Drama Kolosal Meriahkan Hari Pahlawan di Blang Padang

0
51

ACEH|LA– Masyarakat Banda Aceh dan Aceh Besar, serta sejumlah Forkompimda Aceh sangat antusias, saat menyaksikan drama kolosal Laksamana Keumalahayati yang ditampilkan prajurit, Persit serta pelajar dari Teater Merah Putih Rindam Iskandar Muda.

Drama tersebut ditampilkan, sebelum pelaksanaan upacara hari pahlawan, yang berlangsung di lapangan Blang Padang, Banda Aceh, Jumat (10/11/17).

Dihadapan sejumlah pejabat daerah dan ratusan penonton yang memadati tribun utama dan lapangan, pementasan drama kolosal tentang perjuangan para pahlawan Aceh saat melawan Belanda menjadi tontonan menarik.  Perlu diketahui, drama tersebut berkisah tentang perjuangan pahlawan Aceh yang sangat ditakuti penjajah Belanda, yaitu Laksamana Keumalahayati dalam mempertahankan Tanah Pusaka dari penjajah Belanda.

Terlihat masyarakat hanyut dalam suasana peperangan yang heroik tersebut. Dalam suatu perang melawan Portugis di Teluk Haru, armada Aceh sukses menghancurkan Portugis. Tetapi dalam pertempuran tersebut sekitar seribu orang Aceh gugur, termasuk Laksamana yang merupakan suami Malahayati.

Dalam cerita itu, Malahayati seorang yang sangat dicintai rakyat dan pemberani mengobarkan  semangat para pejuang Aceh untuk tidak takut mati dalam mempertahankan nusa, bangsa, dan agama.

Malahayati, adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Ia memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah syahid) berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda tanggal 11 September 1599 sekaligus membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal.

Laksamana Keumalahayati merupakan keturunan darah biru atau keluarga bangsawan keraton. Ayah dan kakeknya pernah menjadi laksamana angkatan laut. Jiwa bahari yang dimiliki ayah dan kakeknya tersebut kelak berpengaruh besar terhadap kepribadiannya. Meski sebagai seorang wanita, ia tetap ingin menjadi seorang pelaut yang gagah berani seperti ayah dan kakeknya.

Perkembangannya pasukannya tidak hanya terdiri dari para janda, tetapi gadis-gadis juga ikut bergabung. Armada ini memiliki 100 kapal perang dengan kapasitas 400-500 orang. Tiap kapal perang dilengkapi dengan meriam. Bahkan kapal paling besar dilengkapi lima meriam. Pangkalannya berada di Teluk Lamreh Krueng Raya.

Pada Juni 1599 dua kapal dagang Belanda yang dipersenjatai yang dipimpin Cornelis de Houtman dan Frederick de Houtman datang mengunjungi Aceh. Kedatangan mereka disambut oleh Sultan dengan upacara kebesaran dan perjamuan. Tetapi setelah itu timbul ketegangan dan konflik, hingga pecah perang melawan Belanda pada September 1599. Sejumlah orang Belanda terbunuh, termasuk Cornelis de Houtman yang dibunuh oleh panglima armada Inong Balee, Malahayati, dengan rencongnya.

Selain menjadi panglima perang, Malahayati juga seorang diplomat. Saat itu setelah pertempuran melawan armada Belanda, hubungan Aceh dan Belanda sempat tegang. Prins Maurits, yang memimpin Belanda saat itu berusaha memperbaiki hubungan. Maka dikirim utusan ke Aceh, dan Malahayati ditugaskan oleh Sultan untuk melakukan perundingan-perundingan awal dengan utusan Belanda, hingga tercapai sejumlah persetujuan.

Atas jasa-jasanya, Pemerintah Republik Indonesia, Presiden Joko Widodo menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115/TK/Tahun 2017 tanggal 6 November 2017,(AA)

BAGIKAN

KOMENTAR