Hindari Taklid dan Selektif Memilih Guru Mendalami Ilmu Tauhid Kalamiah

0
92
Foto : Tgk Mustafa Husen Woyla / liputanaceh.com

BANDA ACEH – Tidaklah mencukup diri dengan merasa aman dan suci dari bahaya taklid yang masih diperselisihkan dan memperkeruh iman,  kecuali orang berjiwa rendah dan ber-himmah (kemauan) hina, Seyognya muslim itu masuk ke orang-orang berilmu.

Sebagaimana Allah jelaskan dalam firman-Nya,

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah)…. (QS Ali ‘Imran : 18)

Juga senada sabda Rasulullah Saw dari Abu Umamah ra,

“Akan datang  fitnah di akhir zaman, di pagi hari orang berstatus mukmin dan sorenya sudah menjadi kafir, kecuali orang yang dijaga oleh Allah dengan ilmu.” (HR. at Tabrani)

Oleh karena itu hindari sebisa mungkin taklid (mengikuti pendapat  tanpa mengetahui sumber atau dalilnya) dalam Aqidah atau lebih makruf disebut ilmu kalam.

Maka hati-hatilah dalam segala dalam segala urusan yang ditempuh oleh orang berakal, apalagi terkait dengan keimanan yang merupakan modal utama manusia, yang di atasnya semua kebaikan dibangun.

Foto : Tgk Mustafa Husen Woyla / liputanaceh.com

Demikian antara lain, isi kajian akhir muqaddimah kitab Hasyiyah ad-Dasuqi ‘ala Ummil Baraahin, karya Al-Imam Muhammad bin Yusuf as-Sanusi yang disampaikan oleh Syaikh H Aba Asnawi Ramli Lamno  pada pengajian rutin bulanan  Alumni Dayah Bahrul Ulum Diniyah Islamiyah (BUDI) Lamno, di  Balee Lhok Pawoh, pimpinan Tgk Heru Saputra,  Lambaro, Ingin Jaya, Aceh Besar. Minggu, (4/11/18)

Selektif memilih guru

Di masa Imam as Sanusi sudah memperingatkan hati-hati dalam memilih guru dalam ilmu akidah,

Pilih guru yang sudah dikokohkan cahaya hatinya, zuhud hatinya dari dunia. Punya perhatian kepada orang yang miskin ilmu (awam yang baru belajar) dan orang mukmin yang lemah pemahamannya. Dan di zaman ini (masa Imam as Sanusi, 9 H/15 M) sudah jarang guru punya kriteria seperti dimaksud. jika ada, maka dekati dan belajarlah padanya.

“Jika ada guru yang tidak mampu menguraikan peliknya ilmu kalam maka jauhi, karena lebih besar mafsadah (kerancuan dan kesesatan),” urai Aba Asnawi selaku pimpinan Dayah BUDI Lamno.

Juga, wajib hindari, mempelajari ilmu akidah yang penuh dengan kalam filosuf,

Foto : Tgk Mustafa Husen Woyla / liputanaceh.com

Para penulisnya mengantungkan diri dengan mengutip kegilaan mereka yang merupakan kekufuran yang nyata, yaitu akidah-akidah yang kenajisannya mereka tutupi dengan berbagai istilah dan ungkapan yang samar – samar, sulit dipahami dan hanya merupakan istilah-istilah tanpa subtansi, seperti kitab al fakr ar Razi tentang ilmu kalam, kitab Thawali’ karya al Baidhawi dan yang sepaham dengan mereka.

“Mereka jarang mendapat petunjuk karena menekuni ilmu kalam yang penuh dengan pendapat para filosuf yang belum mendapat cahaya keimanan di hati atau lisan,” jelas Aba Asnawi bersemangat mensyarah teks kitab muktabarah yang menjadi rujukan utama tauhid asy’ariyyah, ahlussunah wal jamaaah itu.

Bagaimana beruntung, orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya yang membakar haibah kepada Allah (haibah: rasa takut disertai rasa hormat), membuang syariat di belakang punggungnya. dan mengajak orang lain dengan cara memoles dengan istilah-istilah yang sulit di mengerti orang. Sungguh sebagian orang telah terlalaikan, sehingga Anda lihat mereka memuliakan pendapat para filosuf yang dimurkai Allah dengan mengutip berbagai kebodohan mereka karena cinta pangkat dan agar menjadi populer dan dianggap intelektual, padahal hanya memcampur adukkan kegilaan dan kekufuran.

“Terkadang, orang awam juga ikut menyibukkan diri mengikuti kajian para filosuf itu, dan meninggalkan metode kaum as Salaf ash- Shalih. Semua ini karena mereka telah mata hatinya dari pintu anugerah Allah dan dibuka pintu murka. Mereka benar-benar bodoh karena melihat kegelapan sebagai cahaya dan cahaya sebagai ke gegalapan.” akhiri syarahan Aba Asnawi di penutup mukadimah kitab yang penuh dengan yang sangat asasi dan mendasar.

 

Alumni Dayah BUDI LAMNO,

Tgk Mustafa Husen Woyla

BAGIKAN

KOMENTAR