Esensi Ramadhan Dalam Catatan Historis

0
30

MENYAMBUT dan tibanya bulan Ramadhan sebagai tamu agung merupakan harapan dan keinginan kita semua. Tentunya dengan datang bulan ini setiap muslim yang beriman wajib melaksanakannya selama sebulan penuh. Namun alangkah indahnya sebelumnya kita membuka lembaran untuk mengkaji kembali sejarah Ramadhan dan pengertiannya. Tidak sedikit diantara kita yang melupakan dan bahkan belum mengetahui sejarah Ramadhan itu sendiri.

Beranjak dari itu penulis mencoba untuk menampilkan kembali kupasan tersebut yang dikutip dari berbagai sumber walaupun kupasanya sangat singkat. Di sebutkan bahwa ibadah  puasa Ramadhan itu tidak langsung diperintahkan berpuasa simulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. 

Membuka lembaran sejarah, puasa Ramadhan terdapat beberapa langkah sehingga menjadi suatu tataran syariat yang mengikat bagi umat Muslim. Berdasarkan  hadis yang diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal, sejarah puasa Ramadhan tidak muncul begitu saja. Dalam riwayatnya, sebelum Nabi menerima perintah puasa Ramadhan, Nabi telah melaksanakan puasa ‘Asyura dan puasa tiga hari setiap bulannya.

Secara singkat sejarah puasa Ramadhan sendiri mulai diwajibkan (untuk melakukan ibadah puasa Ramadhan) pada tahun ke 2 Hijriyah atau 624 Masehi setelah Nabi hijrah ke Madinah, bersamaan dengan disyariatkannya salat ied, zakat fitrah, dan kurban. Hal ini berarti, bahwa puasa adalah suatu ibadah yang bernilai universal dan ibadah yang disempurnakan dari umat-umat terdahulu.

Pengertian Ramadhan

Kata Ramadhan mempunyai pengertian yang tidak sedikit. Diantaranya;

Pertama, Ramadhan berarti ” hujan “. Ramadhan berasal dari kata dasar ” Ramadiyu ” yang berarti ” hujan ” yang terlihat pada akhir musim panas , pada awal musim gugur dan membersihkan bumi dari debu . Seperti hujan  yang mencuci permukaan bumi , bulan Ramadhan mensucikan orang beriman dari dosa dan membersihkan hati mereka .

Kedua, Ramadhan artinya salah satu nama Allah. Sebagian ulama mengatakan bahwa Ramadhan adalah salah satu nama Allah, dan mereka berpendapat tidak boleh menyebut Ramadhan tanpa didahului ‘syahru‘. Pendapat ini didasari oleh hadits:“Jangan menyebut dengan ‘Ramadhan’ karena ia adalah salah satu nama Allah, namun sebutlah dengan ‘Bulan Ramadhan.’” (HR. Al Baihaqi 4/201). Argumen di atas di terbantahkan, hal ini di sebabkan menurut Imam As Suyuthi status hadist diatas dalam kitab An Nukat ‘alal Maudhuat bahwa hadits ini dhaif.

