Paska 14 Tahun MOU Helsingki, Azhari T.Ahmadi: Aceh Harus Perbaiki Kualitas Pendidikan

0
Azhari T Ahmadi

LHOKSEUMAWE.LA – Anggota DPRK Lhokseumawe  terpilih dari Partai Aceh pada Pemilu lalu, Azhari T Ahmadi mengatakan, tepat tanggal 15 Agustus 2019 empat belas tahun yang lalu di Kota Helsinki Finlandia terjadi peristiwa penting dalam kehidupan orang Aceh . Pada saat itu terjadi penandatanganan MoU (Moratorium of Understanding) antara pihak Aceh Merdeka (AM) dengan pemerintahan Indonesia.

“Yang paling penting adalah pendidikan dikarenakan itulah landasan utama dalam membangun sebuah perubahan yang signifikan, pendidikan merupakan masalah yang sangat krusial dalam membentuk generasi-generasi tangguh Aceh di masa yang akan datang”. Demikian disampaikan Azhari T Ahmadi dalam pers release ke media ini, Kamis (15/8/2019).

Sebagaimana diketahui sebelumnya,  tambah Azhari, selama lebih 30 tahun Aceh konflik dengan pemerintahan Indonesia. Selama itu,  masyarakat Aceh terutama di daerah kantong-kantong konflik  seperti hidup tidak menentu.  Serba salah karena terjepit diantara dua kubu yang sangat berseberangan.  Tak jarang, tanpa diduga-duga, tiba-tiba terdengar suara rentetan tembakan lalu mereka harus menyelamatkan diri.

Oleh karena itu ketika peristiwa penandatangan MoU yang dimotori oleh sebuah organisasi di bawah pimpinan Martti Ahtisaari Crisis Management Initiative (CMI) disambut gembira oleh seluruh masyarakat Aceh. Meskipun pada saat itu, banyak yang menanggapi dingin Sebab sebelumnya pada masa permerintahan Megawati Soekarno Putri pernah diadakan perundingan serupa. Tetapi pada saat itu gagal total. Bahkan konflik bersenjata semakin tajam antara GAM dan Pemerintahan RI.

Tanpa terasa tanggal 15 Agustus 2019 ini, urainya lagi, peristiwa penting itu sudah berlalu selama 14 tahun. setelah itu Ada beberapa hal penting yang perlu dicermati berkaitan dengan 14 tahun sudah berlangsungnya perdamaian di Aceh yaitu masalah keamanan, ekonomi, sosial politik dan pendidikan.

Azhari T Ahmadi salah satu tokoh masyarakat sekaligus anggota   dewan terpilih dari Partai Aceh pada pemilu yang lalu, menegaskan yang paling penting adalah pendidikan .

Karena pendidikan itulah landasan utama dalam membangun sebuah perubahan yang signifikan, pendidikan merupakan masalah yang sangat krusial dalam membentuk generasi-generasi tangguh Aceh di masa yang akan datang.

Membicarakan pendidikan berarti membicarakan kualitas. Secara kualitas pendidikan di Aceh selama ini juga sangat tidak menggembirakan.  Masih di bawah rata-rata provinsi lain. Namun,  dana yang diplotkan untuk pendidikan Aceh juga  begitu wah.  Tahun 2014 saja dana pendidikan di Aceh untuk meningkatkan mutu mencapai 300 miliar. Tetapi hasil yang diperoleh tidak maksimal. Dilihat dari segi kelulusan UN Aceh masih berada pada tingkatan bawah Lalu kemana uang sebanyak itu” ungkap Azhari dalam release persnya.

Dikatakannya,  kemudian dari segi kesadaran jiwa-jiwa muda dan masyarakat pada umumnya dalam hal produktif dia nilai masih kurang, padahal lahan dan sebagainya banyak yang kosong serta waktu luang yang bisa di manfaatkan, saat ini Kita banyak menjumpai warung kopi yang selalu di penuhi oleh generasi muda dan masyarakat biasa dari pagi hingga malam, Ini merupakan sebuah titik penilaian dari karakter generasi mendatang,saya rasa untuk sekedar berbicara saja tidak cukup untuk menyadarkan generasi dan masyarakat tapi juga di perlukan aksi nyata agar terinspirasi.

“Masa depan Aceh, adalah diskursus penting dalam menentukan arah peradaban Aceh kedepan”  tandasnya.

“Berbicara masa depan Aceh, maka disini perlu kiranya kembali kita kutip paragraph akhir proklamasi kemerdekaan yang disusun Hasan Tiro, untuk memperjelas bagaimana narasi Aceh kosmopolit yang di bangunnya :

Alasan kita adalah keadilan! Tanah air kita diberkati Allah SWT dengan rahmat dan karunia. Kita tidak mendambakan wilayah orang asing. Kita berhasrat menjadi penyumbang berharga bagi kesejahteraan manusia diseluruh dunia. Kita mendambakan tangan-tangan persahabatan dari seluruh komunitas bangsa-bangsa. Kita mengulurkan tangan persahabatan kepada semua manusia dan semua pemerintahan dari empat penjuru dunia (Proklamasi kemerdekaan Acheh-Sumatera

Alinea ini adalah cita-cita, spirit dan fondasi Aceh masa depan, yang harus mampu diwujudkan dalam damai Aceh hari ini, tutup Azhari T Ahmadi.(R/Ks).