Ini Sambutan Lengkap Syaikhuna Abu MUDI Dalam Raker HUDA

0
221
Al-Mukarram Al-Mursyid Syaikhuna H. Hasanoel Basri HG saat menyampaikan kata sambutan dalam raker HUDA. (foto: LA/EM)

BANDA ACEH I LA- Al-Mukarram Syekh  H. Hasanoel Basry HG yang akrab disapa Abu MUDI ikut menyampaikan sambutan pada acara Rapat Kerja Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) yang dilaksanakan 29-30 November 2017 di Hotel Madinah.

Syaikhuna Abu MUDI selaku ketua umum HUDA dalam sambutannya di hadapan para ulama dan tamu undangan lainnya menyebutkan bahwa salah satu bukti Bapak Gubernur berkomitmen dengan Ahlusunnah Wal-Jamaah adalah ketika segelintir orang yang mencoba untuk menghilangkan kata ahlusunnah wal-jamaah dan merubah subtansi dasar dalam draft RPJMA yang akan menjadi pijakan pelaksanaan syariah Islam oleh Pemerintah Aceh selama 5 tahun ke depan – kemudian ulama dayah memberikan masukan kepada Bapak Gubernur,

“ Beliau langsung memerintahkan tim RPJM tersebut untuk mengembalikan bunyi misi dalam draft RPJMA sebagaimana redaksi asli yang tetap mencantumkan kata berdasarkan ahlusunnah wal-jamaah. Untuk itu, kami para ulama dayah menyempaikan penghargaan yang mendalam. Selain dari itu, harapan kita semua kepada Bapak Gubernur Aceh supaya juga mengadopsikan seluruh poin-poin rekomendasi ulama dayah yang telah disampaikan pada waktu Konsultasi Publik tentang RPJMA pada tanggal 15 Nopember 2017,” Kata Al-Mursyid Abu MUDI dalam sambutannya itu.

Berikut sambutan utuh Abu Mudi yang disampaikan tadi malam ini:

Penghormatan Kami kepada :

Bapak Kepala Dinas Pendidikan Dayah beserta jajarannya

Para Abu, Aba, Abi, Waled dan Teungku Pengurus Himpunan Ulama Dayah Aceh

Hadirin para tamu undangan yang dirahmati Allah SWT

Hadirin para pengurus HUDA dan tamu undangan yang kami mulyakan

Alhamdulillah pada hari kita masih diberikan kesempatan untuk berkumpul kembali mengikuti acara Rapat Kerja (Raker) HUDA dalam rangka silaturrahmi dan konsolidasi dan juga melakukan evaluasi terhadap perjalanan HUDA selama satu tahun ini. Ada beberapa hal yang perlu kita diskusikan pada kegiatan Raker kali ini seperti tantangan kondisi sosial keagamaan yang berkembang selama ini dan juga bagaimana kita persiapkan Musyawarah Besar (MUBES) HUDA yang harus kita lakukan pada tahun depan.

Mengawali sambutan Raker ini, terlebih dahulu saya ingin mengajak kita semua untuk melihat kepada masa lalu kita, mengulangi sejarah masa lalu di mana kita bersama para guru-guru besar kita telah bersusah payah untuk melahirkan sebuah wadah tempat ulama dayah berkumpul, berdiskusi dan menyamakan persepsi dalam penguatan dayah dan penguatan masyarakat Aceh khususnya dalam bidang keagamaan yang berlandaskan kepada Ahlussunnah Waljamaah. Dari perjuangan panjang setelah mengalami berbagai hambatan dan rintangan, pada tanggal 9 bulan 9 tahun 2009 wadah tersebut selamat dideklarasikan dengan nama HUDA (Himpunan Ulama Dayah Aceh).

