Indahnya Potret “Penjara Suci” Kota Santri Samalanga Menjelang Berbuka Puasa Sunat

0
31

Kehidupan didayah tentunya menjadi catatan emas mereka yang pernah “mendekam” dalam “penjara suci” itu sendiri. Perjalanan sejak awal hingga betah didayah seandainya air sungai Batee Iliek menjadi tinta sungguh tidak cukup waktu untuk dikisahkan dalam lembaran.

Salah satu tradisi menarik dan rutin yang menghiasi kota santri Samalanga terutama mereka santri dayah MUDI Masjid Raya Samalanga saat “meugang” puasa enam (puasa bulan Syawal). Fenomena menarik dan sibuk dengan menyiapkan penganan berbuka menjadi pemandangan unik dan mengesankan.

Beraneka ragam menu berbuka menghiasi seputaran jalan Batee Iliek-Masjid Raya disekitar dayah MUDI, entah apa nama jenis air, makanan, nasi dan aneka jenis lainnya termasuk es dawet ala negeri Wali Songo dab ini menjadi panen besar masyarakat sekitar.

“Alhamdulillah, santri berpuasa kami banjir rezeki, semua yang menjual makanan dan minuman disini membawa berkah besar berkat aneuk dayah ,” kata salah seorang guru senior dayah yang telah mengajar di berbagai dayah di Aceh itu.

Fenomena ini juga dibenarkan oleh salah seorang tokoh pendidikan yang menyebutkan kehadiran dayah telah melahirkan siklus ekonomi dan berkah untuk masyarakat sekitar untuk menngkatkan taraf kehidupan.

“Walau bagaimanapun dayah itu bukan hanya memberi aura metafisika untuk masyarakat sekitar lewat zikir dan doa para aneuk beut (santri dayah) juga mampu meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar menjadi lebih baik dan berkah,” papar magister pendidikan alumni IAIN Lhokseumawe itu.

Fenomema puasa enam dan “meugang” lebaran puasa enam telah melukiskan sebuah cerita tersendiri untuk para santri dan dewan guru yang melakoninya bahkan membawa berkah dunia dan akhirat untuk masyarakat sekitar dan khususnya warga gampong Mideun Jok Samalanga dan pedagang yang datang dari berbagai daerah. Senyuman warga dan santri dayah membawa keberkahan untuk masyarakat dan semuanya. Indahnya “Penjara Suci” kota santri Samalanga.