Haram Berpuasa Hari Tasyrik, Khusus Orang Mendapatkan Daging Qurban, Benarkah?

0

DALAM Islam dikenal adanya hari Tasyrik. Keberadaan hari tersebut mulai 11 hingga 13 Zulhijah. Di kalangan Syafi’iyyah tidak membolehkan puasa di hari-hari Tasyrik sekalipun karena unsur nazar.

Imam Ahmad membolehkannya tapi jelek menjalani nazarnya. Imam Malik membolehkan di hari ketiga dari hari Tasyrik (tanggal 13 Zulhijah). Dalam shahih Muslim, Rasulullah saw., bersabda, “Hari-hari Mina adalah hari makan, minum dan berzikir pada Allah”. (HR. Muslim II/800).

Menurut kalangan Hanabilah, Malikiyyah dan Qaul Qadimnya Syafi’iyyah, bagi orang yang menjalankan haji Tamattu’ dan Qiran saat tidak menemukan hadiah diperbolehkan berpuasa di hari-hari tersebut berdasarkan sebuah riwayat hadis dari Ibn Umar dan ‘Aisyah ra., “Tidak ada kemurahan di hari-hari Taysrik untuk dipuasai kecuali bagi orang yang tidak menemukan hadiah”. (Atsar Ibn Umar dan ‘Aisyah ra- Fath al-Baari II/242).

Sementara itu, menurut Imam Ahmad, kalangan Hanafiyyah dan Qaul Qadimnya Syafi’iyyah, puasa di hari-hari Tasyrik sebagai pengganti hadiah di atas tetap tidak diperbolehkan berdasarkan larangan hadis yang pertama. Di kalangan Hanabilah, Syafi’iyyah dan Malikiyyah berpendapat, “Barangsiapa bernazar menjalani puasa dalam satu tahun, tidak masuk dalam nazarnya hari-hari Tasyrik, berbukalah dan tidak ada qadha baginya karena hari-hari Tasyrik memang hari berbuka dan tidak dapat disentuh oleh nazar sekalipun”.

Abi Yusuf, Ibn Mubaarak dan Muhammad meriwayatkan dari Imam Abu Hanifah, “Nazarnya sah hari-hari Tasyrik tersebut hanya yang lebih baik ia berbuka dan berpuasa di hari-hari lainnya, bila ia berpuasa hari-hari Tasyrik ini dirinya dianggap jelek tapi ia sudah keluar dari nazarnya”.

Diriwayatkan dari Imam Malik, “Boleh hukumnya bagi orang yang berpuasa di hari ketiga di hari-hari Tasyrik (tanggal 13 Zulhijah) bagi orang yang menazarinya”. (Al-Mausuuah al-Fiqhiyyah VII/323).

Apabila seseorang berpuasa dan tiba di tengah puasanya hari Ied fitri, Ied adha atau hari-hari Tasyrik maka puasanya batal. (Kitab  al-Fiqh alaa Madzaahib al-Arbaah IV/238). ?

Qaul Jadid menyatakan haram berpuasa sesuai sabda nabi naha ‘an shiyamiha (ayyami at tasyriq). Sedangkan qaul qadim boleh berpuasa bagi orang yang tidak mendapatkan daging kurban, tapi jika selain itu maka haram puasa hari-hari Tasyrik.

Dalam kitab al-Bukhari dari Siti ‘Aisyah dan sahabat Umar ra., tidak dibolehkan atau diringankan puasa pada hari-hari Tasyrik kecuali bagi orang yang tidak mendapatkan daging kurban (al hadyu).

Imam Nawawi memilih qaul tersebut dan Imam Ibnu Shalah mensahehkan qaul tersebut. Sedangkan menurut mazhab kita, tidak boleh.(Kitab Kifayatul akhyar 1/209).