Beristiqamah Pasca Ramadhan

0

TANPA terasa bulan Ramadhan telah berlalu dan disambut oleh hari raya idul fitri. Sebulan penuh kita berada di “Universitas Ramadhan”dengan harapan alumni UNIRA (Universitas Ramadhan) mampu melahirkan sosok bertitel “muttaqien”. Hendaknya nilai-nilai yang didapatkan di balik gelar “muttaqien” juga mampu direalisasikan pasca Ramadhan.

Salah satu diantara buktinya, mampu istiqamah dalam ibadah baik di bulan Ramadhan hingga pasca bulan  tersebut. Target peningkatan amal shaleh adalah istiqamah (kesinambungan) dalam beribadah, baik  selama Ramadan maupun di luar bulan Ramadan. Hal ini menekankan bahwa ibadah itu bukan hanya pada bulan Ramadan saja. Kita tidak ingin menjadi mukmin sejati hanya pada saat bulan Ramadan tiba saja.

Dalam pemahaan kita tuntutan iman dan takwa merupakan sepanjang hayat. Namun dengan  hadirnya Ramadan sebagai sayyidul syahri (penghulu bulan) menjadi momentum terbaik untuk meningkatkan pembendaharaan amal shaleh, yang di  sertai dengan berbagai kemuliaanyang dimilikinya. Istiqamah itu sangat penting dalam ibadah dan harus diimplementasikan di segala penjuru nilai ibadah termasuk beragam kebaikan yang telah ditempuh di bulan Ramadhan dan dapat dipertahankan serta diteruskan pasca Ramadhan.

Salah satu bukti kita sukses melewati Ramadhan adalah dengan tetap istiqamah beribadah setelahnya. Dalam hal ini para ulama mengatakan, “Sesunguhnya diantara alamat diterimanya kebaikan adalah kebaikan selanjutnya”

Setelah sebulan penuh kita bersungguh-sungguh dalam ibadah di bulan Ramadhan, kita ikuti dan kita jaga ibadah kita dibulan-bulan selanjutnya. Hendaknya kita berusaha istiqamah dalam ibadah. Amalan yang sedikit tetapi istiqamah itu lebih baik dari pada banyak tetapi hanya sesaat. Rasulullah Saw bersabda, “Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah Subhanahu wa ta’ala adalah amal yang paling terus-menerus dikerjakan meskipun sedikit.” (HR Bukhari dan Muslim).

Mari kita isi seluruh hidup kita dengan ibadah kepada Allah, beristiqamah dan terus berkontribusi dari satu kebaikan kepada kebaikan yang lain.  Kita bertaqwa kepada Allah kapan pun dan dimana pun kita berada.

Jangan sampai kalau di bulan Ramadhan kita menjadi seorang yang begitu dekat dengan ketaqwaan, tetapi di luar Ramadhan malah semakin jauh darinya. Rasulullah bersabda,

”Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan susullah sesuatu perbuatan dosa ‎dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq ‎yang baik”. (HR. Tirmidzi) ‎
 
Namun di antara fenomena yang kerap terjadi dalam masyarakat dan biasanya di saat Ramadan tiba. Sosok bulan suci Ramadan itu di artikan sekadar ”musim ibadah” tanpa mendalami esensinya. Ramadan di pandanng  sekedar ”formalitas” tanpa eksistensinya.

Bahkan Ramadan dirasakan sebagai ’beban spritual’ dan “beban ritual” bukan lahir dari sebuah kecintaan subtasnsial yang mampu mengorbitkan ketaatan dan ketakwaan. Walhasil berimplikasi kepada mimimnya pembedaharaan dan produktifitas amal ibadah seorang hamba di bulan Ramadan.

Beranjak dari itu, marilah kita berusaha semaksimal mungkin diiringi doa untuk selalu istiqamah dalam beribadah serta tidak “membohongi diri” dengan giat dan tekun beribadah dan intropeksi diri hanya di Ramadhan saja, sedangkan sesudahnya ibadah hanya “lipstick” saja dan semoga awal Syawal kita di berkahi. Amiin

****Helmi Abu Bakar Ellangkawi, Penggiat Literasi asal Dayah MUDI Samalanga