Apdesi Aceh Selatan Harap Penegak Hukum Menangkap Propokator dan Pelaku Pelaku Pengrusakan Kantor Keuchik, Begini Penjelasan Keuchik Silolo

0
Sekretaris Adepsi Kab Aceh Selatan, Syukran.

Tapaktuan | Liputanaceh.com – Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Kabupaten Aceh Selatan mengharapkan kepada Penegak Pukum (kepolisian) agar menangkap propokator dan  pelaku pengrusakan kantor Keuchik Gampong Silolo, Kec Pasie Raja, Kab. Aceh Selatan.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Adepsi Kab Aceh Selatan, Syukran, kepada pewarta media ini melalui telpon seluler, Senin (18/05/2020).

Menurut Syukran, aksi pengrusakan kantor Keuchik Silolo oleh massa yang terjadi pada hari Jum’at (15/5/2020) sore, tidak dapat dibenarkan secara hukum.

“Pengrusakan fasilitas negara (kantor Keuchik) itu tidak dapat dibenarkan, walaupun aparatur Pemerintah Gampong melakukan kesalahan, hendaknya dibicarakan baik-baik,  ditindaklanjuti sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku dan tidak melakukan perbuatan anarkis,” ujarnya.

Koondisi di dalam kantor Keuchik Gampong Silolo, Kec Pasie Raja setalh di rusak massa.

Jadi, lanjut Syukran, kami dari Adepsi Kab Aceh Selatan, mengharapkan kepada Polres Aceh Selatan, “Agar menangkap propokator dan pelaku pengrusakan kantor Keuchik Gampong Silolo tersebut,” katanya.

“Penegakan Hukum itu harus ditegakkan di Bumi Pala ini, maka kami harap pihak kepolisan agar mengusut kasus tersebut dengan setuntas-tuntasnya,” tegasnya.

Dikomfirmasi Secara terpisah, via ponsel, Keuchik Gampong Silolo, Ridwan, berterimakasih atas kepedulian Pihak Adepsi Aceh Selatan yang mendorong pihak kepolisian agar mengusut dengan tuntas insiden pengrusakan kantor Kecuhik Gampong Silolo, yang terjadi pada hari Jum’at pekan lalu.

Ridwan mengaku, insiden pengrusakan kantor Keuchik tersebut karena kekecewaan sebagian masyarakat terkait data penerima bantuan Bagi Masyarakat Terdampak Covid-19.

“Selain bangunan kantor, inventaris kantor Keuchik seperti, meja dan kursi banyak yang dirusak oleh massa, hanya arsip yang selamat dari amukan warga,” katanya.

Ridwan menjelaskan, kekecewaan warganya diawali sejak terbitnya data penerima bantuan pangan bagi masyarakat terdampak covid dari Provinsi Aceh. Karena hanya 1 keluarga di Gampong Silolo yang menerima bantuan tersebut.

Hal itu terjadi dikarenakan terlambatnya informasi yang diterima petugas pendataan di Gampong, hingga penginputan data secara online tidak dapat dilakukan.

Sedangkan untuk penerima bantuan pangan bagi masyarakat terdampak covid dari Kabupaten Aceh Selatan, informasi yang diterima oleh pihak desa dan petugas pendataan di Gampong Silolo, juga terlambat, yakni 1 hari menjelang batas waktu pelaporan data yang ditentukan oleh pihak pihak Kabupaten.

“Kami bekerja ekstra dari pagi sampai menjelang magrib, dapat menyelesaikan data calon penerima untuk diserahkan ke Kabupaten sebanyak 111 keluarga. Hanya saja data penerima bantuan yang dikeluarkan Dinas Sosial Kab Aceh Selatan sebanyak 105 keluarga,” terangnya.

Kemudian, masih diterangkan Ridwan, untuk data calon penerima Bantuan Sosial Tunai (BST), dari Kementerian Sosial RI, pihaknya menerima informasi untuk melakukan penginputan data calon penerima BST saat hari “meugang” (2 hari sebelum bulan masuk bulan Ramadhan).

Selanjutnya, Petugas Registrasi Gampong (PRG) kami, imbuh Ridwan, bersama PRG lainnya dipanggil ke Kantor Kecamatan Pasie Raja untuk melakukan pendataan calon penerima BST secara online, hingga sore.

