Abati Simpang Matang: Hujan Merupakan Rahmat, Tidak Boleh Mencacinya

0
63

BIREUN I LA– Allah Ta’ala menurunkan hujan, lewat hujan itulah Allah memberi kehidupan bagi tanah yang mati. Hujan merupakan rahmat yang dianugerahkan oleh Allah kepada penduduk bumi. Di dalam Al Quran banyak ayat yang menyeru kepada kita agar memperhatikan bahwa hujan berguna untuk menghidupkan negeri (tanah) yang mati.

“Selain tanah diberi air, yang merupakan kebutuhan mutlak bagi makhluk hidup, hujan juga berfungsi sebagai penyubur. Tetesan hujan, yang mencapai awan setelah sebelumnya menguap dari laut, mengandung zat-zat tertentu yang bisa memberi kesuburan pada tanah yang mati. Tetesan air yang “memberi kehidupan”.” kata Tgk. Marzuki Ali, M. Sos salah seorang tokoh pendidikan dan agama Bireun yang akrab disapa Abati Simpang Matang kepada liputanaceh.com, Kamis, (5/7/2018).

Abati menambahkan bahwa tetesan berisi “pupuk” ini naik ke langit dengan bantuan angin dan setelah beberapa waktu akan jatuh ke bumi sebagai tetesan hujan.

“Dari air hujan inilah, benih dan tumbuhan di bumi memperoleh berbagai garam logam dan unsur-unsur lain yang penting bagi pertumbuhan mereka dan alam semesta ini,” lanjut dosen IAI Al-Aziziyah Samalanga yang juga guru senior dayah MUDI Masjid Raya Samalanga itu.

Lebih lanjut Abati menyebutkan kita jangan sesekali mencela hujan! Sungguh sangat disayangkan apabila ini terjadi, setiap orang sudah mengetahui bahwa hujan merupakan nikmat dari Allah Ta’ala.

“Namun, ketika hujan dirasa mengganggu aktivitasnya, timbullah kata-kata celaan, ” ka di thoeh hujeun lom, that legei tueh” Bahkan ada yang sampai mengumpat. Na’uzubillah,” pintanya yang dikenal ahli supranatural itu.

Tokoh yang aktif di bidang dakwah itu menambahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menasehatkan kita agar jangan selalu menjadikan makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa sebagai kambing hitam jika kita mendapatkan sesuatu yang tidak kita sukai. Seperti beliau melarang kita mencela waktu dan angin karena kedua makhluk tersebut tidak dapat berbuat apa-apa.

“Kita harus mengingat pesan nabi dalam hadits qudsi,Rasulullah bersabda, Allah Ta’ala berfirman,“Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.”  tutup magister komunikasi IAIN Lhokseumawe yang berencana akan melanjutkan jenjang doktoral itu.