Guru Dayah Nurul Huda Kembang Tanjung Mewakili Aceh Mengikuti Diklat Kerukunan Keagamaan

0
125

JAKARTA I LA– Indonesia sebagai salah satu negara dengan populasi muslim terbanyak di dunia kerap dan berpotensi timbulnya konflik keagamaan dari tahun ke tahun cenderung masih menjadi ancaman yang menghawatirkan. Bahkan sikap intoleransi masyarakat masih menjadi faktor dominan pemicu konflik yang tidak jarang berujung pada tindak kriminalitas.

Demikian paparan Tgk. Sayuthi M. Nur Al-Hady, S. Sos salah seorang peserta satu-satunya dari Aceh yang mengikuti Pendidikan dan Pelatihan kerukunan ummat beragama di Kampus Pusdiklat Tenaga Pendidikan dan Keagamaan Kementrian Agama di Jalan Ir. H. Juanda, no. 37 Ciputat, Tangerang Selatan, selasa, (7/11/2017) kepada liputanaceh.com melalui handphone.

Ia mengatakan mengingat pentingnya membangun keharmonisan dalam masyarakat plural ini dan para peserta diklat yang mewakili agama-agama di Indonesia ini merupakan kader-kader penggerak kerukunan agama di wilayahnya masing-masing.

Harus diakui saat ini dalam masyarakat kita, peran para kader ini sangat penting ditengah-tengah masyarakat plural ini. Sebab, beragam aliran keagamaan yang dipandang sebagai pluralitas fakta sosial bisa menjadi potensi kekuatan sekaligus potensi bencana,” papar beliau yang juga agamawan dan tokoh pendidikan muda Aceh.

Alumni IAI Al-Aziziyah Samalanga itu juga mengatakan sangat diharapkan harus ada komponen masyarakat yang mampu berperan dalam mengantisipasi dan mengelola konflik, baik vertikal  maupun horizontal.

” Dalam masyarakat itu sangat diharapkan bisa membangun jalinan networking yang kuat dan terpercaya agar bisa bersinergi dengan berbagai lembaga terkait,” sambung guru Dayah Nurul Huda Tgk. Chiek Di Reung-Reung Kembang Tanjung, Pidie itu.

Tokoh muda yang aktif di dunia pendidikan dan dakwah yang  akrab di sapa Tu Say itu sangat berharap diklat yang berlangsung hampir dua minggu itu mampu menambahkan perbendaharaan  ilmu dan pengalaman baru untuk di implementasikannya dalam masyarakat nantinya.

“Alhamdulillah, sangat berharap diklat yang berlangsung kurang dari dua minggu itu mulai tanggal 6 November -16 November 2017 mampu mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang sangat berharga untuk di aplikasikan dalam masyarakat,” lanjut alumni Dayah Tauthiatuth Thullab (DTB) Arongan, Bireuen yang kini aktif di PESAN (Persaudaraan Santri) Kembang Tanjung itu. (EM)