Abati : Esensi Hijrah dengan Menuntut Ilmu dan Hiasilah Asyura dengan Ibadah

0

ACEH TIMUR I LA– Bulan Muharam merupakan momen yang sangat penting bagi umat Islam. Fenomena ini merupakan peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah Islam, yaitu hijrahnya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah dan di dalam bulan tersebut terdapat satu hari bersejarah dan mempunyai banyak kelebihan yang disebut dengan hari Asyura.

Sangat banyak hadist yang mengupas kelebihan hari Asyura terutaamatentang berpuasa sunat pada hari tersebut. Diantara hadist baginda nabi bunyinya: “Aku tidak pernah mendapati Rasulullah SAW menjaga puasa suatu hari karena keutamaannya dibandingkan hari-hari yang lain kecuali hari ini yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan.” (HR Muslim).

Demikian diantara poin nasehat yang disampaikan Tgk. Fakhruddin Laweung atau akrab disapa Abati dalam ceramah agama menyambut tahun baru Islam momentum hari Asyura di MAN Insan Cendekia, Aceh Timur, Senin, (malam Selasa), 9 September 2019

Pimpinan Nurul Huda.Gp Paya Demam Lhee Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur menyebutkan pernah pada suatu ketika bahwa Nabi Muhammad Saw ditanya tentang ‘Asyura’ , beliau menjawab ‘Asyura’ dapat melebur dosa-dosa yang telah lewat”. Juga diceritakan bahwa nabi Nuh as ketika kapalnya bersandar pada tanggal 10 Muharram, beliau berkata pada semua orang yang bersamanya ” Kumpulkanlah apapun yang tersisa dari perbekalan kalian ”.

” Kemudian ada yang membawa segenggam kacang, beras, gandum, biji ‘adas dan lainnya kemudian Nabi Nuh as berkata ” masaklah semuanya, kalian telah bergembira dengan keselamatan yang diperoleh ” maka dari itu para muslimin mengambil biji-bijian untuk dimasak dan pada hari itu adalah hari pertama memasak di bumi setelah terjadi banjir bandang yang menjadi adat bagi umat islam setiap datangnya bulan muharram tepatnya tanggal 10 muharram atau disebut ‘Asyura’ ” sambungnya yang pernah menyambung pendidikan Pascasarjana di Sudan itu.

Ulama muda Aceh Timur ini mengatakan Tradisi ini di Aceh dikenal dengan Bubur Asyura dan ini bukan bid’ah seperti yang didegungkan oleh tetangga sebelah namun ada referensi dan dalilnya.

” Banyak sekali sunat pada hari Asyura menurut Sebagian Ulama’ ,ada 12 amalan yang dilaksanakan pada hari tanggal 10 muharram ( ‘Asyura ) diantaranya, Shalat Tasbih, puasa, Bersedekah, Memberikan kemudahan atah kelonggaran pada keluarga, Mandi, Berziarah kepada orang ‘alim yang shaleh, menjenguk orang sakit, mengusap kepala anak yatim. Memakai celak,memotong kuku, Membaca surat Al Ikhlas 1000 kali ,” lanjutnya.

Abati dalam sejarah telah disebutkan dulunya masa Nuh semua binatang dan hewan di masukkan dalam perahunya, namun ada sesuatu yang terasa aneh, Nabi Nuh tidak berani menaikkan kambing sebab ada Harimau dan juga tidak berani dengan Kambing untuk dinaikkan ke perahu.

“Allah Swt menjawab fenomena itu dengan menegur Nuh disertai ungkapan bahwa diri-Nya yang menciptakan mereka bertengkar dan diri-Nya yang mendamaikannya,” ungkapnya

Abati dihadap penuntut ilmu tersebut juga menguraikan paparan tentang pentinya menuntut ilmu agama wajib hukumnya dan ummat Islam harus mempelajari ilmu agama, mulai dari anak usia dini, remaja, dewasa sampai berusia lanjut. Tidak mengenal profesi apapun baik dokter, professor, polisi, guru, pengacara, tukang bersih-bersih berapapun usianya apapun profesinya hukumnya wajib datang ke majlis – majlis ilmu untuk mempelajari ilmu agama.

” Dalam hal ini Nabi Shallahu alaihi wassalam mengatakan :”Barang siapa yang dikehendaki kebaikannya oleh Allah, Dia akan menjadikannya mengerti tentang (urusan) agamanya.” Oleh karena itu kita sebagai ummat Islam harus mengerti apa saja yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala perintahkan dan apa saja yang dilarang, mengetahui halal haramnya yang sudah Allah Ta’ala tentukan,” ulas alumni Dayah MUDI Samalanga ini.

Masih menurutnya, Allah Swt akan mengangkat derajat orang – orang yang berilmu, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” Menuntut ilmu agama dilakukan sampai seseorang masuk keliang lahatnya, karena semua urusan di muka bumi ini sudah di atur oleh Allah Swt, maka jangan sampai seseorang buta akan agamanya.

” Ketika diakhirat Allah Ta’ala menanyakan bagaimana shalat kita bagaimana tata cara shalat yang benar lalu kita menjawab tidak tahu bagaimana hukum dan caranya karena kita tidak mengerjakannya maka Allah akan hukum kita untuk masuk kedalam neraka. Berbeda dengan jika kita tidak mengetahui masalah- masalah dunia misalnya tentang membuat makanan yang enak atau apapun itu yang berhubungan dengan dunia maka itu tidak apa – apa,” ujarnya dengan menamsilkanya.

Terakhir Abati mengharapkan kepada pelajar untuk menghijrahka diri dalam menuntut ilmu dari kejahilan menuju berilmu setiap waktu dan kesempatan dan itulah esensi hijrah tanpa dibatasi limit dan “kuota”nya meraih hari esok yang lebih baik dalam ridha-Nya.