Al-Mursyid Abu Lueng Ie Sosok Ulama Ahli Banyak Bahasa Asing dan Singa Tarekat Naqsyabandiah Aceh

0

Bumi Aceh dalam sejarah terkenal daerah yang telah banyak melahirkan ulama dari masa ke masa dan tersebar ke nusantara bahkan dunia luar. Diantara sekian banyak ulama tersebut salah satunya Teungku H. Teuku Usman Al-Fauzi atau akrab di sapa Abu Lueng Ie.  Lembaran sejarah menyebutkan beliau sosok ulama kharismatik yang berasal dari keturunan terhormat, ampon.

Masyarakat menyebutnya ataupun sering disebut dengan Teuku. Dalam penelusuran catatan sejarah, Abu Lueng Ie lahir pada tahun 1921 M, tepatnya di Gampong Cot Cut, sebuah gampong yang berada dalam wilayah Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar.

Salah seorang putra beliau, Abon Tajuddin, menceritakan ayahanda beliau berasal dari kalangan Teuku sehingga pada masa kanak dan remaja mampu masuk sekolah favorit masa dulunya, sehingga wajarlah Al-Mukarram Abu Lueng Ie mampu banyak menguasai bahasa Asing baik Inggris dan lainnya.

Abu Lueng sebagai veteran pada masa penjajahan, tentunya beliau ketika masih muda bertugas dan mengawal para ulama di saat acara penting dan sakral. Saat Abuya menyampaikan tusyiah atau khutbahnya, Abu lueng melihat sosok Abuya yang sangat menakjubkan dan wajah beraura menarik hati untuk mengikuti beliau.

Keinginan untuk menuntut ilmu ke dayah terinspirasi dengan sosok Abuya Muda Waly dengan penampilan aura muka bercaya dan sangat bersahaja. Cita-cita dan keinginan untuk menuntut ilmu ke dayah pasca kejadian itu semakin meningkat frekwensinya.

Bahkan keinginan Abu Lueng Ie untuk belajar ke dayah Labuhan Haji sepertinya ikut terganjal. Setelah bermusyawarah dengan ibu, Abu tidak diizinkan untuk pergi jak beut sebagai putra semata wajang.

Biarpun beberapa kali diminta sang Ibupun tidak juga megiyakan permintaan Abu Lueng Ie, sampai akhirnya, Abuya pun telah mengambil sebuah sikap bahwa Abu Lieng Ie harus ikut Abuya Muda Waly untuk menuntut ilmu di dayah Labuhan Haji walaupun ibu tidak merestuinya.

Salah seorang guru senior dayah Darul Ulum, Amiruddin, juga menjelaskan bahwa Abu lueng Ie setelah menuntut ilmu di Labuhan Haji selama delapan tahun, kemudian beliau menjadi guru di dayah Kalee Pidie selama tiga tahun, selanjutnya menjadi guru di dayah Lam Ateuk. Namun itu tidak berlangsung lama karena keinginannya untuk mendirikan dayah yang diberi nama Darul ‘Ulum (Kampung Ilmu) sekitar tahun 1960, belakangan dikenal Darul ‘Ulum Abu Lueng.

Sejak berdiri dayah tersebut telah banyak mencetak ulama-ulama di sekitar dayah. Selain sebagai pimpinan dayah, Al-mukarram Abu Leung Ie juga sebagai Mursyid dalam thariqat naqsyabandiyyah yang perkembangan sangat mengembirakan dan sangat banyak pengikut tarekat tersebut di Aceh saat ini bahkan dunia. Hasil dari itu sehingga membuat beliau memiliki banyak murid dan pengikut hampir di setiap wilayah dalam kabupaten di propinsi paling ujung itu.

Tanpa terasa al-mukarram Abu Lueng Ie walaupun sudah puluhan tahun meninggalkan dunia fana ini, hari ini diperingati HAUL al-Mursyid  ke-26 (1992-2018), namun seolah beliau masih hidup dan rohaniahnya masih hadir menyapa rabitah para penemuh jalan sufi (salik) yang hari ini hadir walaupun tanpa di undang.

Tiada kata lain seindah menghadiah doa dan meminta magfirah untuk al-marhum dan berharap beliau selalu hadir untuk menyapa kita dalam rohaniahnya dalam menjemput ridha sang ilahi. Allahumagfiralhu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhum. Al-fatihah.

*Tgk. Helmi Abu Bakar el-langkawi
Jamaah Tarekat Naqsyabandiah dan Dewan Guru MUDI Masjid Raya Samalanga.