Cegah Radikalisme, LSM Radar Aceh Gelar Dialog Publik

0
148

BANDA ACEH|LA –Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Rambu Darat (Radar) Aceh mengadakan diskusi publik dengan tema “Peran Perguruan Tinggi dan Dayah dalam Upaya Pencegahan Paham Radikal di Aceh”yang berlangsung di aula MPR fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Senin 27 November 2017.

Dalam diskusi tersebut menghadirkan beberapa pemateri diantarnya, Wakil Dekan Fakultas  Dakwah UIN Ar Raniry Drs. Baharuddin, M. Si  , Perwakilan Dinas Pendidikan Dayah Aceh (Sahlan M. Dian), Tgk. Muhammad Hatta dari PWNU Aceh, Prof. Hasbi Amiruddin dari FKPT Aceh dan Ust. Masrul Aidi, Lc (Pimpinan Dayah Babul Maghfirah, Aceh Besar), yang tuut dipandu oleh Direktur IDeAS, yaitu  Munzami.

Heri Safrijal selaku Ketua LSM Radar Aceh dalam  sambutannya mengatakan bahwa kegiatan tersebut  bekerjasama dengan IDeAS, FKPT Aceh dan LDK Al-ihsan pertanian dengan tujuan agar semua pihak bersinergi untuk mencegah lahirnya paham radikal di tengah-tengah masyarakat, khususnya di lingkungan kampus dan dayah yang ada di Aceh, ujar Heri.

Sementara Kepala Badan Dayah Aceh, Dr. Bustami Usman , juga mengatakan bahwa kegiatan seperti ini harus terus digalakkan terutama bagi generasi muda agar kasus-kasus seperti Millata Abraham, Gafatar tidak terulang lagi di Aceh.

Hal ini juga diutarakan  oleh  Sahlan selaku pemateri dari Badan Dayah, ia mengatakan paham radikal terjadi itu disebabkan kurangnya pengetahuan dari seseorang, sehingga dengan mudah menghakimi atau bahkan mengkafirkan orang lain. Saat ini, Pancasila sudah menyatukan bangsa ini menjadi bangsa yang bersatu di bawah naungan NKRI.

Dr. Baharuddin, M. Si, yang juga sebagai  Wakil Dekan Fakultas Dakwah UIN Ar-Raniry mengatakan bahwa Refrensi itu penting dalam mencegah radikalisme. Menurutnya, kebanyakan orang yang berpaham radikal disebabkan kurangnya referensi dalam memahami sesuatu, yang akhirnya berani bertindak sesuai dengan keinginannya, tanpa didasari referensi yang ada.

Sedangkan, Prof. Hasbi Amiruddin dari unsur FKPT Aceh mengatakan bahwa sejarah telah membuktikan di mana pihak gereja telah membunuh banyak ilmuan yang bertujuan ingin membodohkan para rakyatnya. Di dalam Islam juga dikenal dengan kelompok Khawarij yang mudah mengkafirkan orang lain.

“Jangan mentuhankan organisasi, hingga terpecah belah antar umat Islam sendiri. Meskipun berbeda pandangan, tapi tetap bersatu dalam bingkai ketauhidan. Tuhan yang satu, ka’bah yang satu dan agama yang satu,” kata Prof. Hasbi Amiruddin.

Di samping itu, Tgk. Muhammad Hatta dari  PWNU Aceh menambahkan bahwa Dayah hari ini sudah membuka diri. Hari ini pendidikan Dayah tidak hanya pendidikan agama tetapi juga masuk ke pendidikan formal. NU dalam hal ini juga mengajak keluarga nahdiyin untuk terus berpikir bersatu dalam menjaga keagamaan, serta menjaga negara dan bangsa. Mencegah radikalisme dari berbagai dimensi.

Pimpinan Dayah Babul Maghfirah,  Ust. Masrul Aidi, Lc selaku pemateri juga berpendapat bahwa bahwa radikal terjadi akibat ketidakseimbangan dan masih adanya hak-hak yang tidak terpenuhi. Pendidikan Dayah bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi membangun akhlak dan mental santri. Namun saat ini pemberdayaan Dayah masih sangat minim oleh pemerintah, tambah Masrul Aidi.

 

BAGIKAN

KOMENTAR