Kekuatan Senyuman Sang Guru

0

Mengupas dunia pendidikan tidak terlepas peran guru dan murid. Seorang murid berkewajiban menghormati gurunya dan ini merupakan jalan meraih keberkahan ilmu. Banyak jalan menggapai hal tersebut termasuk membahagiakan guru via senyuman.

Senyuman guru akan membangkitkan semangat anak didik dalam belajar karena ketika guru tersenyum maka berarti dirinya menyapa anak didik dengan sapaan yang indah dan memesona sebagai bentuk kecintaan suci yang membahagiakan. Dengan demikian, ada kekuatan penyemangat bagi anak didik dalam menapaki skenario pembelajaran.

Senyuman guru akan melahirkan rasa optimis dalam diri anak didik karena ketika guru tersenyum dan senyuman itu mengalir dalam diri anak didik, maka ada kekuatan luar biasa yang dirasakan anak didik.

Senyuman guru sebagai dorongan yang kuat pada anak didik untuk selalu optimis dalam melangkah meraih cita-cita . Anak didik semakin optimis karena mereka berjuang tidak sendirian tapi bersama guru yang mencintai dirinya.

Guru yang bahagia adalah guru yang terus memperkaya ilmu pengetahuannya. Dengan demikian ia dapat mengkreasikan metode mengajar, sehingga para murid dapat dengan mudah menyerap ilmu pengetahuan yang ia sampaikan. Semakin luas ilmu yang ia miliki, semakin mudah baginya mengubah kesulitan hidup menjadi anugrah yang membahagiakan.

Seorang guru bahagia, karena kehidupannya berjalan seimbang. Keseimbangan tersebut dikarenakan ia mampu memanajemen waktu. Ia dapat menggunakan waktu secara efektif dan proprosional untuk diri sendiri, keluarga, profesi, kegiatan sosial, belajar dan beribadah.

Sumber kebahagiaan seorang guru berasal dari dalam dirinya sendiri. Ia bahagia ketika mampu menginspirasikan harapan, kebahagiaan, kekuatan sekaligus nilai-nilai moralitas kepada generasi masa depan. Ia akan lebih bahagia jika para anak didik itu mampu melakukan hal serupa dengan dirinya.

Senyuman juga merupakan implementasi akhlakul karimah. Salah satu kunci kesuksesan terletak di bidang akhlakul karimah. Begitu akhlak kita terhadap guru (muallim). 

Seberapa besar engkau berakhlak kepada gurumu maka sebesar itu kau akan mendapatkan al futuh (Keberkahan lewat wasilah guru) ” Bagaimana engkau memandang gurumu..??

Menjawab fenomena ini, salah seorang ulama tasawuf ternama Imam Ali bin Hasan al Aththas mengatakan : Memperoleh ilmu, futuh dan cahaya (maksudnya terbukanya hijab2 batinnya), sesuai kadar adabmu bersama gurumu. Kadar besarnya gurumu di hatimu, maka demikian pula kadar besarnya dirimu di sisi Allah tanpa ragu .(Kitab al Manhaj as Sawiy : 217).

Kisah yang mengharukan lainnya dialami oleh Imam Nawawi ketika hendak belajar kepada gurunya, beliau selalu bersedekah di perjalanan dan berdoa, Ya Allah, tutuplah dariku kekurangan guruku, hingga mataku tidak melihat kekurangannya dan tidak seorangpun yg menyampaikan kekurangan guruku kepadaku. (Kitab Lawaqih al Anwaar al Qudsiyyah : 155).

Bahkan dalan hal ini, Beliau pernah mengatakan dalam kitab At Tahdzibnya : Durhaka kepada orang tua dosanya bisa hapus oleh taubat, tapi durhaka kepada guru mu tidak ada satupun yg dapat menghapusnya.

Beranjak dari itu mari kita raih keberkahan ilmu bersama sang guru dan terus menebarkan kebaikan serta perbaikan.

**Helmi Abu Bakar El-Lamkawi, Guru MUDI Samalanga

¹