Ketiga, cuaca yang sangat panas. Namun setidaknya berdasarkan beberapa kutipan dari kitab ’muktabar, ungkapan Ramadhan itu bermaknanya “cuaca yang sangatlah panas”.:
‎( يَجِبُ صَوْمُ رَمَضَانَ ) إجْمَاعًا وَهُوَ مَعْلُومٌ مِنْ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ مِنْ الرَّمْضِ وَهُوَ شِدَّةُ الْحَرِّ ؛ لِأَنَّ وَضْعَ اسْمِهِ عَلَى مُسَمَّاهُ وَافَقَ ذَلِكَ وَكَذَا فِي بَقِيَّةِ الشُّهُورِ كَذَا قَالُوهُ وَهُوَ إنَّمَا يَأْتِي عَلَى الضَّعِيفِ أَنَّ اللُّغَاتِ اصْطِلَاحِيَّةٌ . أَمَّا عَلَى أَنَّهَا تَوْقِيفِيَّةٌ أَيْ أَنَّ الْوَاضِعَ لَهَا هُوَ اللَّهُ تَعَالَى وَعَلَّمَهَا جَمِيعًا لِآدَمَ عِنْدَ قَوْلِ الْمَلَائِكَةِ لَا عِلْمَ لَنَا فَلَا يَأْتِي ذَلِكَ وَهُوَ أَفْضَلُ الْأَشْهُرِ حَتَّى مِنْ عَشْرِ الْحِجَّةِ لِلْخَبَرِ الصَّحِيحِ
(Wajib puasa ramadhan) menurut kesepakatan ulama, puasa ramadhan merupakan perkara yang diketahui secara pasti oleh masyarakat umum. Ramadhan berasal dari kata ar-romadh yaitu panas yang terik hal ini karena kebiasaan penamaan oleh orang-orang arab atas nama-nama bulan dalam setahun. Sedang pendapat lain menyatakan penamaan ramadhan bersifat tauqify yang menamainya langsung Allah sendiri dan diajarkan pada Adam. (Kitab Tuhfah alMuhtaaj XIII/178).

Dalam ibarat lain juga di sebutkan:
( لأن وضع اسمه الخ ) عبارة المغني والنهاية لأن العرب لما أرادت أن تضع أسماء الشهور وافق أن الشهر المذكور كان في شدة الحر فسمي بذلك كما سمي الربيعان لموافقتهما زمن الربيع اه قوله ( وكذا في بقية الشهور ) عبارة المصباح في مادة ج م د ويحكى أن العرب حين وضعت الشهور وافق الوضع الأزمنة فاشتق للشهور معان من تلك الأزمنة ثم كثر حتى استعملوها في الأهلة وإن لم توافق ذلك الزمان فقالوا رمضان لما ارمضت الأرض من شدة الحر وشوال لما شالت الإبل بأذنابها للظروف وذو القعدة لما ذللوا القعدان للركوب وذو الحجة لما حجوا والمحرم لما حرموا القتال أو التجارة والصفر لما غزوا وتركوا ديار القوم صفرا وشهر ربيع لما أربعت الأرض وأمرعت وجمادى لما جمد الماء ورجب لما رجبوا الشجر وشعبان لما أشعبوا مثل العود انتهت اه ع ش

Keterangan dalam kitab al-Mughni dan an-Nihaayah “karena kebiasaan orang arab saat menamai bulan disesuaikan dengan keadaan zamannya, mereka menamai ramadhan karena bulan ini bertepatan dengan masa terik panas seperti mereka menamai dua bulan rabii’ (rabiiul awal dan rabii’us tsani) karena bertepatan dengan musim semi, begitu juga bulan-bulan lain meskipun kenyataannya pada musim-musim tertentu tidak sesuai dengan apa yang mereka namai :
1.        Ramadhan = saat bumi terbakar karena panas yang terik
2.        Syawwal = saat unta menaikkan ekornya pada wadah
3.        Dzul Qa’dah = saat merendahkan kendaran untuk dinaiki
4.        Dzul hijjah = saat menjalani haji
5.        Muharram = saat diharamkan peperangan atau niaga
6.        Shafar = saat orang arab meninggalkan rumah mereka dalam keadaan kosong
7.        Rabii’ awal =  saat musim semi
8.        Rabii’  tsani = saat musim semi
9.        Jumada Ula = saat air membeku
10.     Jumada Tsani) = saat air membeku
11.     Rajab = saat pepohonan berduri
12.     Sya’ban = saat mereka meninggalkan untuk selama-lamanya seperti kembali.

Ramadhan jangan sampai kita alpakan dengan kegiatan positif baik yang berorientasi habluminnallah (vertikal) maupun hablumminannas (horizontal) dengan menggapai mardhatillah. Amin.

Sumber:www.dinulislamnews.com