Gerdasi Pijay: “Jangan “Bersandiwara” Politik di Balik Baju Agama”

0
166

MEUREUDU I LA- Pilkada Pidie Jaya hingga saat ini terus di warnai oleh berbagai macam fenomena dan arus pilkada terus berjalan hingga menjelang pendaftaran calon versi independen. Sangat di harapkan dinamika politik di Pidie jaya ini berjalan sehat dan jangan sampai “menjual” nama ulama maupun embel-embel simbol lembaga keagamaan demi tercapai tujuan dan kepentingan politik pihak tertentu bahkan “sandira” politik relegi sekalipun. Demikian harapan yang di sampaikan oleh Abdullah Al-Ghifari selaku Sekretaris Jendral (Sekjen) Gerakan Pemuda Reformasi (Gerdasi) Pidie Jaya dalam siaran tertulisnya kepada liputanaceh.com, selasa, 21 November 2017.

Abdulllah sangat menyanyangkan apabila ada calon bupati Pidie Jaya hanya “bersandiwara” dan “menjual” agama bahkan ‘mengkhianati” dengan bermain di belakang ulama. Kalau ingin berpolitik berpolitiklah yang sehat dan memberi tarbiyah poltik untuk masyarakat,. Ini kita sangat berharap semoga tidak terjadi di Pidie Jaya (Pijay) tercinta ini dan sebagai masyarakat juga punya hak untuk menyuarakan kebaikan dan ma’ruf nahi mungkar walupun di media ini.

“ Kalau ingin berpolitik jangan jadikan symbol agama dan ulama sebagai “sandiwara”politik demi tujuan politik, ini namanya “pelecehan” terhadap ulama dan agama, ironisnya apabila yang menjadi “konsultan”dan tokoh dibelakangnya para tokoh yang sudah di”ulamakan” di Pijay. Sungguh sangat kita sesalkan apabila memang terjadi dan sangat berharap fenomena demikian  tidak terjadi dan yakin tidak lahir di negeri para ulama ini,” pintanya.

Ia menambahkan hadirnya ulama dalam panggung politik itu sangat di perlukan demi mewarnai nilai kebaikan dan aura positif demiperubahan, para ulama ini berperan sebagai “remote control” dan mengawal arus perpolitikan yang agamis, berani bersuara apabila ada “kecurangan” dan “sandiwara” yang tidak sehat dan jangan malah diam dan “mendukung”nya.

“Sangat diharapkan hadirnya para ulama dalam kancah politik demi mewarnai politik yang sehat dan bermartabat, apabila ada kesalahan dan ketimpangan, ulama harus berani menegur dan memperingatkannya. Ulama harus tampil netral sehingga mampu merealisaiskan perannya sebagai “lampu” umat. Ini sudah tugasnya para ulama jangan sampai diam dan ikut “menyokong” dan mencari keuntungan pribadi. Kami yakin di Pijay tidak terjadi semacam ini,” harap tokoh muda Pidie Jaya itu.