Environmental Class#6, Dari Sampah Jadi Berkah Dengan Aplikasi Kepul

0

Medan | liputanaceh.com – Environmental Class#6 dengan tema “dari sampah jadi berkah dengan aplikasi Kepul” yang diadakan oleh Founder Indonesian Millenial of Change (IMC) berkolaborasi dengan Pepelingasih Aceh.

Program ini diinisiasi oleh Founder IMC, merupakan bentuk aksinya sebagai Finalis Duta Pepelingasih Aceh.

Sesi ini diisi oleh pemateri dari Kepul.id yaitu Andika Pratama yang merupakan Co-Founder Kepul.id dan dipandu oleh Ermita Fatimah Hasibuan selaku moderator acara. Diskusi ini berlangsung via Google Meet pukul 16.30 WIB (Sabtu, 25/07/2020).

Di Indonesia sampah masih menjadi permasalahan khususnya di kota Medan, data menunjukkan bahwa terdapat 2000 ton sampah setiap tahunnya, namun faktanya bisa lebih dua kali lipat yaitu mencapai 4000 ton sampah setiap tahunnya di kota Medan.

Sampah yang menumpuk diakibatkan sulitnya menjual dan membuang sampah, karena kurangnya tempat pembuangan sampah.

Tak hanya itu para pengepul sampah juga sulit mencari customer. Sehingga berangkat dari permasalahan itu diciptakanlah platform online yang diberi nama Kepul.

Co- Founder Kepul, Andika Pratama mengatakan, bahwa kepul adalah platform online untuk menghubungkan customer dengan pengepul di kota Medan.

Cara kerja dari aplikasi Kepul yaitu para customer memasukkan data-datanya secara lengkap yang berkaitan dengan alamat, nomor telepon, dan jenis sampah yang akan dijual selanjutnya setelah data masuk ke server Kepul, tim kepul akan memberikan notifikasi dan mengkonfirmasi untuk menjemput sampah ke rumah rumah customer.

Lebih lanjut Andika mengungkapkan,  bahwa Kepul hadir sebagai solusi bagi para masyarakat yang ingin menjual sampahnya namun terkadang terkendala karena tidak adanya pengepul yang lewat atau pengepul lewat ketika masyarakat sedang tidak ada di rumah.

“Di aplikasi kepul ini ada 30-an Jenis sampah yang bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengepul lainnya,” jelas Andika.

Ermita Fatimah Hasibuan selaku moderator menanyakan kepada Andika Pratama  awal mula terinspirasi untuk mendirikan Kepul selain alasan tersebut dan apakah Kepul merupakan lembaga profit atau hanya sebagai wadah saja?

“Awal mula terciptanya Kepul dikarenakan banyaknya kertas yang menumpuk dan tak terpakai, ketika ingin dijual pengepul tak kunjung lewat namun ketika kami berkuliah pengepul tersebut datang, sehingga kami berinisiatif untuk membentuk platform online ini, kemudian Kepul sampai saat ini merupakan lembaga non profit hanya sebagai wadah untuk memfasilitasi para pahlawan sampah, yang kalau tidak ada mereka banyak sampah yang berserakan.” jelas Andika Pratama.

Akhir sesi diskusi Ermita Fatimah Hasibuan menyimpulkan bahwa sudah bukan zamannya membuang sampah sembarangan, di era yang sekarang ini sudah hadir Kepul sebagai platform online yang tak disangka merupakan lembaga non profit yang disisi lain mengedukasi pengepul untuk paham teknologi dan yang berangkat dari kepedulian pemuda terhadap lingkungan serta menaikkan derajat para pengepul yang dipandang sebelah mata yang padahal mereka merupakan pahlawan sampah, yang berjuang untuk menjaga lingkungan agar tak banyak sampah yang berserakan. (Ril)