntut  dapat di aplikasikan dalam setiap sendi kehidupan. Nilai ibadah itu tidak lebih selain positif dan negatif. Hal kecil saja yang bernilai ibadah sering kita lupakan, sebut saja senyuman.

Dalam perspektif Islam, sebuah senyuman yang dihadirkan dikala bertemu sapa terhadap orang lain dan  dilakukan secara sangat  ikhlas, tentu saja akan berinvestasi sebagai sebuah sedekah. 

Lahirnya senyuman akan  membuat hati orang yang bertemu dan memandangnya menjadi senang, bahagia dan penuh persaudaraan serta kedamaian. Itulah sebabnya nilai senyuman merupakan ibadah termurah dan dapat direalisasikan di mana saja tanpa harus mengedepankan.

Namun sayangnya dalam kehidupan sehari hari dalam masyarakat, senyuman itu laksana sebuah permata  yang mahal dan gunung yang besar sangat terbeban untuk menanggungnya. Sunguh sangat ironis dan riskan.

Telah disebutkan Dalam literature sejarah, baginda nabi Muhammad SAW selalu menganjurkan kita untuk selalu bersedekah setiap hari, yaitu mulai terbitnya sang surya sampai terbenamnya matahari. Material bersedekah itu jangan dibayangkan hanya fulus, money, dan sejenisnya. Lantas bagaimana baginda nabi Saw menanggapinya?

Diceritakan dahalu, terdapat salah seorang sahabat Rasulullah yang tidak memiliki apa-apa untuk disedekahkan bertanya kepada Beliau, “Jika Kami ingin bersedekah, namun kami tidak memiliki apa pun, lalu apa yang bisa kami sedekahkan dan bagaimana kami menyedekahkannya?”.

Kemudian Rasulullah SAW menjawab, “Senyum kalian bagi saudaranya adalah sedekah, beramal makruf dan nahi mungkar yang kalian lakukan untuk saudaranya juga sedekah, dan kalian menunjukkan jalan bagi seseorang yang tersesat juga sedekah.” (H.R. Tirmizi dan Abu Dzar).

Di samping itu, berbagi fenomena dan kejadian yang terjadi dalam masyarakat tentunya ada solusinya tersendiri. Musyawarah dengan kepala yang dingin terlebih dengan secangkir kopi kebersamaan tentunya seberapa besarnya problem bisa dituntaskan terlebih diiringi senyuman indah kebersamaan.

Kita sangat berharap Biarkan fenomena itu terjawab sesuai kemaslahatan dan kebaikan bersama. Kopi dengan secangkir air bercampur gula dan warnanya yang asli tetap akan menunjukkan identitasnya dimanapun berada dan dimensi waktu, sang minuman kegemeran sufi itu akan selalu istiqamah dengan warna yang hitam namun mampu memberikan sejuta kebahagian dan harapan serta mampu mencairkan sesuana kala ada gesekan-gesekan yang menghiasi khalifah di jagat raya ini.

Inovasi dan ide barupun bahkan multi fenomena dan problema, tentunya dengan secangkir kopi, senyuman kebahagiaan dan kebersamaan dalam semeja beraura wasyawirhum mampu memberikan sejuta ide dan solusi yang terbaik.

Sekali lagi indahnya “rekonsilisasi” kebersamaan walaupun perbedaan tetap menghiasi dan mendominasi, apabila secangkir kopi dan senyuman tidak mampu memberikan sebutir nasehat dalam kebersamaan, gula, air dan kopi yang jelas berbeda namun tetap akan bersatu dalam seduhan secangkir kebersamaan, masihkah kita ego dan sombong? Mari pungut pahala dan kita raih hari esok yang lebih baik.

***Helmi Abu Bakar Ellangkawi, Penggiat Literasi asal MUDI Samalanga