Banyak kenangan dan kisah-kisah perjuangan yang telah dilakukan oleh para pengurus HUDA dalam memberikan kontribusi nyata terhadap perkembangan sosial dan keagamaan di Aceh yang sejatinya harus kita pertahankan dan kita lestarikan sampai kapanpun. Kita berbangga bahwa sampai hari ini dari sekian banyak organisasi-oraganisasi yang lahir pada masa-masa-masa reformasi, ternyata HUDA termasuk salah satu yang masih mampu bertahan sampai sekarang. Walaupun kita sadari bahwa pada pandangan lahiriah kita, seakan-akan organinasi ini tidak begitu aktif berkiprah dalam berbagai bentuk kegiatan. Namun sebaliknya sebagai pengurus HUDA kita sangat mengerti bahwa silaturrahmi, diskusi dan perjuangan dalam rangka pencapaian visi dan misi kita bersama yaitu memperkuat lembaga pendidikan dayah, menenagakkan Syariat Islam berdasarkan prinsip Ahlussunnah Waljamaah dan berkontribusi nyata dalam pembangunan Aceh senantiasa tetap berlangsung secara rutin dan terus menerus. Hal inilah yang kemudian melahirkan kesepekatan-kesepakatan dan program kegiatan yang senantiasa kita lakukan dalam pencapaian visi dan misi bersama.

Hadirin yang kami muliakan

Semagat wahdatul fikri dan wahdatul harakah yang senantiasa menjadi panduan gerakan oleh para ulama dan para guru-guru pendahulu kita, harus menjadi pengikat antara sesama kita khususnya pengurus HUDA Aceh sekarang dan ke depan untuk menyatukan diri dan menyamakan persepsi dalam rangka menegakkan tradisi keagamaan di Aceh yang berlandaskan ajaran yang telah dituntun oleh Rasulullah SAW yaitu ajaran ahlusunnah wal-jamaah.

Sebagai organisasi ulama yang senantiasa menyuarakan kebenaran di tengah-tengah masyarakat, HUDA sekarang ini berhadapan dengan banyak persoalan yang perlu direspon secara cepat dan bijaksana. Lahirnya generasi baru yang jauh dengan agama, bermunculan aliran pemikiran yang menyimpang dari ajaran Islam ahlusunnah wal-jamaah, tumbuhnya wacana dan gerakan-gerakan radikal dalam komunitas masyarakat kita adalah di antara beberapa tantangan bagi kita para ulama dayah untuk lebih aktif lagi memperkuat pemikiran, silaturrahmi dan gerakan penguatan ajaran ahlusunnah wal-jamaah tersebut. Karena diakui atau tidak bahwa dari sekian banyak lembaga pendidikan yang ada sekarang ini, dari sekian banyak para pemikir dan intelektual yang ada dan dari sekian banyak kekuatan yang dimiliki oleh Aceh, yang istiqamah cinta dan konsisten setia kepada ahlusunnah wal-jamaah hanyalah komunitas dayah. Jika komunitas dayah lemah atau lalai dalam perjuangan ini maka ahlusunnah wal-jamaah akan melemah dan tumbang.

Dalam kondisi ini salah satu yang membesarkan hati kita dan ini menjadi harapan kita dalam penguatan Syariat Islam seperti diajarkan oleh nabi, para sahabat dan para ulama salafus shalih yang muktabar, bahwa Gubernur Aceh yang berkuasa sekarang ini kita lihat memiliki komitmen terhadap penegakan Syariat Islam yang berlandaskan ahlusunnah wal-jamaah ini. Hal ini terlihat dari misi beliau yang pada pada misi nomor 2 menyebutkan bahwa akan “Memperkuat pelaksanaan Syariat Islam beserta nilai-nilai keislaman dan budaya keacehan dalam kehidupan masyarakat dengan iktikad Ahlussunnah Waljamaah yang bersumber hukum Mazhab Syafiiyah dengan tetap menghormati mazhab yang lain”

Salah satu bukti bahwa Bapak Gubernur berkomitmen dengan ahlusunnah wal-jamaah adalah ketika segelintir orang yang mencoba untuk menghilangkan kata ahlusunnah wal-jamaah dan merubah subtansi dasar dalam draft RPJMA yang akan menjadi pijakan pelaksanaan syariah Islam oleh Pemerintah Aceh selama 5 tahun ke depan – kemudian ulama dayah memberikan masukan kepada Bapak Gubernur, beliau langsung memerintahkan tim RPJM tersebut untuk mengembalikan bunyi misi dalam draft RPJMA sebagaimana redaksi asli yang tetap mencantumkan kata berdasarkan ahlusunnah wal-jamaah. Untuk itu, kami para ulama dayah menyempaikan penghargaan yang mendalam. Selain dari itu, harapan kita semua kepada Bapak Gubernur Aceh supaya juga mengadopsikan seluruh poin-poin rekomendasi ulama dayah yang telah disampaikan pada waktu Konsultasi Publik tentang RPJMA pada tanggal 15 Nopember 2017.

