“Jangan Hanya Sekali Tidak Jadi Imam Shalat, “Mengharamkan” Tidak Hadir Berjamaah Selamanya”

0
60

MEUREUDU I LA- Penceramah kondang dan legendaris Tgk. H. Muhammad Nur Hasballah dalam tausyiah memperingati maulid nabi Muhammad Saw di gampong Blang Dalam, Bandar Dua, Pidie membuat memukau dan terkesima untaian dan paparan dengan khas dan uniknya mengupas sejarah kelahiran baginda nabi di hadapan hadirin tujuan kelahirannya untuk memperbaiki akhlak dan memanusiakan manusia.

“Kelahiran baginda nabi Muhammad Saw untuk memperbaiki akhlak yang mulia dan memanusiakan manusia,” ulasnya dengan nada khasnya di perkarangan meunasah tersebut, minggu, (8/1/2018).

Ia juga menceritakan bukan hanya sejarah nabi Muhammad SAW juga sejarah para nabi termasuk nabi Ibrahim saat putranya Ismail dalam memilih jodoh dengan mengedepankan istri yang berakhlakul karimah.

“Nabi Ibrahim saat mengetahui putranya akan menikah, beliau terlebih dahulu memeriksa calon istri dengan perangai dan akhlak yang baik untuk putranya Ismail tersebut,” papar ketua MPU Pidie Jaya dengan panjang lebar hingga kisah nabi Musa.

Sang ” Singa Podium” itu menanyakan kepada hadirin yang memadati perkarangan sekitar meunasah setempat terutama kaum Ibu. Siapa yang ingin masuk surga harus ada empat perkara. Hal ini berdasarkan hadist nabi saat ditanyakan tentang kunci surga untuk kaum hawa.

“Kaum ibu apabila ingin mendapatkan air harus memiliki empat perkara, menjaga shalat fardhu lima waktu. Walupun ibu ada “tanggal merah” itu sebagai bentuk kasih sayang Allah dan dihapuskan dosa para perempuam, kedua menunaikan?puasa Ramadhan, ketiga, menjaga kehormatan dan terakhir taat dan hormat kepada sang suami. Bekal 4 perkara itu perempuan boleh memilih surga mana saja dia masuki dan ini merupakan berdasarkan hadist nabi,” lanjut sosok tokoh ulama Aceh yang juga pendai terkenal sepanjang masa itu.

Tgk. M. Nur Hasballah juga mengajak para masyarakat baik laki-laki dan perempuan untuk bersama-sama untuk menuntut ilmu walaupun saat ke majlis ta’lim tertidur minimal sudah ada pahala dan naungan malaikat.

Sang tokoh itu terakahir dalam paparannya menceritakan dengan nada humoris untuk saling melengkapi dan menghargai jangan gara-gara tidak jadi Imam shalat sewaktu saja s lantas “mengharamkan” diri untuk tidak shalat jamah di meunasah atau musahalla gampong seterusnya.

“Kita harus bersikap teladana dan saling menghargai jangan hanya tidak sempat menjadi Imam satu waktu di gampong shalat rutin lima waktu sudah bersikap “mengharam”kan diri tidak mengahadiri shalat jamaah di meunasah tersebut, selamanya walaupun itu kewajiban kita sebagai imam resmi setempat,” tamsil sang legendaris “singa podium” dengan nada humorisnya sesaat mengakhiri tausyiah di gampong yang juga menjadi guru tetap Majlis Ta’lim tiap malam jum’at sepeninggal almarhum Tgk. H. Mukhtar Hasballah itu.