Innalillahi! Sosok Pemuda Ini Meninggal Menjelang Shalat Jum’at

0
4521

BIREUN I LA- Muhammad bin Sulaiman atau akrab yang di panggil “Manyak” warga Mideun Jok, Samalanga salah seorang pemuda yang dikenal baik dengan semua lapisan masyarakat baik kalangan dayah MUDI Masjid Raya Samalanga dan masyarakat sekitarnya telah berpulang kerahmatullah menjelang shalat jum’at hari ini, (2َ2/12/2017)

“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, hari ini salah seorang pemuda yang di kenal baik dan dekat dengan kalangan dayah terutama Dayah MUDI Samalanga dan dayah sekitarnya juga dengan kalangan dan lapisan masyarakat sekitar. Beliau telah menghembus nafas terakhir menjelang shalat jum,at, (22/12/2017)”, kata Tgk. Marzuki MA, M. Sos selaku tokoh masyarakat setempat dan guru senior dayah MUDI Samalanga kepada liputanaceh.com, jum’at, (22/12/2017).

Ia mengatakan sosok yang akrab di sapa “Manyak” itu dalam kesehariannya sangat dekat dengan kalangan dayah MUDI baik santri terlebih juga kalangan dewan guru dan guru besar dayah tersebut. Mereka yang pernah belajar di MUDI dan sekitarnya tidak pernah yang tidak mengenal almarhum yang juga dalam banyak kesempatan sangat simpatik dan membela dunia dayah saat ada yang melecehkannya.

“Almarhum orangnya sangat baik dan setia bahkan dalam setiap kesempatan membela dayah terutama MUDI disaat ada orang yang menjelekkan dan menghina dayah dan elemen,” lanjutnya yang juga akrab disapa Abati Simpang Matang dengan nada menggugah.

Abati menambahkan almarhum sudah berada di sekitar masjid dengan perlengkapan shalat namun saat mendengar kenderaan roda miliknya yang merupakan “sibuah hatinya” terbakar ada percikan api, dia segera bergegas ke rumah yang hanya beberapa meter dari Masjid Po Teumeurohom yang terletak di perkarangan dayah tersebut, sesaat kemudian ketika sudah masuk ke rumah dia menghembuskan nafas terakhirnya.

“Al-Marhum orangnya sudah berada di sekitar masjid untuk melaksanakan shalat jum’at dengan pakaian lengkap. Namun beberapa saat kemudian terlihat honda yang sering dia gunakan sehari mencari rezeki kebetulan al-marhum berprofesi sebagai tukang ojek (RBT) adanya percikan api (terbakar ringan), almarhum pulang untuk memadamkannya, beberapa saat kemudian masuk kerumah setelah itu al-marhum menghembuskan nafas terakhir,” lanjut master komunikasi IAIN Lhokseumawe itu.

Abati menyebutkan keikhlasan dan kesetiaan al-marhum membela kalangan dayah saat ada yang mencemoh dan menghinakan serta berhubungan dengan kalangan dayah, Allah memberikan sebuah hadiah yang tidak bernilai dengan meninggal di hari jum’at dengan husnul khatimah.

“Ini sebagai bukti keikhlasan dan kesetian al-marhum membela kalangan dayah saat ada yang merendahakannyam. Allah memberikan hadiah meninggal du hari jum’at dengan husnul khatimah.  Seseorang itu di lihat di akhir hayatnya sesuai dengan hadist nabi yang menyebutkan sesungguhnya segala pekerjaan dilihat di akhir hayatnya,” paparnya yang juga dosen IAI Al-Aziziyah Samalanga itu.