Dihadapan 3000 Rektor, Jokowi Minta Kampus di Jaga dari Penyebaran Idiologi Radikal

0
16

BALI | LA– Dihadapan 3.000  Raktor  dari seluruh Indonesia yang hadir dalam acara Deklrasi Aksi Kebangsaan Melawan Radikalisme, di Nusa Dua, Badung, pada Selasa 26 September 2017, Presiden Joko Widodo meminta kepada para rektor agar menjaga kampus dari penyebaran ideologi anti-pancasila, anti NKRI, anti-Bhineka Tunggal Ika.

“Jangan sampai kampus-kampus menjadi lahan penyebaran ideologi anti-pancasila, anti NKRI, anti-Bhineka Tunggal Ika. Oleh sebab itu bila kita cinta Indonesia, masih cinta NKRI, Bhineka Tunggal Ika,” tegasnya Presiden.

Dalam deklarasi aksi kebangsaan itu, president juga mengingatkan kepada seluruh rektor jangan sampai universitas menjadi lahan penyebaran paham ideologi anti-Pancasila.

Jokowi menyatakan, kampus adalah sumber pencerahan. Sangat berbahaya jika kampus menjadi mediasi ideologi-ideologi radikal.

“Kita harus hentikan ideologi radikalisme, terorisme di seluruh perguruan tinggi yang ada di seluruh tanah air kita,” tutupnya.

Selain itu Jokowi meminta kepada para rektor untuk terus melakukan terobosan-terobosan, dengan membuka jurusan-jurusan yang mampu mengikuti lompatan-lompatan inovasi.

“Jangan sampai sudah puluhan tahun Fakultas Ekonomi, jurusanya hanya menegemen, ekonomi pembangunan,  jurusanya hanya akuntansi. Saya tidak melihat ada jurusan toko online, tidak ada jurusan logistic, ritail managemen. Mumpung lagi ketemu saya pesen itu,” katanya.

Point-point pernyataan dalam aksi deklarasi yang dibacakan oleh rektor IAIN Palu dan rektor Universitas Marwadewa di hadapan president Jokowi tersebut berisi lima point antara lain.

Pertema Satu idiologi, Pancasila, Kedua Satu Konstitusi, Undang_undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Ketiga Satu negara, negara kesatuan Republik Indonesia. Keempat Satu semboya, Bhineka Tunggal Ika. Kelima Satu tekat, melawan radikalisme dan Intoleransi.

Sementara itu, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir  menyatakan aksi deklarasi tersebut sebagai perhelatan yang paling besar dalam rangka memelihara bangsa di Perguruan tinggi dalam melawan radikalisme selama ini.

“Ini perhelatan yang paling besar yang ada selama ini dalam rangka melawan radikalisme,  peserta yang sudah hadir lebih 3000  dari Perguruan tinggi negeri dan swasta  dari seluruh Indonesia,” Kata menteri pendidikan dalam konferensi pres di BNDCC sehari sebelumnya.

Dirinya menyatakan, pentingnya dunia kampus melakukan kegiatan tersebut untuk membangkitkan kembali, rasa kebanggaan terhadap Negara Republik Indonesia yang berdasarkan NKRI, Pancasila dan UUD 1945 dan Bhinekatunggal Ika.

“Empat pilar kebangsaan tersebut harus kita rawat oleh perguruan tinggi dari Aceh sampai papua. Kegiatan ini tidak cukup hanya disini saja, harus kita implementasi dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana pemahaman Pancasila yang lebih baik. Kita harus semakin sadar akan kebaradaan kita sebagai bangsa Indonesia, apapun agamanya apapun sukunya,” katanya.

BAGIKAN

KOMENTAR