Urgensi Niat dalam Menuntut Ilmu

0

PERSOALAAN mencari dan menuntut ilmu merupakan sebuah perkara yang di wajibkan dalam Islam. Kemajuan dan pengembangan syariat juga dipengaruhi dengan adanya Ta’limul ilmi (menuntut ilmu). Walaupun kini di era industri 4.0 bangsa-bangsa di dunia sedang berlomba dalam pengembangan berbagai teknologi strategis.

Dampak perkembangan teknologi ini menyebabkan kompetisi perekonomian menjadi makin tajam dan melebar. Persaingan makin melebar karena cepatnya perkembangan teknologi informasi dan transportasi yang menyebabkan makin mudahnya bagi negara-negara untuk mengakses infromasi bisnis, industri dan teknologi.

Namun mencari dan menuntut ilmu tentunya sesuai dengan zamannya, tetapi esensi ketakdhiman terhadap ahli ilmu demi meraih keberkahan ilmu tidak boleh terlintas waktu dan di abaikan begitu saja biarpun dunia telah canggih dan modern.

Salah satu persoalan yang sangat sakral dan penting yang harus di perhatikan oleh seorang thalib (pelajar) pertama kali nya sebelum melangkah untuk menuntut ilmu hendaknya berusaha selalu mengikhlaskan niat. Keberadaan niat merupakan gambaran dan langkah awal dalam memulai semua pekerjaan termasuk menuntut ilmu.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadist “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana dia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits).

Berdasarkan hadist diatas sangat kontras disebutkan bahwa niat itu fak¬tor penentu sebuah amalan dan bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Ilmu yang kita pelajari merupakan sebagai ibadah, amalan yang mu¬lia, maka di sini tentunya butuh niat yang ikhlas dalam menekuni dan menjalaninya.

Amalan dan pekerjaan dengan pondasi utama keikhlasan itu sangat penting sebagaimana di sebutkan dalam Al-Quran, berbunyi:”.. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…” (QS. al-Bayyinah [98]: 5).

Mempertegas ungkapan di atas bahkan Rasulullah SAW mencela mereka yang menunntut ilmu hanya demi kebanggaan untuk memamerkan kepandaian dan membantah orang awam (bodoh) bukan demi sebuah keikhlasan dalam menegakkan dan mensyiarkan dinul islam. Ini di ungkapkan oleh baginda nabi dalam sabda-Nya:”Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk membantah orang bodoh, atau berbangga di hadapan ulama atau mencari perhatian manusia, maka dia masuk neraka. (HR. Ibnu Majah 253).

Bahkan para pendahulu kitapun mengakui keberkahan ilmu itu dengan tanpa keikhlasan akan lari dan hilang serta tidak akan singgah kepada thalibul ilmi (penuntut ilmu). Ungkapan ini sebagaimana di katakan oleh Imam ad-Daruqutni: “Dahulu kami menuntut ilmu untuk selain Allah, akan tetapi ilmu itu enggan kecuali untuk Allah.” (Tadzkiratus Sami hal. 47).

Penjelasan ini di dukung pula oleh perkataan Imam Syaukani, beliau menyebutkan kewajiban perdana terhadap seorang penuntut ilmu (thalibul ilmi) dengan meluruskan niatnya. Hendaklah yang tergambar dari perkara yang dia kehendaki adalah syariat Allah, yang dengannya diturunkan para Rasul dan al-Kitab.
Begitu juga penuntut ilmu membersihkan dirinya terhadap tujuan duniawi atau karena ingin mencapai kemuliaan, kepemimpinan dan Iain-lain. Ilmu ini mulia, tidak menerima selainnya.”(kitab Adabut Thalab wa Muntaha al-Arab: 21).

Beranjak dari itu biarkan dunia dan teknologi telah meraih kecanggihan dalam perkembangannya, namun resensi meraih keberkahan ilmu termasuk urgensi niat menuntut ilmu lillahi ta’ala tidak boleh tergilas era. Laksana ikan dalam lautan, biarpun air asin, namun ikan tetap menjadi dirinya tidak terpengaruh dengan kondisi air laut. Mari kita raih keberkahan dalam menuntut ilmu demi kebaikan bersama dunia dan akhirat.

***Helmi Abu Bakar El-lamkawi, Penggiat Literasi asal Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, Bireuen.