Aurat Perempuan Dalam Islam

0
36

Perempuan dalam perspektif agama Islam sangat di muliakan dan perhatian yang besar terhadap kaum hawa tersebut. Namun terkadang sebagian orang menganggap itu terlalu rumit dan mempersempit ruang gerak kaum perempuan. Salah satu diantaranya mengenai aurat.sepintas terlihat aurat perempuan itu terlalu ketat aturannya, padahal kalau di lihat secara kacamata agama dan  postif justru dengan ketatnya aturan tentang aurat dalam syariat agama Islam, semakin memberi sinyal bahwa perempuan itu sungguh besar perhatiannya dalam pandangan syariat.

Merespon hal tersebut dalam Islam persolaan aurat merupakan sesuatu hal yang sangat di perhatikan dalam syariat terutama kaum perempuannya. Menutup aurat berada pada posisi wajib. Hal ini sebagaimana di sebutkan dalam Al-Quran, berbunyi:”Katakanlah kepada perempuan yang beriman; Hendaklah mereka menahan pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, …” (QS. an-Nûr: 31).

Memperkuat argumen diatas, pada kesempatan yang lain di sebutkan dalam riwayatkan dari ‘Aisyah ra, bahwasanya Asma’ binti Abubakar telah masuk ke ruangan Nabi saw dengan berpakaian tipis atau transparan, lalu Rasulullah saw. berpaling seraya bersabda, “Wahai Asma sesungguhnya seorang perempuan itu apabila telah baligh (haidl) tidak pantas baginya untuk menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini.”

Berdasarkan dua dalil diatas, sangat jelas syariat Islam telah menggariskan aturan aurat perempuan. Bahkan dalam dalil lain di paparkan juga yang menunjukkan masalah ini , hadits tersebut berasal dari riwayat Usamah, bahwasanya ia ditanyai oleh Nabi saw tentang kain tipis. Usamah menjawab, bahwasanya ia telah mengenakannya terhadap isterinya, maka Rasulullah saw. bersabda kepadanya :“Suruhlah isterimu melilitkan di bagian dalam kain tipis, karena sesungguhnya aku khawatir kalau-kalau nampak lekuk tubuhnya

Batasan Aurat Perempuan

Berpijak dari pembahasan diatas, dapat disimpulkan urat perempuan itu disaat mereka di rumah sendirian, bersama bukan mahram dan lainnya berbeda satu sama lainnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Berikut uraiannya :

Pertama, Perempuan bersama lelaki lain : Menurut pendapat yang paling shahih seluruh tubuhnya hingga wajah dan kedua telapak tangannya, menurut pendapat yang lain wajah dan telapaknya boleh terbuka.

Kedua, Perempuan bersama suami : Tiada batasan aurat baginya saat bersama suami, semua bebas terbuka kecuali bagian fajr (alat kelamin perempuan) yang terjadi perbedaan pendapat di antara ulama

Ketiga, perempuan bersama lelaki mahramnya dan sesama perempuan : Auratnya diantara pusar dan lutut.Keempat, perempuan di dalam sembahyang: Seluruh tubuh menjadi auratnya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya.

Kelima, perempuan di saat sendiri : Menurut Imam Ramli dalam Kitab Nihaayah al-Muhtaaj aurat perempuan saat sendiri adalah ‘aurat kecil’ yaitu aurat yang wajib ditutup oleh seorang lelaki (antara pusar dan lutut)

Jelaslah dari uraian diatas bagaimana wilayah dan batasan aurat seorang perempuan dalam menjalani aktifitas sehari-hari. Setidaknya kupasan yang singkat ini menjadi pegangan kita dan keluarga serta masyarakat pada umumnya khusus kaum wanita dalam mengekspresikan dirinya mengenai batasan aurat.

Jagalah diri kita dan keluarga dari “pencuri”dan “rampasan” kehormatan istri dan anak perempuan lewat eksploitasi aurat yang kian merajela baik di dunia maya (duma) maupun dunia nyata (duta) dengan kecanggihan teknologi dan informasi. Semoga..!!!

BAGIKAN

KOMENTAR