Ditolak Warga, Lima Bocah Yatim Piatu Pengidap HIV Terancam Terusir dari Samosir

0
19
ilustrasi aids. ©www.hivdatingsites.biz

LA – Lima bocah yatim piatu pengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV) terancam terusir dari Kabupaten Samosir, Sumatera Utara (Sumut). Warga menolak keberadaan mereka dengan alasan takut terjadi penularan.

Berdasarkan informasi dihimpun, pengusiran itu berawal dari penolakan warga terhadap keberadaan 3 di antara 5 bocah itu di sekolah publik. Ketiganya, yakni S (7), H (11) dan SA (10), hanya sempat sehari mendapatkan hak pendidikan di Nainggolan.

H dan SA terdaftar di SD Negeri 2 Nainggolan, sedangkan S terdaftar di PAUD Welipa. Namun, ketiganya tidak bisa sekolah di sana, karena ada penolakan dari warga.

Selain soal penularan, warga beralasan kelima anak itu bukan penduduk asli Samosir. Mereka adalah bocah yatim-piatu yang kini tinggal di rumah singgah milik Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) di dalam kompleks RSU HKBP Nainggolan.

Kelima anak-anak itu mendapat pendampingan dari Komite AIDS HKBP. Para pendamping kini berupaya agar anak-anak itu tidak mendapatkan perlakuan diskriminatif serta diupayakan tetap mendapat pendidikan di sekolah publik dan tidak terusir dari Samosir.

“Kita ingin adik-adik kita itu memperoleh haknya. Mereka anak-anak yang punya hak untuk sekolah dan mendapatkan pendidikan,” kata Sekretaris Eksekutif Komite AIDS HKBP, Diak Berlina Sibagariang, Senin (22/10).

Sebelumnya, warga memberi ultimatum agar kelimanya meninggalkan Samosir paling lambat 23 Oktober 2018. Sebelum tenggat waktu itu, Komite AIDS HKBP terus melakukan mediasi dengan Komite Sekolah SD Negeri 2 Nainggolan, masyarakat Desa Nainggolan, dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir.

Dalam mediasi itu, ketiga bocah itu disarankan untuk dipindahkan dari sekolah yang ada di Nainggolan dan menjalani homeschooling. Namun, Komite AIDS HKBP menolak saran itu. Homeschooling dinilai akan membuat ketiganya semakin merasa terisolasi.

“Anak-anak butuh sosialisasi dengan teman-temannya. Dia bisa berkembang ketika mereka bermain sama teman-teman sebaya. Ketika dia dibuat di homeschooling mereka nanti semakin merasa terisolasi. Mereka akan merasa bahwa tidak punya teman dan itu akan membuat anak-anak terpuruk, menurut kami. Jadi kami berharap mereka diterima di sekolah,” ucap Berlina.

Pejabat Samosir dalam salah satu pertemuan sempat memberi opsi agar anak-anak itu pindah dari Nainggolan. “Wakil bupati pada audensi mengatakan supaya anak-anak kita pindah dari Nainggolan dan membuka hutan untuk anak-anak kita tinggal di sana. Itu membuat kami sangat sedih, seorang pemimpin daerah berkata seperti itu,” ucap Berlina.

Sementara, Bupati Samosir, Rapidin Simbolon, mengatakan pihaknya sudah menawarkan jalan keluar untuk permasalahan itu. Salah satu solusi yang mereka tawarkan adalah memberikan kelas khusus untuk ketiga bocah yang mengidap HIV.

“Kami sayang seluruh anak-anak. Nah, sekarang ada pendapat yang berbeda. Di satu sisi orang tuanya meminta jangan digabungkan anak kami dengan yang terpapar HIV. Betul, karena mereka punya anak khawatir. Kemudian datang dari pihak HKBP, oh ini diskriminasi. Kami menyayangi, tapi ada konteks dan program lain yang kita bisa menyelamatkan dua-duanya. Kita tawarkan pendidikan khusus terhadap anak yang terpapar ini. Jadi tidak bergabung dan kita buat kelas khusus. Kalau HKBP mau ya syukur. Kalau tidak apa boleh buat,” ujar Rapidin di Medan.

Rapidin mengakui saat ini desakan masyarakat yang meminta agar ketiga anak terpapar HIV harus pindah dari Samosir terus meningkat. Namun, menurut Rapidin, dia tidak boleh gegabah dalam membuat keputusan.

“Jadi kita selamatkan dua-duanya. Baik yang terpapar maupun siswa yang tidak. Perkembangan terakhir kemarin masyarakat sudah saya bilang jangan terus gitu main harus pindah. Jangan, kita tunggu dan sabar. Itulah makanya supaya semua memberikan pendapat yang sejuk dan damai,” sebut Rapidin.

 

Merdeka.com

BAGIKAN

KOMENTAR