Citizen Report : Negeri Perak “Larang” Ceramah Demi Tarawih 20 Rakaat

0
137
Penulis Menghadiri Jamuan Kenduri di Masjid Daerah Bagan Serai, Perak
Penulis Menghadiri Jamuan Kenduri di Masjid Daerah Bagan Serai, Perak

Laporan : Irfan Siddiq ( Santri Dayah Darul Aman, Lubuk Sukon, Aceh Besar), Dari Perak, Malaysia.

Selasa (23/5/17) pagi pesawat Air Asia dengan nomor terbang AK-402 telah membawa saya ke Kuala Lumpur dengan selamat, dan ini merupakan kali kesekian saya berkunjung ke negeri jiran.
Setelah proses pemerikasaan imigrasi selesai, saya yang pergi ke Malaysia untuk menemani salah seorang sahabat, Tengku Hamdani, guna mengisi pengajian selama Ramadhan, langsung beranjak menuju ke Chwokit, kawasan yang padat dan sibuk di Kuala Lumpur, lalu chek-in di sebuah hotel tempat kami istirahat.
Semalaman menyusuri beberapa tempat wisata di Kuala Lumpur, esoknya saya dan Teungku Hamdani berangkat dari KL Sentral (pusat transportasi) menuju tempat yang kami maksud untuk mengisi pengajian, yaitu Bagan Serai, Perak.
Dari KL Sentral, alat transportasi yang kami tumpangi adalah ETS (Easy Train Service), kereta api cepat yang sangat digemari oleh masyarakat Malaysia untuk berpergian antar kota. Dengan kereta api yang  mempunyai kecepatan tertinggi 140 Km/H ini, kami sampai di Stasiun Taiping, Perak, dalam waktu kurang lebih 3 jam.
Tiba di Perak, kami dijamu oleh Cikgu Muhammad Aman, salah seorang tokoh masyarakat di Bagan Serai, Perak Malaysia. Bagi saya, ini adalah kali ke dua berkunjung ke kediaman Cikgu Muhammad Aman, dan kami sangat dimuliakan disini.
Tengku Hamdani, sahabat saya yang nantinya akan mengisi kuliah (pengajian) selama ramadhan di Masjid Tinggi Bagan Serai, merasa terkagum-kagum saat pertama sekali berkunjung ke masjid yang ada disini.
Di masjid daerah Bagan Serai misalnya, dia melihat suasana yang berbeda dengan yang ada di Aceh semenjak dari luar masjid, mulai dari  tandas (tempat buang air) yang bersih dan desainnya khusus untuk buang air sambil duduk, kulah (bak) air tempat wudhu yang bersih, hingga proses pelaksanaan ibadah yang amat khusyuk di dalam masjid. Kekaguman ini bukan karena tidak pernah ditemukan atau dirasakannya selama di Aceh, tapi kekaguman yang muncul  karena biasanya apa yang dilihatnya di masjid ini, adalah sesuatu yang hanya terdapat di dayah-dayah tradisional Aceh, misalnya tempat wudhu dari bak air, bukan menggunakan keran, tempat buang air kecil sambil duduk, dan praktik zikir setelah shalat yang begitu panjang bacaannya, yang langsung di pimpin oleh imam shalat, lalu diikuti oleh mamkum. Ya, sekali lagi ingin saya tegaskan bahwa, kekagumannya karena di masjid ini, dia merasa seperti suasana di dayah, dan jarang ditemui di masjid-masjid dalam kawasan Banda Aceh – Aceh Besar, tempat ia sering beraktifitas.
Tidak hanya Tengku Hamdani yang terkagum dengan suasana keagaaman di sini. Selain lingkungan yang bersih, ada beberapa hal yang menarik bagi saya, sehingga saya kira perlu untuk menceritakannya kepada saudara-saudara saya yang ada di tanah air, khususnya Aceh. Misalnya saja bagaimana cara masyarakat disini menghidupkan bulan suci ramadhan.
Pada dasarnya, tidak ada perbedaan yang begitu mencolok antara Aceh dan Negeri Perak dalam menghidupkan suasana ramadhan. Namun yang ingin saya angkat pada tulisan Citizen Report ini adalah tentang bagaimana pelaksanaan shalat tarawih disini.
Di Aceh, khususnya kawasan Banda Aceh dan Aceh Besar, menurut sepengetahuan saya, untuk rakaat shalat tarawih adalah hal yang sangat bervariasi, di mana jika masjid A shalat tarawih jumlah rakaatnya 20, maka di masjid B shalat tarawihnya 8 rakaat, begitu juga untuk meunasah. Berbagai alasan dari masyarakat dan pemuka agama yang kemudian disebut sebagai masalah khilafiyah, menyebabkan ketidakseragaman pada jumlah rakaat tarawih di sana. Dan ini telah berlangsung sejak lama.
Sedangkan di Perak, menurut informasi yang saya dapat dari pengurus masjid disini, untuk pelaksanaan tarawih tetap berpedoman pada mazhab Imam Syafi’i, yaitu 20 rakaat. Hal ini diperkuat dengan peraturan dari Pejabat Keagamaan wilayah Perak yang mengeluarkan Siaran (sejenis peraturan daerah) untuk setiap masjid dalam wilayah Perak agar tidak (larangan) melaksanakan tazkirah (pengajian) pada malam hari. Hal ini bertujuan untuk mengalakan umat muslim agar shalat tarawih 20 rakaat. “Karena, jika ada pengajian atau tazkirah, waktu untuk salat tarawih jadi lebih larut, dan ditakutkan mengurangnya jumlah jamaah yang akan shalat tarawih di masjid”, demikian alasan yang disebutkan Cikgu Jakfar, pengurus Masjid Tinggi Bagan Serai, kepada saya.
Bagi saya, cara pemerintah Perak, Malaysia, mengatur peraturan daerah seperti ini, sangat baik untuk dicontohi dan diterapkan di Aceh. Mengingat, bulan suci ramadhan adalah waktu untuk memperbanyak ibadah kepada Allah, memperbanyak sujud kepada-Nya.
Semoga bermanfaat, wallahu a’lam bi shawab.

BAGIKAN

KOMENTAR