Belajar Tidak Mengenal Waktu dan Pentingnya Muthala’ah

0
101

ISLAM SEBAGAI ad-din (agama) yang universal ajarannya. Memajukan Islam tentunya tidak terlepas dari peran dakwah dan pendidikan. Kini dunia terus berkembang dengan makin majunya teknologi dan informasi yang dikenal dengan era globalisasi. Imbas dari itu  kita dengan mudah mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang banyak hal, termasuk ilmu agama, dari internet dan lain misalnya.

Salah satu media dakwah dan pendidikannya telah lahir sejak zaman Rasulullah Saw hingga saat ini dan dikenal dengan dayah (zawiyah) atau pesantren. Berbicara dunia dayah tidak terlepas dari kitab turas dan beut seumeubeut, mutala’ah serta lainnya.

Dunia pendidikan dalam  perkembangan yang sangat bagus dan menggembirakan di satu sisi, walaupun  juga memiliki kekurangan karena lebih bersifat satu arah. Padahal, pemahaman suatu ilmu, biasanya didapat dari bertanya.

Dalam belajar apabila, jika ada hal yang kurang dipahami atau ada pertanyaan terkait pengetahuan yang kita peroleh, kita tidak bisa atau sulit bertanya secara langsung. Jalan keluarnya, biasanya kita mendiskusikan atau bertanya pada orang lain dan bukan ahlinya. Padahal, mereka juga boleh jadi bukan orang yang memiliki kepahaman ilmu agama yang memadai dalam hal tersebut.

Dalam hal ini, bisa timbul kesalahpahaman dan perdebatan yang tidak perlu. Yang lebih mengkhawatirkan adalah terjadi kesalahan yang sama-sama tidak diketahui oleh kedua belah pihak. Dampak lain perdebatan seperti itu adalah saling mengerasnya hati kedua belah pihak. Yang lebih berat adalah jika ketidakpahaman tersebut sesat dan menyesatkan. Lantas, bagaimana solusinya?.

Beranjak dari itu, jauh-jauh hari, Nabi Muhammad SAW dan salafus shalih terdahulu telah mengantisipasi hal ini dengan pentingnya guru dalam mempelajari agama Islam. Mempelajari agama Islam itu perlu mua’allim (guru), demikian nabi Muhammad SAW dan ulama-ulama besar terdahulu mengatakan.

Menalaah hal tersebut dalam hal ini baginda Nabi bersabda: “Barangsiapa menguraikan Alquran dengan akal pikirannya sendiri tanpa guru dan merasa benar, sesungguhnya ia telah berbuat kesalahan (HR. Ahmad).

Hadist lainnya yang menyebutkan permasalahan tersebut berasal dari Ibnu Abbas ra Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang berkata mengenai Alquran tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di neraka” (H.R. At-Tirmidzi).

Bukan hanya itu, memperkuat argumen diatas, salah seorang ulama mazhab, Imam As-Syafi’i juga berkata: “Barang siapa yang mencoba memahami agama melalui isi kandungan buku-buku maka ia akan menyia-nyiakan hukum atau kepahaman yang sebenarnya”.

Bahkan, Imam Abu Yazid Al-Bustami ra dalam tafsir Ruhul Bayan mengatakan: “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya setan.” Semoga kita dijauhkan dari hal yang demikian.

Memperdalam dan memelihara tradisi keilmuan di dunia pendidikan dan dakwah terutama dayah, tidak terlepas  belajar langsung dari masyaikh (guru). Banyak hal bisa dilakukan santri dalam mengisi waktu terutama di malam hari. Ada tradisi menarik dilakukan oleh santri di dayah yaitu tradisi muthala’ah kitab.

Tradisi muthala’ah merupakan kegiatan membaca kembali kitab yang sudah dikaji bersama kiai atau guru (ngaji sorogan), tujuannya memperdalam pemahaman dan memperlancar membaca kitab. Tradisi muthala’ah ada dan berkembang seiring dengan keberadaan dayah dan santri itu sendiri.

Muthala’ah biasanya dilakukan santri bersama santri yang lainnya bahkan dengan guru senior termasuk pimpinan dayah itu sendiri. Tentunya hal ini untuk mengantisipasi jika terjadi kesalahan membaca atau kesulitan memahami.

Muthala’ah juga salah satu cara memelihara sanad keilmuan. Tentu saja ini sangat penting, dan merupakan salah satu kebanggaan Islam dan umat. Hal ini disebabkan  sanad inilah Al-Qur’an dan sunah Nabawiyah terjaga dari distorsi kaum kafir dan munafik. Keberadaan sanad itu merupakan berasal dari warisan Nabi tidak dapat diputar balikkan.

Menjawab fenomena ini, Ibnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya (dengan akal pikirannya sendiri).” ( Muqaddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 ).

Bahkan dalam hal ini Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”. Pernyataan senada juga diungkapkan oleh Imam Malik ra berkata: “Janganlah engkau membawa ilmu (yang kau pelajari) dari orang yang tidak engkau ketahui catatan (riwayat) pendidikannya (sanad ilmu)”.

Menyokong pernyataan diatas, Al-Hafidh Imam Attsauri rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”. Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh: “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan”. (Tafsir Ruhul-Bayan: V: 203).

Salah satu tanda atau ciri seorang ulama tidak terputus sanad ilmu atau sanad gurunya adalah pemahaman atau pendapat ulama tersebut tidak menyelisihi pendapat gurunya dan guru-gurunya terdahulu serta berakhlak baik. Syeikh as-Sayyid Yusuf Bakhaur al-Hasani menyampaikan bahwa “maksud dari pengijazahan sanad itu adalah agar kamu menghafazh bukan sekadar untuk meriwayatkan tetapi juga untuk meneladani orang yang kamu mengambil sanad daripadanya, dan orang yang kamu ambil sanadnya itu juga meneladani orang yang di atas di mana dia mengambil sanad daripadanya dan begitulah seterusnya hingga berujung kepada kamu meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, keterjagaan al-Qur’an itu benar-benar sempurna baik secara lafazh, makna dan pengamalan“.

Berdasarkan paparan diatas, dapat disimpulan bahwa memelihara keilmuan terutama di dunia pendidikan seperti dayah dengan belajar kepada guru disertai dengan muthala’ah. Jika seorang umenyampaikan sesuatu berdasarkan Al Qur’an dan Hadits namun apa yang disampaikannya berbeda dengan apa yang disampaikan oleh para ulama yang sholeh yang mengikuti salah satu dari Imam Mazhab yang muktabar, maka orang tersebut sanad ilmu atau sanad gurunya terputus pada akal pikirannya sendiri sehingga apa yang disampaikannya merupakan paham baru atau ajaran baru, bukan ajaran yang disampaikan oleh lisannya Nabi Muhammad Saw dan ulama sebagai pewarisnya. Semoga..!!!!

*Helmi Abu Bakar el-Langkawi, Penggiat Literasi dan Isu Keagamaan tinggal di Pidie Jaya.

BAGIKAN

KOMENTAR