Wow, Ternyata Jomblo itu Indah dan Berpahala

0
Kumpulan Jomblowan idaman Sang Jomblowati. (HAB/LA)

ZAMAN NOW istilah “Jomblo” dalam berbagai konteks pembicaraan, bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan, tapi bisa juga sebagai sesuatu yang menyakitkan.

Jika jomblo itu dinikmati, kesendirian dijalani sebagai suatu hal yang membahagiakan, maka jomblo bisa jadi sebagai suatu anugerah. Tapi jika jomblo itu masih dijalani dalam usia yang tak lagi muda, maka jomblo bisa jadi bahan ejekan.

Status jomblo itu bisa jadi menyenangkan atau menyakitkan tergantung bagaimana kita mengelolanya. Jika usia tak lagi muda, sementara teman sebaya sudah menggandeng istri dan menggendong anak, maka bisa jadi istilah jomblo berubah menjadi “laki-laki yang tak laku-laku”

Kalau ingin jadi jomblo jadilah Jomsabil (Jomblo Fi Sabilillah), Sosok Jomsabil itu mereka yang tak punya pacar atau belum menikah, dikarenakan sibuk dengan kegiatan menuntut ilmu

Jomsabil itu sibuknya mengabdi dan menikmati keasyikannya belajar sampai-sampai lupa memikirkan bahwa dirinya masih jomblo dan sudah seharusnya memiliki pasangan hidup.

Bisa pula sosok jomblo jenis ini terpatri dalam jiwanya bahwa menganggap cita-cita yang harus diraih setinggi mungkin lewat pendidikan dan mengabdi kepada agama lebih utama daripada sekadar memikirkan pasangan.

Status jomblo terhadap penuntut ilmu untuk terus menjadi Jomlis biarkan waktu yang menjawab teka teki itu dan biarkan indah pada waktunya serta jangan buang waktu yang tidak berfaidah.

“Fadhilah” Berjomblo

Khusus buat seorang muslim dan muslimah, jomblo itu ‘pilihan’. Kenapa? Karena dalam Islam, dengan jomblo hidup akan terasa lebih berkah dari menjerumuskan diri dengan dunia pacaran. Ini dia beberapa kelebihan dan manfaat jomblo bagi kaum Muslimin:

Kumpulan Jomblowan idaman Sang Jomblowati. (HAB/LA)

Pertama,Terhindar dari berbagai bentuk “maksiat”

Pacaran banyak menimbulkan mudhorot, terutama dalam hal ini. Salah satu cara mendekati zina itu dengan pacaran. Berkhalwat (berdua – duaan) di tempat yang sepi dan gelap, menyentuh, memandang, bergandengan tangan, mencium, memeluk, bahkan bisa lebih dari itu. Jikalau iman tak kuat, sudah pasti terjerumus kedalam lembah kehinaan, baik di mata manusia maupun di mata Allah Sang Maha Pencipta. Kalau masih ragu dengan keadaan imannya, mendingan jauhin dulu yang namanya “pacaran”, pikirkan bagaimana caranya menyudahi itu dengan “menikah”. Tentunya menikah adalah pilihan yang terhormat.

Kedua, Lebih fokus dalam beribadah

Ada yang berkata “mau cari penyemangat, biar makin rajin sholatnya, biar makin kuat ibadahnya “Wooow” ibadah ko riya’, penyemangat itu timbul dari hati nurani sendiri. Kita rajin ibadah karena mengumpulkan bekal, tiada yang tahu kapan ajal datang. Ko cari penyemangat ibadah dengan pacaran. Kalau jomblo, sudah pasti tidak ada yang menggangu saat mau beribadah. Waktunya shalat dhuhur tidak sibuk nungguin pacar pulang kerja, mau shalat Magrib tidak di tunda-tunda karena lagi dinner sama pacar, mau shalat shubuh tidak kesiangan karena semalaman habis bergadang telfonan dan ciutan via medsos menyelesaikan masalah.

