Heboh,! Oknum Debt Colector FIF di Aceh Diduga Tarik Motor Konsumen Secara Paksa

0
501

Banda Aceh | LA – Sejumlah oknum petugas debt colector dari perusahaan pembiayaan PT FIF Multi Finance, diduga telah mencoba melakukan upaya penarikan paksa atas 2 unit kendaraan roda dua konsumen yang menunggak pembayaran selama 2 bulan, milik (RH) dan (CFN) di Gampong Neusu Aceh, Kecamatan Baiturahman, Banda Aceh, pada Selasa 29 Agustus 2017, sekira pukul 15.30 WIB.

Peristiwa itu terjadi ketika 4 orang oknum debt colector dari perusahaan FIF tersebut mendatangi rumah seorang perempuan CFN, bermaksud menanyakan perihal tunggakan motor tersebut. Setiba didepan pintu dan usai mengucapkan salam, tiba-tiba salah seorang oknum debt colector (FZ) langsung memasuki rumah CFN yang diikuti tiga temannya, meskipun mereka belum dipersilahkan masuk.

Kedatangan para petugas penagih tunggakan tersebut disambut CFN bersama temannya RH, yang kebetulan sedang berada ditempat. Namun saat masuk ke dalam rumah, FZ dengan telunjuknya ke arah RH, secara arogan bak seorang preman memerintahkan RH duduk (di kursi ruang tamu).

“Dia dan kawan-kawannya masuk tanpa izin, kemudian malah orang di dalam rumah yang dia perintahkan duduk dengan cara kasar,” ujar RH kepada awak media saat menceritakan peristiwa tidak menyenangkan itu.

Tak lama setelah RH diperintahkan duduk, FZ pun menanyakan keberadaan CFN yang seketika keluar menuju ruang tamu, FZ juga secara kasar memerintahkan CFN untuk duduk dengan cara yang sama, masih dengan gaya premanisme.

FZ lantas kembali menanyakan kepada RH dan CFN soal tunggakan dan rencana pembayaran kendaraan, namun sikap FZ yang tidak sopan ini memancing kekesalan CFN yang akhirnya menimbulkan pertengkaran kecil saat itu.

“Sopan sedikit bang, ini rumah saya,” kata CFN kepada oknum debt colector FZ tersebut, karena tidak terima diperlakukan tidak sopan dirumahnya sendiri, sedangkan tiga rekan FZ lainnya hanya menyaksikan perselisihan tersebut.

Akibat tidak menerima penjelasan RH dan CFN, soal rencana pembayaran tunggakan tersebut, FZ pun langsung berdiri dan menanyakan keberadaan kendaraan tersebut. Saat itu FZ mengatakan kedua kendaraan tersebut harus dititipkan (ditarik paksa) di kantor FIF, hingga tunggakan diselesaikan kedua konsumen tersebut.

“Dia langsung berdiri, dan nanya dimana motornya, saya bilang berarti main paksa ya, ini kan bisa disebut perampasan. Lalu dia jawab, silahkan mau laporkan kemana, sambil keluar,” kata RH menirukan gertakan oknum debt colector FZ.

Disampaikan RH, saat itu tiga rekan FZ masih berada di dalam rumah dan tidak melakukan tindakan apapun. Sedangkan FZ dengan gaya premannya sudah berada diluar, langsung menuju ke arah sebuah mobil pick – up bernomor polisi BL 8156 JA yang mereka bawa untuk mengangkut kebdaraan yang ditarik paksa, dan FZ langsung memasukkan mobil tersebut ke perkarangan rumah CFN.

Selanjutnya FZ yang bergaya bak anggota polisi ini membuka bak mobil pick up itu, yang diduga hendak mengangkut kedua motor milik dua konsumen FIF tersebut. “Dia sendirian secara arogan mau main angkat saja,” ucap RH.

Namun, hampir berlangsung kurang lebih 1 jam, FZ dan kawan-kawannya tidak juga mengangkat motor tersebut. Dirinya terlihat menelpon beberapa rekan lainnya tanpa diketahui maksud dan tujuannya. Hingga akhirnya ada sekitar delapan orang terdiri dari FZ dan rekan-rekannya di lokasi tersebut.

Sebagian rekan FZ berdiri diluar pagar, sedangkan FZ dan 2 rekan lainnya masih terlibat perdebatan dengan RH di dalam perkarangan rumah tersebut.

“Kenapa nggak diangkat, tadi koq arogan kali,” tanya RH yang diketahui juga merupakan seorang jurnalis dari sebuah media sambil merekam semua peristiwa tidak menyenangkan itu.

Tak lama kemudian, RH pun menelpon rekannya dari seorang pengacara dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) M Zubir SH, dan bermaksud agar Zubir menjelaskan aturan hukum terkait penarikan kendaraan tersebut. “Dia debat dengan Zubir soal hukum, tapi motornya tetap tidak mereka angkat ke mobil pick yang bak nya sudah disiapkan terbuka,” ketus RH.

Menurut FZ, Orang yang belakangan dia telpon dan datang ke lokasi itu (AN) atasannya yang mengaku sebagai supervisor. FZ sendiri juga mengaku dirinya sebagai salah seorang supervisor. “Dia belum angkat motornya, katanya nunggu atasannya itu (AN), tapi setelah bapak itu datang, mereka juga belum mengangkatnya, sampai orang kampung pada keluar menyaksikan kejadian itu,” kata RH.

Kemudian perdebatan terus berlanjut antara AN, FZ menghadapi Zubir dan RH. Hingga akhirnya saat magrib akan tiba, pihak FZ dan AN yang tadinya bak preman mengamuk jadi melunak dan meminta agar RH segera menyelesaikan tunggakannya.

“Jadi kapan bapak bisa bayar, kami tunggu kabarnya besok,” ujar AN yang sebelumnya sempat meminta kunci motor kepada RH, namun permintaan tersebut ditolak RH.

Setelah itu, para debt colector itu pun pergi meninggalkan lokasi kejadian itu dan tidak jadi mengambil kendaraan tersebut.Menurut informasi yang diterima media LIPUTANACEH.COM, kejadian penarikan paksa seperti ini sudah sering terjadi, dan aksi penarikan pin biasanya juga seperti halnya yang dialami RH dan CFN. (R/H)

BAGIKAN

KOMENTAR