Distanbun Aceh Ikut Rakor Perkebunan Se Indonesia

0
79
Dok. Liputanaceh.com

ACEH |LA — Dinas Pertanian dan Perkebunan  (Distanbun) Aceh mengikuti Rapat Koordinasi Perkebunan se Indonesia yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian di Bogor pada Tanggal 27 – 28 Oktober 2017.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Dirjenbun Ir. Bambang, MM. Dalam arahannya, meminta agar dilakukan upaya percepatan untuk pelaksanaan kegiatan APBN dan APBN P Tahun 2017, pemantapan untuk usulan Tahun 2018.

“Pemantapan untuk kegiatan replanting sawit yang menggunakan anggaran dari BPD PKS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit), dan penyelesaian konflik di lahan perkebunan,” Demikian disampaikan oleh Azanuddin Kurnia sebagai Kabid Perbenihan, Produksi, dan Perlindungan Perkebunan Distanbun Aceh yang mewakili Kadistanbun Aceh Bapak Hasanuddin Darjo.

Menurut Azan yang dihubungi media ini bahwa kegiatan yang diikuti oleh Dinas yang membidangi perkebunan seluruh Indonesia dan juga oleh UPT dan Balai yang ada dalam lingkup Ditjenbun se Indonesia, Ia menyatakan bahwa, Distanbun Aceh memberikan laporan kepada Dirjenbun tentang upaya – upaya yang sudah dan sedang dilakukan untuk percepatan kegiatan 2017 ini.

“Kegiatan pada Tahun 2017 ini diharapkan Insya Allah selesai semua sesuai target, karena saat ini umumnya kegiatan sedang berlangsung, baik proses distribusi sarana dan prasarana, proses pelatihan sedang berlangsung, dan ada yang sedang menyelesaikan administrasi,” katanya.

 Azan optimis pada akhir Desember 2017 Insya Allah akan tercapai target di atas 90 %. Komoditi yang menjadi intervensi pada tahun ini adalah Kopi Arabika, Kopi Robusta, Kakao, Kelapa Dalam, Lada, Cengkeh, Karet, dan Nilam, serta alat pengolahan hasil dan pasca panen. Juga turut dilakukan penguatan kelompok melalui pembentuka LEM (lembaga ekonomi masyarakat) pada lima Kabupaten.

“Kemudian untuk perencanaan dan pengusulan kegiatan Tahun 2018, sudah dari beberapa bulan lalu diusulkan yang berdasarkan dari e- proposal yang sudah disampaikan oleh Dinas Kabupaten/Kota dan juga Provinsi. Komoditi umumnya yang menjadi target adalah sesuai dengan pola pengembangan kawasan berdasarkan Kepmentan No. 830/2016. Diantaranya yang menjadi intervensi Kopi Arabika, Kelapa Dalam, Karet, Lada, Nilam, Kakao, dan alat pengolahan hasil dan pasca panen. Azan berharap semua usulan dari Aceh nantinya dapat diakomodir oleh Dirjenbun nantinya,” uncap Azan.

Ketika ditanya tentang komoditi Sawit, Azan menyatakan bahwa saat ini untuk pengembangan Kelapa Sawit, sepertinya tidak lagi tersedia anggaran baik melalui APBA maupun APBN. Untuk itu pihaknya mencoba mencari sumber lain diantaranya adalah dari BPD PKS.

Dan saat ini pihaknya mencoba mengajukan usul untuk replanting dari Kabupaten Aceh Singkil dan Kabupaten Aceh Barat. Sebelumnya ada banyak Kabupaten di Aceh yang mengusulkan, tetapi karena adanya Perdirjenbun yang baru yaitu nomor 29/2017 maka semua usulan harus disesuaikan dengan Perdirjen tersebut. Saya pikir, kita harus lebih serius dan bekerja keras untuk mendapatkan sumber pendanaan lain diluar APBA dan APBN sehingga pembanguna di daerah juga bisa tercapai sesuai harapan.

Diakhir pembicaraan, Azan mengatakan bahwa saat ini Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah sedang mempersiapkan proposal untuk program pengembangan kawasan sebagai pilot project untuk Aceh. Kita mengusulkan Kabupaten tersebut sebagai pilot project dikarenakan salah satunya Kopi Arabika sudah mendunia dan perlu ditngkatkan produksinya dan ada banyak hal lain yang mendukung untuk proses tersebut. Pilot project ini menekankan pada peningkatan Produksi, integrasi kopi dan ternak, serta pariwisata. [ ]

BAGIKAN

KOMENTAR