Dari Sebuah Ranjang Menuju Peradaban (II)

0
61

AAN sambil ngopi malam di beranda facebooknya menuliskan sebuah status isinya :”Kita sesusungguhnya telah berdosa. Berdosa terhadap siapa? Terhadap peradaban di generasi selanjutnya! Bayangkan, jika mendidik anak-anak kita dengan “seadanya” bahkan “asal mereka bahagia” aja, mau jadi apa anak cucu kita kelak. Tanggung jawab kita ga berenti sampe garis anak kita doank! Tapi sampai seluruh generasi yang akan lahir dari pernikahan kita.”

Tentunya warga medsos menanggapi beragam status Aan tersebut. Salah satunya facebook dengan akun “Fauzan Inzhaghi”.
“Jangan tebarkan hoaks di muka bumi, niscaya kamu akan Jomblo selamanya”, balasnya dengan penuh semangat dan sedikit candaan.

Reaksi yang beragam juga di lampiaskan oleh banyak komentar bahkan telah mencapai ratusan ikut nimbrung di status tersebut dan like yang hampir ribuan, belum lagi yang membagikannya.

Padahal ini ajakan Aan kepada jomblowan dan jomblowati. Mereka yang membully sangat banyak walaupun netizen dari status yang awalnya hanya iseng mengisi waktu ngopi namun telah mengundang reaksi banyak orang, ada yang mengapresiasi bahkan sebaliknya membully-nya dengan sindiran ganas.

Salah satu netizen yang sempat muncul di beranda Aan, “Ureueng gampong lon geuh Tgk”, ungkap Raufi dalam akunnya yang kerap memakai cadar. Spontan teman dumay Aan menyapa dan mengiyakan, ” meunye ka hna salah le,, barti kakeuh butoi.. 😁” balas Yusar.

Aan sosok pemuda yang jarang bertemu lawan jenis bahkan masa remajanya anti wanita alias tidak menyentuh dunia pacaran seperti ungkapan bait lagu karya Chrisye dengan judul “Kisah Kasih di Sekolah” yang sangat populer tahun 1990-an, liriiknya berbunyi:

“Malu aku malu pada semut merah
Yang berbaris di dinding
Menatapku curiga
Seakan penuh tanya… Sedang apa disini ? Menanti pacar jawabku..”

Rupanya balasan Aan dengan Raufi, keduanya yang belum pernah saling mengenal hanya berteman di dumay itu merupakan orang gampongnya bahkan tetangga dekat.

Pembicaraan intens mereka lanjutkan via inbox hingga beralih ke Whatsapp. Rupanya keduanya masih mempunyai ikatan nasabiahnya walaupun jauh ini saat Raufi menceritakan kepada orang tuanya. Bahkan kenal baik dengan keluarga Aan walaupun Aan tidak pernah menelusurinya lebih lanjut.

Raufi juga seorang yang menekuni literasi,  beberapa lomba yang di ikutnya bersama kawan akrab Muqbal berhasil meraih juara cerpen, diantaranya lomba cerpen remaja dengan berjudul  “Dari sebuah ranjang menuju peradaban.”  Cerpen kategori bareng alias berkelompok.

Mereka di samping mendapatkan trophy juga uang pembinaan sekitar 20 juta. Rupanya cinlok (cinta lokasi)  Muqbal yang telah lama bersemi akhirnya bisa merencanakan meraih juara cerpen bersama Raufi sebagai salah satu jalan merealisasikan cinlok itu akhirnya terwujud.

Apa yang diusahakan itu salah satu bentuk ikhtiar menurut Muqbal untuk menjadi dua hati bisa bersemai. Lantas Raufi tidakkah ada sekuntum rindu menjawab prahara yang telah melanda Muqbal? Atau Raufi jauh hari telah mengimpikan sang Imam idaman seperti yang pernah dirasakan apa yang telah ikut terukir dalam qalbu cinta Muqbal?