Euforia Idul Fitri

0
518

Rosina kader Damai

 

Rosina

Perlahan tapi pasti suasana euforia menyambut Idul Fitri mulai meredup. Masyarakat kembali ke rutinitas semula, baik sebagai pelajar, pekerja kantoran, pegawai pemerintah dan segudang profesi lain.

Hal ini juga sangat dirasakan oleh seorang pramuniaga, Poppy, yang sehari-hari menjaga toko pakaian dewasa di Pasar Aceh lantai dua. Kini ia mulai bernafas lega setelah tenaganya terkuras selama bulan Ramadhan karena melayani konsumen yang melonjak. Waktu kerjanya saat bulan Ramadhan lalu selama lima belas jam, kini kembali normal menjadi sembilan jam.

Pemicunya tak lain animo masyarakat yang sangat besar menyambut Idul Fitri. Himbauan bersama pemuka agama dan pemerintah di Banda Aceh yang mengatur jam operasional toko untuk buka setelah waktu shalat Isya, menyebabkan waktu berjualan menjadi lebih panjang.

Meskipun demikian, hal itu malah menjadi berkah. Omset selama bulan Ramadhan mampu membangkitkan penjualan dibanding hari biasa. Rata-rata omset seratus ribu rupiah atau bahkan tidak ada transaksi. Namun, pada bulan Ramadhan bisa mencapai enam juta rupiah per hari. Penyumbang omset terbesar berasal dari pemilik toko kelontong. Maklum ia adalah pemilik grosir. Tentu saja kesempatan rejeki nomplok setahun sekali ini tidak boleh dilewatkan begitu saja. Para pembeli yang kalap bahkan terkesan “rakus” sampai menghabiskan jutaan rupiah hanya untuk memuaskan nafsu, untuk membeli sesuatu yang mungkin tidak terlalu diperlukan.

Rejeki Idul Fitri juga dirasakan Ibu Hera penjual pecal yang omsetnya meroket tajam selama Ramadhan. Sehari-hari ia hanya membuat tiga kilogram bumbu pecal, tetapi pada bulan itu ia menghabiskan enam kilogram. Ia bahkan harus membuka gerai tambahan yang dijaga keponakan sambil memanfaatkan waktu libur dan menambah uang lebaran.

Seperti Ibu Hera, salah seorang pemilik salon di Blower, juga bersyukur karena pelanggannya menyemut selama bulan puasa. Ia bahkan terheran-heran karena hingga menjelang shalat Ied masih ada konsumen yang datang untuk potong rambut. Ia terpaksa melayani juga padahal baru istirahat dua jam karena terus melayani pelanggan hingga pukul 03.00 dini hari.

Objek Konsumsi

Bahan pangan dan pakaian menjadi komoditas penyumbang terbesar inflasi Aceh pada Juni 2015. Sebagaimana dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, harga barang dan jasa di provinsi ini naik 1,20 persen. Banda Aceh mengalami inflasi 1,20 persen, Lhokseumawe 1,03 persen, dan Meulaboh 0,57 persen. Secara keseluruhan Aceh mengalami inflasi sebesar 1,07 persen (Serambi, 2/7).

Idul Fitri bagi sebagian masyarakat Indonesia memiliki arti yang sangat sakral sehingga jauh-jauh hari mereka sudah mempersiapkan diri menyambutnya. Mulai dari tiket mudik ke kampung halaman, mempersiapkan pakaian baru untuk bersilaturahim, melengkapi perabot rumah tangga agar menjadi indah ketika tamu berkunjung, dan menyiapkan beraneka ragam makanan dan minuman.

Hal ini wajar saja sebagai sebuah motivasi konsumsi. Namun tidak jarang hal itu juga semata-mata menjadi sebuah kepalsuan. Bahkan ada yang menjadi ajang pamer dan kompetisi kepada tetangga, sehingga terkesan terlalu memaksakan diri di luar batas kemampuan dan tidak jarang berujung pada terganggunya hubungan rumah tangga. Banyak waktu terkuras untuk mempersiapkan lebaran, sehingga Ramadhan hanya sebagai sebuah rutinitas tanpa sakralitas (Dr. H. Agustin Hanafi, MA., “Makna dan Hakikat Idul Fitri”, Serambi, 24/7).

Sejatinya Idul Fitri bagi umat Islam merupakan hari kemenangan karena berhasil mengendalikan hawa nafsu dalam menggapai kesucian sehingga kembali kepada fitrah, yaitu suci seperti bayi yang baru lahir. Sebagaimana sebuah hadis dalam Islam: “Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan suci.” Hal itu hanya dapat terwujud jika yang bersangkutan telah menunaikan ibadah puasa secara maksimal dan diiringi ibadah lainnya berdasarkan keimanan yang tulus.

Konsumerisme dan Hedonisme

“Baju baru alhamdulillah, ‘tuk dipakai di hari raya, tak punya pun tak apa-apa, masih ada baju yang lama, Sepatu baru alhamdulillah, ‘tuk dipakai di hari raya, tak punya pun tak apa-apa, masih ada sepatu yang lama…..”

Demikian sepenggal bait dari lagu yang diajarkan kepada anak-anak. Harusnya bisa menjadi refleksi untuk kembali memaknai Idul Fitri dengan benar. Bukan hanya fisik lahiriah saja yang baru tetapi yang lebih penting adalah hati, pikiran, karakter kita juga diperbaharui. Hal itu bisa dimulai dari hal-hal kecil seperti taat rambu lalu litas di jalan raya, membuang sampah pada tempatnya, pakai air dan listrik secukupnya, dan sumber daya alam lain, dan banyak lagi.

Konsumerisme adalah suatu paham atau gaya hidup yang menganggap barang-barang mewah sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, dan bahkan ukuran kesuksesan dalam hidup. Konsumerisme bisa juga diartikan sebagai gaya hidup yang tidak hemat. Adapun hedonisme merupakan wacana atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan materi merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.

Perilaku konsumeristik dan hedonistik ada di semua lapisan masyarakat mulai dari pelajar, mahasiswa, para pekerja bahkan ibu rumah tangga. Mereka menjadi korban perkembangan gadget, fashion, kendaraan, dan menghabiskan cukup banyak uang untuk liburan. Hal ini menyebabkan manusia semakin kurang bersosialisasi dan cenderung individualistik. Keterikatan bahkan “memberhalakan” benda merupakan perbuatan yang melukai hati Tuhan sebagai kausalitas utama kehidupan (causa prima). Komunitas hedonistik sesungguhnya tidak menempatkan Tuhan lebih tinggi dari segalanya.

Di tengah merosotnya ekonomi bangsa Indonesia, kurs rupiah semakin anjlok, dan ratusan ribu orang kehilangan pekerjaan, sejatinya kita harus merasa prihatin dan belajar hidup hemat. Bukan menjadi korban hedonisme dan konsumerisme yang terus berlanjut hingga ujung kehidupan. Alangkah menyedihkan kehidupan yang demikian.

Penulis Adalah Aktivis Hakka Aceh, Peserta kelas menulis Media Literasi Lakpesdam NU Aceh

BAGIKAN

KOMENTAR