Raihlah Kelebihan Shalat Dhuha, Sudahkan Anda Mengerjakannya?

0
Para santri Dayah MUDI Masjid Raya Samalanga di dalam Masjid Po Teumeuruhom sesaat pasca Shalat Maghrib berjmaah. (HAB-LA).

SHALAT merupakan sebagai tiang agama. Syariat Islam menyeru kepada umatnya untuk tidak meninggalkan shalat lima waktu. Namun ibadah shalat sunat lainnya juga tidak boleh dialpakan. Salah satu shalat sunat yang dianjurkan oleh Rasulullah Saw berupa sembahyang dhuha. Shalat ini dikenal sebagai ibadah untuk mempermudah pintu rezeki. 

Ibadah yang dikerjakan di waktu pagi ini sekitar matahari naik. Walaupun shalat ini sunat namun mempunyai hikmah yang sangat besar sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist qudsi :” Allah SWT berfirman wahai anak Adam sekali-kali jangan kamu malas melakukan empat rakaat shalat dhuha, sebab dengan shalat itu, saya cukupkan kebutuhan kamu di waktu sore harinya.” (HR. Hakim dan Tabrani).

Dalam hadist yang lain disebutkan sesorang bahwa yang mengerjakan  shalat dhuha akan diampunkan dosa walaupun kesalahannya laksana buih dilautan, berlandaskan hadist nabi berbunyi: “Seseorang masih berdiam diri dimesjid atau di mushallanya sesudah shalat subuh dan disebabkan ingin beriktikaf, berzikir dan mengerjakan dua rakaat sembahyang dhuha di iringi tidak berbicara sesuatu apapun melainkan kebaikan,maka segala dosanya akan diampunkan meskipun sebanyak buih di lautan” HR. Abu Daud).

Kapan Waktu Terbaik Dhuha?

Imam al-Ghazali menyebutkan dalam kitabnya Ihya Ulumiddin, bahwa waktu salat Dhuha dimulai sejak naiknya matahari dan berakhir sebelum waktu zuhur tiba ketika matahari sudah mulai tergelincir. Dari keseluruhan waktu tersebut, kita dianjurkan melaksanakan salat Dhuha, baik di awal pagi hari ketika matahari sudah mulai naik maupun setelahnya sampai sebelum waktu salat Zuhur tiba.

Dikisahkan oleh Sayyidina Ali bahwa Nabi Saw. pernah suatu ketika melaksanakan salat Dhuha enam rakaat dalam waktu dua kali, yaitu dua rakaat ketika matahari sudah mulai naik dan empat rakaat ketika matahari sudah panas. Dari kedua waktu tersebut, maka waktu terbaik untuk melaksanakan salat Dhuha adalah ketika matahari sudah terasa panas. Hal ini sebagaimana hadis riwayat Imam Muslim;

أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنَ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلاَةَ فِى غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ. إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

“Zaid bin Arqam melihat sekelompok orang melaksanakan salat Dhuha, lantas ia mengatakan, ‘Mereka mungkin tidak mengetahui bahwa selain waktu yang mereka kerjakan saat ini, ada yang lebih utama. Rasulullah Saw. bersabda, “Salat awwabin (shalat Dhuha) yaitu ketika anak unta merasakan terik matahari.”

Lebih lanjut, Imam Al Ghazali menjelaskan bahwa salat Dhuha sebaiknya dilaksanakan di waktu terbaik, yaitu ketika matahari sudah melewati seperempat hari atau pertengahan antara terbit matahari dan waktu zuhur.

ويكون الضحى على منتصف ما بين طلوع الشمس الى الزوال كما أن العصر على منتصف ما بين الزوال الى الغروب وهذا افضل الاوقات

“Salat Dhuha sebaiknya dilakukan pada pertengahan waktu antara terbitnya matahari dan waktu zuhur, seperti halnya salat Asar dilakukan antara waktu zuhur dan terbenamnya matahari. Dan ini (pertengahan waktu antara terbitnya matahari dan waktu zuhur) adalah waktu terbaik.”

Dari penjelasan di atas, maka waktu terbaik melakukan salat Dhuha adalah ketika matahari mulai terasa panas, atau sekitar jam 9 pagi. (Bincangsyariah.com, 13 Oktober 2019)

Kasih sayang Allah SWT kepada manusia itu tidak pernah pilih kasih dan dibatasi oleh apapun. Ar-rahman dan Arrahim selalu hadir kepada hamba Allah seluruhnya, namun yang membedakan hanya sifat Ar-Rahim Allah akan di rasakan oleh manusia pilihan Allah yang berstatus mukmin nanti di hari kemudian (akhirat). Sebab itulah ibadah harus dijadikan sebagai menu utama yang tidak boleh luput dalam kehidupan dan perjalanan hidup sosok makhluk yang bernama manusia.

Hewan tumbuhan dan malaikatpun mereka tanpa hentinya dan mengalpakan dirinya untukselalu menghadirkan ismillah (nama Allah) lewat zikrullah setiap waktu dan kesempatan, mereka itu bukanlah ciptaan pada maqam ahsani taqwim (sebaik-baik ciptaan), namun manusia bertitelkan sebagai makhluk ahsani taqwim sebagai makhluk sempurna dengan di anugerahi akal untuk berpikir malah lalai dalam berzikrillah, layakkah demikian?

Seorang yang makan nasi namun tanpa dibarengi dengan lauk dan pauk seakan terasa hambar begitu juga hidup di dunia ini tanpa dihiasi dengan ibadah akan terasa lebih dari itu, penyesalan pasti selalu datang terlambat dan tidak mungkin hari kemarin akan kita putar lembali untuk di replay kembali pada hari ini. Kita tidak boleh menyerah dengan keadaan dan malas melakukan berbagai macam aktifitas yang berorientasi ibadah yang bermuara untuk akhirat.

Wallahu ‘Allam Bishawab

Helmi Abu Bakar El-Lamkawi Penggiat Literasi Asal MUDI Mesjid Raya Samalanga