Buya Woyla Isi Majlis Ilmu Tentang Persoalan Khusyuk di Mushalla DPDA

0

BANDA ACEH | LA – Dinas Pendidikan Dayah Aceh kedatangan Penceramah Kondang asal Barat Selatan Aceh, namanya Tgk Mustafa Husein Woyla yang sehari-hari akrab dipanggil Buya Woyla, Senin (20/5/2019).

Seperti biasa pada hari kerja, kegiatan rutin selama bulan Ramadhan adalah menghidupkan Majlis ilmu setelah Shalat Zhuhur berjamaah di Mushalla Dinas Pendidikan Dayah Aceh.

Tema yang dibahas kali ini adalah persoalan Khusyuk yang merupakan syarat sah Shalat menurut imam Al-Ghazali, sedangkan yang lain adalah sunat yang dianjurkan. Jika ditelisik lebih dalam dalam kitab l’anah, khusyuk merupakan bagian dari kewajiban dalam Shalat.

“Khusyuk adalah ruh daripada sholat itu sendiri,” ujar alumni dayah BUDI Lamno ini.

Buya Woyla tadi mencontohkan Khusyuknya Ali (Sahabat Nabi) pada saat Shalat, dalam suatu peperangan. Ali pernah terkena anak panah di kakinya, dia memerintahkan kepada para sahabat yang lain agar mencabut anak panah itu pada saat Ali mengerjakan Shalat Ashar.

Sebegitu khusyuknya Ali dalam mengerjakan Shalat , sehingga dia tidak merasakan sakit saat Anak panah dicabut dari kakinya.

Buya Woyla menambahkan, bahwa Khusyuk itu harus dilatih, saat mengerjakan Shalat, memang harus konsentrasi penuh, agar tidak terganggu dari godaan-godaan yang membuat  batalnya Shalat.

Buya Woyla juga menjelaskan tentang syarat sah sujud seraya mempraktekkannya secara langsung di hadapan para jamaah.

Sujud yang benar adalah dengan bertumpuk-tumpuk pada tujuh anggota sujud. Ada tujuh anggota sujud.

“Yang pertama, al-Jabhah, dahi, Kedua dan ketiga adalah buthunul kaffaini, kedua telapak tangan, Keempat dan kelima adalah rukbataini, kedua lutut, Keenam dan ketujuh adalah buthunul ashabi’ir rijlain, ujung jari-jemari kedua telapak kaki,” jelasnya.

Buya punya kesimpulan bahwa tidak sah ibadah seseorang kecuali kita mengerjakannya dengan ilmu, ujar alumni Dayah Lam Ateuk ini menutup Majlis ilmu. (*)