Dibalik Tatapan Emak-Emak Penjual Sayuran dan Lesunya Perekonomian Pasar Ulee Glee

0

PIDIE JAYA I LA– Pasar Bandar Dua, Pidie Jaya yang telah diresmikan pemerintah pasca runtuh gempa akhir tahun 2016 diharapkan mampu menghidupkan perekonomian masyarakat terlebih letak wilayah tersebut yang sangat strategis.

Masyarkat luar Ulee Glee baik dari Kabupaten Bireueun maupun warga tetangganya Ulim, JAYA (Jangka Buya) dan masyarakat sekitarnya hampir saban hari menjadikan kota Ulee Glee sentral untuk mencari kebutuhan lauk pauk, sayuran juga lainnya.

Pembangunan gedung baru pasca gempa itu memang masih berada pada di lokasi semula. Sejak awal peresmian gedung tersebut, liputanaceh.com mencoba melihat secara langsung pembangunannya tidak ada yang terlalu istimewa bahkan beberapa tempat terlihat seperti tidak sempurna dalam realisasinya.

Setelah beberapa bulan diresmikan hingga awal tahun ini gelagat peningkatan perekonomiannya via pasar tersebut kian meredup, betapa tidak, lapak emak-emak yang menjual sayuran dulunya sangat antusias sebelum bertempat di gedung baru itu, kini banyak lapak yang kosong dibiarkan tanpa penjual.

“Jinou that rame ka hana geumeukat le (sekarang sudah banyak yang tidak lagi penjualnya),” pinta ibu yang masih istiqamah menjual sayuran dan terlihat termasuk yang paling banyak pembelinya.

Sementara itu di lapak yang lain, para nenek tua sambil menatap calon pembeli terdengar suara ajakan untuk mampir di tempatnya. Bahkan di sudut yang lain terlihat pandangan yang memberikan sinyal adanya secercah harapan yang lebih baik demi kesejahteraan dari pemerintah setempat.

” Neupiyoh Teungku, neupiyoh Teungku….”, pinta nenek yang terlihat kulitnya sudah menunjukkan tanda ketuaannya untuk lebih memfokuskan dirinya menatap esok yang hakiki.

” Geut nek, kaleuh tablou nyou…” jawab pemuda berpeci putih ala Rokan itu mencoba menenangkan sang nenek itu.

Pantauan liputanaceh.com semenjak awal tahun ini lebihnya sekitar bulan dua hingga saat ini, penjual sayuran yang didominasi nenek kian berkurang dari hari ke hari. Setidaknya ada terobosan baru baik dari pemerintah maupun pihak lainnya demi menghidupkan perekonomian masyarakat “pinggiran” ini. Adakah yang peduli?