Lalu, kata Ridwan, saat data BST keluar, informasi pertama yang diterima dari PRG, warga Gampong Silolo yang akan menerima BST sebanyak 101 keluarga. Kemudian waktu digelar pasar murah di kantor Kecamatan Pasie Raja, sekaligus penyerahan kartu penerima BST untuk warga Gampong Silolo menjadi 127 keluarga.

“Disitulah terjadi kekeliruan masyarakat, seakan-akan kami,  Keuchik dan Sekdes, melakukan penggelapan dengan menambah data untuk 26 keluarga,” kata Ridwan lagi.

Kondisi bagian luar kantor Keuchik Gampong Silolo, setelah terjadi pengrusakan oleh warga.

Ridwan mengungkapkan, data calon penerima BST yang diajukan untuk Gampong Silolo, tidak sesuai dengan data yang diterima pihaknya.

“Data yang kami ajukan sangat berbeda dengan dengan yang kami terima, itu bukan kami sengaja lakukan. Kalau gak salah, yang dikeluarkan oleh pusat itu data tahun 2014. Makanya banyak keluarga Perangkat Gampong, PNS dan penerima PKH, yang terdata sebagai penerima BST, termasuk istri saya dan istri Sekdes terdata, padahal tahun 2014 saya belum diangkat menjadi Keuchik, saya menjadi Keuchik tahun 2015, disitulah kesempatan propokator menghasut warga,” jelasnya.

Ridwan mengisahkan, jauh sebelum insiden pengrurasakan itu terjadi, saat data penerima bantuan dari Provinsi dan Kabupaten keluar, pihaknya beberapa kali menerima keluhan warga.

Pihaknya telah memberikan penjelasan mengapa bantuan yang diterima untuk Gampong Silolo demikian, juga menjelaskan kriteria yang berhak menerima dan yang tidak berhak menerima bantuan terdampak covid.

Kemudian, saat penyaluran BST,  ada oknum Tuha Peut berinisial (S), mengumumkan di Masjid agar semua masyarakat yang belum menerima BST dan Bantuan Terdampak Covid sebelumnya, datang ke kantor Camat membawa Kartu Keluarga (KK). Karena pada saat itu sedang dilakukan penyaluran BST senilai Rp 600.000,- per KK, oleh pihak Kantor Pos di Kantor Camat.

Dengan harapan warga yang tidak terdata tesebut, setibanya dikantor Camat, akan menerima BST senilai 600.000,- rupiah.

Akhirnya mereka yang tidak mempunyai kartu sebagai penerima BST, tidak dapat terlayani. Kemudian masyarakat merasa kecewa dan melampiaskan kemarahan di kantor Camat.

“Saat melampiaskan kemarahan di kantor Camat Pasie Raja tersebut, ada warga yang memukul  Wakil Ketua Tuha Peut,” ungkapnya.

Usai melampiaskan kemarahan di kantor Camat, kemudian warga yang masih marah, berbondong-bondong mendatangi Kantor Keuchik, lalu melampiaskan kemarahan dengan melakukan pengrusakan Kantor Keuchik.

Warga yang marah, masih menunggu dirinya datang ke kantor Keuchik. Saat tiba di kantor Keuchik warga yang melakukan tindakan anarkis berusaha menyerang Ridwan yang masih di dalam mobil, dalam pengamanan pihak kepolisian.

Berutung Ridwan tidak turun dari mobil, sehingga terhindar dari upaya pemukulan oleh warga yang kalap.

“Sayangnya anggota Polisi yang mengawal saya, sempat dipukul oleh warga, sendainya saya keluar dari mobil, mungkin mati saya dipukuli warga,” kata Ridwan.

Terkait siapa oknum propokator dan pelaku pengrusakan kantor Keuchik Silolo, Ridwan mengatakan mengetahui siapa orangnya.

“Saya tau betul siapa propokator dan pelaku pengrusakan kantor Keuchik waktu itu, kita serahkan saja penyidikan insiden tersebut kepada pihak kepolisian hingga tuntas,” demikian tutup Ridwan.