Meraih Keberkahan Ilmu di Dayah

0
Santri MUDI Mesjid Raya Samalanga Kelas 3B letting Waled Zulfadli Landeng bersama almarhum Tgk. Abdi Mukasaf saat berfoto bersama era tahun awal 2000 di pelabuhan Ulee Lheu, Banda Aceh.

DAYAH merupakan Lembaga pendidikan yang tertua di dunia ini.Dalam khazanah dayah (pesantren) banyak hal yang dipercaya sebagai faktor “X” atau yang sering diasumsikan sebagai hal di luar nalar, yang salah satunya adalah disebut dengan barakah atau berkah.

Dalam pengertian umum, barakah bisa diartikan dengan “ziyaadatul khair” (bertambahnya kebaikan). Bertambahnya kebaikan atau keberkahan dalam hidup bisa berupa banyak hal. Namun acap kali makna barakah itu dipersempit hanya sesuai dengan apa yang diinginkan, sehingga parameter yang dipakai dalam mengukur berkah atau tidaknya sesuatu adalah yang bersifat kuantitas.

Ruang lingkup barakah tidaklah sebatas pada soal hal cukup dan mencukupi, banyak tidaknya sesuatu, tapi lebih dari itu barakah adalah meningkatnya ketaatan seseorang kepada Allah pada segala keadaan yang ada, baik di saat berlimpah atau sebaliknya. “Albarakatu tuziidukum fi tha’ah” (barakah ialah yang menambah taatmu kepada Allah).

Barakah bukanlah ketika dagangan yang laku keras dan banyak keuntungan finansial yang didapat. Dagangan yang selalu rugi terkadang bisa menghantarkan seseorang untuk lebih istiqamah dalam menghambakan diri kepada Allah.

Ilmu yang barakah bukanlah yang banyak riwayat dan catatan kakinya, bukan yang banyak prestasi akademisnya. Tapi ilmu yang mampu menjadikan seorang meneteskan keringat dan darahnya dalam beramal dan berjuang di jalan Allah, yang mampu menghantarkan seseorang untuk semakin takut kepada Allah dan semakin mendekat diri kepadaNya.

Banyak kisah santri yang di saat masih mondok di dayah termasuk terbelakang dalam keilmuan, kurang pandai, namun tetap tekun belajar, ber-akhlaqul karimah dan istiqamah mengabdi kepada gurunya. Ketika tiba saatnya santri tersebut pulang dan terjun di tengah masyarakat justru menjadi orang yang berhasil.

Ilmu yang saat di dayah tidak dipahami olehnya, ketika sudah dibutuhkan ternyata mampu ia sampaikan dengan jelas dan lancar. Inilah mungkin yang dalam istilah santri dengan meminjam istilah tasawuf disebut sebagai “Al-futuh” (terbukanya pemahaman melalui hati).

Santri MUDI Mesjid Raya Samalanga Kelas 3B letting Waled Zulfadli Landeng bersama almarhum Tgk. Abdi Mukasaf saat berfoto bersama era tahun awal 2000 di pelabuhan Ulee Lheu, Banda Aceh.

Kini banyak orang berilmu, namun  banyak pula yang kurang memberi manfaat hidupnya, baik bagi dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Ini karena ilmunya kurang barokah. Karenanya, seorang murid atau santri mesti mengutamakan serta merawat keberkahan ilmu,

Salah satu upaya untuk mendapatkan keberkahan ilmu, tambahnya, adalah dengan menghormati guru (guree) yang menjadi perantara aliran ilmu Allah. Dari sinilah karakter adab seorang murid atau santri teruji.

Menghormati di sini dalam rangka mendapatkan barakahnya guru atau kiai kita. Guru atau kiai pasti mendoakan murid atau santrinya. Ketika doa guru dan murid sudah bersinergi, Insyaallah keberkahan ilmu terkristal dengan sendirinya.

Syariat Islam tersebut menambahkan, keberkahan ilmu itu tidak ada bukunya, tidak ada tokonya, apalagi pasarnya. Sedangkan ilmu ada bukunya, ada tokonya (institusinya). Sementara البركة تؤتى ولا تاءتي; barakah itu harus  dicari, tidak cukup dengan belajar. Tapi, juga dengan cara berkhidmat (mengabdi) dan hormat kepada pengajar ilmu (kiai atau guru).

Beranjak dari itu marilah kita meraih keberkahan ilmu dengan berbagai cara seperti yang telah dilakoni dan diteladani para ulama dan assabiqul awwalun. Keberkahan ilmu merupakan pintu menuju sa’adah daraini (kebahagiaan dunia -akhirat).

***Helmi Abu Bakar el-Lamkawi, Penggiat Literasi asal Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga. Sumber: NUonline dan lainnya.