Ketiga,Lebih menyehatkan tubuh

Bagaimana tubuh tidak sehat, jomblo kan bisa mengatur waktu istirahat. Kalau pacaran bisanya mau makan saja harus ditunggu diperhatikan dan bla,bla,bla, tentunya waktunya istirahat sibuk jalan-jalan, telfonan, isak tangis karena masalah tidak clear. Jadi gaes, pikiran jadi terganggu, emosi jadi meningkat, walhasil bro, bobot tubuh jadi menurun dan rentan penyakitan.

Keempat, lebih menghemat “Pengeluaran”

Isi dompet para jomblo biasanya jarang terkuras dengan hal-hal yang tidak penting. Coba bayangin kalau pacaran, belum bensin, bayarin makan, beliin sesuatu, kado tiap bulannya, pulsa non stop, paket internetan dan semua itu berlaku hampir tiap hari bro, kalau begitu lebih baik segera menikah, agar semua pengorbanan itu terbayar dengan “pahala”. “Jadi jomblo itu lebih hemat”

Kelima, Pikiran lebih tenang dan Fresh

Fresh dan tenangnya pikiran karena tidak terlalu memikirkan seseorang yang masih dalam perjalanan pulang dari suatu tempat, tidak memikirkan si “dia” yang selalu berbohong dibalik keluguannya, tidak sibuk mencari alasan saat datang tidak tepat waktu, tidak takut disakiti, tidak harus menelan kekecewaan, tidak harus berpura-pura menjadi yang dia mau, dan alasan-alasan lain yang menyebabkan pikiran jadi tidak tenang bro. Jomblo akan lebih fresh dan tenang dengan segudang masalah percintaan.

Santri itu Lebih baik Berjomblo?

Dalam literatur sejarah tidak juga ulama yang tidak menikah demi dakwah dan pengembangan ilmunya. Syaikh ‘Abd al-Fattah Abu Ghuddah, mengkompilasi beberapa profil ulama-ulama yang membujang sampai akhir hayatnya dalam buku berjudul al-‘Ulamaa al-‘Uzzaab alladziina Aatsaru al-‘Ilma ‘an al-Ziwaaj (Ulama yang Membujang: Mereka Yang Mendahulukan Ilmu dibandingkan Menikah).

Seperti judulnya, ulama yang dikumpulkan di dalamnya merupakan ulama hebat di masanya. Namun kesibukan mereka dengan ilmu dan kesabaran mereka untuk tidak menikah, membuat mereka memilih untuk tidak berpasangan meskipun ia mengetahui hukum-hukumnya. Menurut Syaikh Abu Ghuddah, pilihan mereka adalah hasil bashirah (pandangan spiritual) dan mereka tidak berusaha mengajak orang lain agar sama dengan mereka. (al-‘Ulama al-‘Uzzab: 10).

Walhasil, menikah memang sangat baik bahkan bisa menjadi wajib jika tidak menikah ia akan membahayakan orang lain. Orang yang menunda dan mempersulit pernikahan ditegur Nabi Saw. sebagai orang yang menyebarkan fitnah (bencana, kerusakan sosial) bagi masyarakat. Namun, Nabi Saw. tidak mencela pilihan untuk tidak menikah selama itu tidak menimbulkan kemudharatan baru atau bahkan merusak orang lain.

Berdasarkan dari hal tersebut, ada juga ulama yang tidak berkeluarga sampai akhir hayatnya. Bahkan, beberapa ulama menyarankan agar seorang penuntut ilmu sebaiknya mengubur keinginannya menikah di usia muda. Misalnya Ibn al-Jawzi yang mengatakan,

وَأختار للمبتديء في طلب العلم أن يدافع النكاح ما أمكن، فإن أحمد ين حنبل لم يتزوج حتّى تمت له أربعون سنة، وهذا لأجل جمع الهم – أي للعلم -.

“Saya memilih (pendapat) bagi pelajar tingkat awal untuk menghalau keinginannya untuk menikah sebisa mungkin. Sesungguhnya Imam Ahmad bin Hanbal tidak menikah sampai berusia empat puluh tahun. Itu semua demi mengumpulkan ilmu”.

Sumber: dihimpun dan dikutip dari berbagai referensi