Belajarlah dari Secangkir KOPI

0

WAKTU itu akan berotasi dengan sunnatullah. Beragam fenomena kehidupan ini merupakan rotasi waktu yang berbeda lakon dan masanya. Perbedaan dan persamaan dua mata yang bertolak belakang namun tidak harua diartikan versus dalam realisasinya.

Kita harus Ingat bahwa kebersamaan memang indah. Banyak persoalan yang akan lebih mudah di selesaikan. Sebaliknya bila kebersamaan terkoyak akan pahit rasanya dan akan banyak pengorbanan yang dibutuhkan untuk merajutnya kembali.

Tentunya merajut itu mengandung pengertian menyatukan perca dengan cara menjahitnya hingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Pengertiannya yang lebih luas adalah menyatukan berbagai unsur atau pendapat dalam satu bentuk yang sekata.

Allah Swt menciptakan manusia memang tercipta dengan membawa karakter dan sifat masing-masing individunya yang tentu saja berbeda satu sama lain. Tetapi hendaknya perbedaan yang ada jangan dijadikan sebagai sesuatu yang dapat mengkandasnya sebuah hubungan. 

Hendaknya kita untuk melihat sebuah perbedaan dari sudut pandang lain yang mana dengan adanya perbedaan sepasang manusia bisa saling mendukung dan saling melengkapi kekurangan dengan kelebihan pasangannya.

Mempersatukan perbedaan dalam sebuah kebersamaan tidaklah mudah semudah membalik telapak tangan. Namun ketika ada niat dan ditindaklanjuti melalui perbuatan , maka tidak ada sulit terlebih ketika masing-masing menyadari bahwa kita ada karena sama-sama diciptakan oleh ALLAH SWT.

Dibalik itu kita harus belajar dari secangkir kopi, walaupun terdiri dari berbagai unsur baik gula, kopi, pahit dan lainnya namun sang KOPI tetap bersatu dalam satu acuan menjadi minuman dan sajian yang favorit dengan warna khasnya. Dia tetap terlihat warna kebersamaan dalam bentuk yang satu meskipun didalamnya akan terasa banyak unsur. Mereka tidak pernah berdemo dan berkelahi dan tujuan akhirnya hanya satu yakni membahagiakan orang lain. Bukankah seminimal ibadah itu mampu memberikan kebahagiaan dalam qalbu seseorang.

Beragam fenomena terkupas dalam secangkir kopi mencari solusi dan menebarkan program pengembangan SDM, islah diantara yang bermasalah termasuk “serangan” fajar mendelete status hidupnya dan beragam nuansa problematika lainnya termasuk politik juga sang kopi punya cara dan wacananya dalam menggarap secercah harapan.

Berdasarkan dari kupasan diatas menunjukkan kopi itu sosok pemersatu dan meraut yang hilang atau dalam bahasa kerennya Kopi itu mampu KOmpak dalam Persahabatan dan sehatI (KOPI). Marilah kita hiasi hari ini dengan “ngopi” (KOPI) , kita terus introspeksi diri, muhasabah dan menebarkan senyuman kebaikan dan ukhuwah serta menjauhkan diri dari saling mencela menggapai hari esok yang lebih baik dan berkah..

Lantas kenapa ada permusuhan dan mengabaikan ukhuwah serta persaudaraan kala perbedaan menghiasi kehidupan makhluk yang bertitel ahsanu taqwim yang bernama manusia sedangkan secangkir KOPI saja tidak pernah melakoninya?

Apakah kita masih berpikir dan waras ?

**HABeL, Penikmat Kopi, Warga Bandar Dua, Pidie Jaya