Komitmen Gubernur Aceh terhadap Syariat Islam, ahlusunnah wal-jamaah dan juga lembaga pendidikan dayah juga dapat dilihat dalam program-program unggulannya khususnya yang tertuang dalam program Aceh Carong dan Aceh Meuadab. Pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan bahwa para ulama dayah, mendukung semua program kegiatan Pemerintahan Aceh yang membangun, mendamaikan, mensejahterakan dan memartbatkan urueng Aceh berdasarkan prinsip Syariat Islam yang berlandaskan ahlusunnah wal-jamaah. Sinergitas antara ulama dan pemimpin untuk membangun Aceh Carong dan Aceh Meu-Adab itu hal mutlak yang diperlukan. Karena sesungguhnya itu pula adalah perintah dari Baginda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa ketentraman dalam dunia ini ditegakkan atas 4 pilar yaitu ilmu para ulama, keadilan para pemimpin, kedermawanan para saudagar dan doa para orang miskin.

Hadirin yang kami muliakan

Aliran dan pemikiran sesat sekarang ini tidak lagi hanya mensasarkan kepada masyarakat-masyarakat perkotaan. Justeru sebaliknya gerakan aliran dan pemikiran sesat sekarang ini sudah mengarah kepada masyarakat yang ada di desa dan dusun. Dengan menggunakan berbagai media, bahkan dakwah mereka hadir ke dalam rumah-rumah kita. Pola keilmuan yang mengedanpan logika, pemahaman terhadap nas-nas agama yang bersifat lahiriah dan pendekatan- pendekatan yang lebih dekat kepada hawa nafsu menjadikan aliran ini lebih cepat diserap oleh masyarakat kita. Oleh karena itu kita perlu mempersiapkan langkah dan metode dakwah yang baik bagaimana menyelamatkan masyarakat supaya tidak terjerumus dalam aliran-aliran tersebut.

Salah satu yang paling penting kita lakukan adalah memperkuat kapasitas peribadi kita masing- masing dengan kajian-kajian ilmu secara rutin. Hidupkan kembali tradisi mutala’ah dan penguasaan materi-materi kitab secara mendalam. Perkuat komunitas ahlusunnah wal-jamaah dengan hafalan dan pemahaman ayat-ayat dan hadits-hadits ahkam. Tumbuhkan dalam hati mereka perasaan cinta kepada sirah nabawiyah, sirah para sahabat dan para ulama muktabar. Dan bekali mereka dengan kemampuan logika untuk menolak syubhat-syubhat yang disampaikan oleh gerakan dakwah yang menyimpang. Usaha ini harus kita lakukan secara meluas dan terus menerus sehingga tidak ada ruang tempat dan ruang waktu bagi aliran-aliran menyimpang tersebut masuk ke dalam lingkungan masyarakat kita. Semua kita bertanggung jawab untuk menjaga dan mengarahkan masyarakat kita ke manhaj Ahlussunnah Waljamaah yang dijanjikan oleh rasulullah sebagai manhaj yang akan menyelamatkan semua kita dari api neraka.

Hadirin yang kami muliakan

Akhirnya sebagai kata penutup, perlu kami sampaikan bahwa sebagai organisasi representatif ulama dayah di Aceh HUDA harus tampil ikut terlibat menyikapi berbagai permasalahan termasuk kebijakan- kebijakan pemerintahan yang menyangkut dengan kepentingan agama dan umat. Kesinergian umara dengan ulama adalah tuntutan Islam, bukan hanya cuma tuntutan sosial atau politik sebagaimana yang dipersepsikan oleh sekelompok orang yang selama ini anti terhadap eksistensi ulama dan anti terhadap pelaksanaan Syariat Islam Ahlussunnah Waljamaah berlaku secara baik di negeri yang kita cintai ini.

 

BAGIKAN

KOMENTAR