Doa Sri Mulyani di Usia ke-75 Bank Dunia

0
Menteri Keuangan Sri Mulyani. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A).

LIPUTANACEH.COM– Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan kesan dan harapannya terhadap Grup Bank Dunia. Kesan dan harapan tersebut ia sampaikan pada sebuah tulisan yang ia sumbangkan dalam sebuah publikasi yang diterbitkan dalam rangka Peringatan 75 Tahun Konferensi PBB tentang Moneter dan Keuangan.

Dalam tulisan tersebut, ia mengatakan sejak berdiri pada 75 tahun lalu, Grup Bank Dunia dan IMF, telah memberikan kontribusi besar terhadap pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dunia.

Menurutnya, Grup Bank Dunia dan IMF telah membawa miliaran orang keluar dari kemiskinan. Bukan hanya itu saja, lembaga tersebut juta telah berhasil membawa ekonomi dunia tumbuh cepat.

Ani sapaan akrabnya mengatakan prestasi sosial dan ekonomi yang telah berhasil diciptakan oleh Grup Bank Dunia tersebut perlu dijaga. Dan untuk menjaga prestasi tersebut, Grup Bank Dunia dan IMF perlu berevolusi.

Saran evolusi diberikan berdasarkan beberapa pertimbangan. Pertama, pengalamannya selama menjadi direktur pelaksana di Bank Dunia.

“Masa jabatan enam tahun saya di lembaga itu, di bawah kepresidenan Bob Zoellick dan Jim Yong Kim, meyakinkan saya bahwa lembaga tersebut perlu terus-menerus melakukan reformasi untuk meningkatkan dampak pembangunan dari pekerjaannya dan terus relevan dengan negara-negara anggotanya,” katanya seperti dikutip dari tulisan tersebut, Kamis (4/7).

Kedua, perubahan dunia. Perubahan salah satunya terjadi pada lanskap ekonomi dunia.

Menurutnya, lanskap ekonomi yang ada di dunia saat ini berbeda jika dibandingkan saat Bank Dunia dan IMF didirikan. Perubahan juga terjadi pada semangat kerja sama antar negara dalam membangun ekonomi dunia.

Ia mengatakan saat ini fondasi kerja sama internasional telah banyak terkikis.

“Kerja sama tampaknya telah digantikan oleh unilateralisme zero-sum, dan para pemimpin politik semakin sibuk dengan kebijakan rabun, prosiklikal, dan populis di dalam negeri. Ada tren yang mengkhawatirkan dari negara-negara yang menggunakan unilateralisme untuk memajukan kepentingan nasional mereka, mengesampingkan sistem multilateral yang berdasarkan aturan,” katanya.

Tantangan lain juga datang dari kemunculan lembaga keuangan lain, seperti Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB), pimpinan China yang memberikan negara sumber keuangan alternatif untuk membiayai pembangunan mereka.

Ani mengatakan ada beberapa evolusi yang bisa dilakukan oleh Grup Bank Dunia agar perubahan yang terjadi tersebut tidak mengikis prestasi mereka. Salah satunya, meninjau kembali komposisi kepemilikan saham.

Ia menilai saat ini komposisi saham dan suara di Grup Bank Dunia lebih banyak condong ke negara anggota berpenghasilan tinggi.

“Sebagai bagian dari reformasi suara lembaga, kekuatan suara diamandemen untuk meningkatkan suara negara-negara berkembang dan ekonomi berkembang. Hal ini mempengaruhi, sampai batas tertentu, proses pengambilan keputusan di dewan Kelompok Bank Dunia dengan negara-negara berkembang dan negara-negara berkembang secara kolektif memiliki 48 persen saham,” imbuh dia.

Selain reformasi suara dan peningkatan modal, mereka juga perlu mempertajam fokus strategisnya dalam menargetkan kaum miskin dan rentan dan menciptakan peluang untuk pertumbuhan.

Lembaga tersebut, kata Sri Mulyani, juga perlu memperkenalkan reformasi operasional yang mencakup kebijakan baru bank tentang akses ke informasi, inisiatif daa terbuka, dan tata kelola yang lebih ketat serta upaya anti korupsi.

Ani mengatakan Kelompok Bank Dunia saat ini sebenarnya sudah memiliki keunggulan. Kelompok tersebut sudah mempunyai kecerdasan finansial, kepemimpinan yang baik di global dan mampu menjadi katalis pembangunan global.

“Tetapi institusi itu tidak mampu berpuas diri, perlu terus direformasi dan berkembang seiring waktu untuk terus tetap relevan. Lebih luas lagi, untuk mengeluarkan potensi penuh dari sistem bank pembangunan multilateral (MDB), diperlukan koherensi yang lebih besar dan komitmen politis antar pemegang saham,” katanya.

Sumber : CNN Indonesia