Jangan Menghina dan Memperolok Ulama, Ini Akibatnya

0
362

Kita mengetahui bersama ulama itu merupakan wakil atau “delegasi” Rasul dalam meyampaikan risalah dan petuah untuk  umat. Mereka para ulama mewariskan ilmu sebagai pewaris nabi. Hal ini dijelaskan dalam hadist baginda nabi : “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Abu Dawud). Bukan hanya itu Allah SWT juga meninggikan derajat para ulama sebagai ahli ilmu. Ini sebagaimana disebutkan dalam dalam firman-Nya berbunyi: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. [al-Mujadilah/58 : 11].

Jelas menghormati orang alim sebagai suatu anjuran yang harus kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari, dalamhal ini Thawuspun berkata: ““Termasuk Sunnah, yaitu menghormati orang alim.” kitab Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi karangan Ibnu Abdil Barr (I/129).Terkadang ada diantarakita yang “senang” untuk mencaci maki para ulamadengan bermacam modus, membuat cerita fiktif dengan sasaran dan maksud “menhinakan” ulama, menulis di dinding medsos dan bermacam bentuk lainnya dengan sasaran sebagai “istihza’.

Abu alSana Shihab al Din al Sayyid Mahmud al Alusi al Baghdadi atau akrab dan popular ulama mudaitu dnegan nama Al-Alusi menomentari tentang pengertian “istihza’ disini dalam karyanya Ruhul Ma’ani : “Istihza’, artinya merendahkan dan mengolok-olok.

Al-Ghazzali menyebutkan makna istihza’, yaitu merendahkan, menghinakan dan menyebutkan aib dan kekurangan, supaya orang lain mentertawainya; bisa jadi dengan perkataan, dan bisa dengan perbuatan dan isyarat.” (Kitab Ruuhul Ma’aani, Abu alSana Shihab al Din al Sayyid Mahmud al Alusi al Baghdadi, (I/158).

Berdasarkan nash-nash di atas, jelaslah bahwa kewajiban setiap muslim terhadap para ulama dan orang-orang shalih adalah mencintai dan menyukai mereka, menghormati dan memuliakan mereka, tanpa berlebih-lebihan atau merendahkan sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Mengolok-olok ulama dan orang-orang shalih, mengejek atau melecehkan mereka, tentu saja bertentangan dengan perintah untuk mencintai dan memuliakan mereka. Melecehkan ulama dan orang shalih, sama artinya dengan menghina dan merendahkan mereka. (kitab Jami’ Ulum wal Hikam karangan Ibnu Rajab :II/334).

Imam Mulla`Ali bin Sulthan al-Harawi al-Qari Mala Ali Al Qari, ketika menjelaskan tentang orang yang melecehkan ulama dengan sindiran menyebutkan :“Betapa buruk penampilannya, memotong kumis dan melipat sorban di bawah dagu” (maka) beliau mengatakan,”Perkataan itu termasuk kufur, karena isinya melecehkan ulama. Yang sama artinya melecehkan para nabi. Karena para ulama adalah pewaris para Nabi. Memotong kumis adalah salah satu Sunnah para nabi. Menganggapnya buruk adalah kufur, tanpa ada perselisihan pendapat diantara ulama.”

Kita sebagai umat Islam di larang mencela kepada sesama terlebih kepada pewaris nabi  Muhammad Saw. Janganlah ulama yang berjuang dalam menegakkan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar. Meskipun kita tidak memuliakan mereka sebagai orang yang telah di naikkan derajatnya oleh Allah SWT, minimalnya tidak menghina baik dengan berghibah dan lainnya.

Sosok ulama merupakan Wali Allah dan menghinakan mereka menandakan sang penghina telah menabuh perang dengan llah SWT. Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari -rahimahullah- dari Abu Hurairah –radhiyallau ‘anhu- : Dari Abu Hurairah”Sesungguhnya Allah ta’ala telah berfirman : ‘Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka sesungguhnya Aku menyatakan perang terhadapnya… [HR. Al Bukhari)

Mereka  yang seakan merasa sangat lezat dengan meng-ghibah para ulama, tentu saja efek negatif dan akibat buruk akan di raskan oleh mereka pencela baik di dunia terlebih di akhirat nantinya. Salah satu diantara sekian banyaknya yang akan dirasakan oleh pencela dn penghina ulama, akhir hidup mereka akan berhujung dengan titel su-ul khatimah (akhir kehidupan yang jelek). Nauzubillah min zalik.

Pernah diceritakan pada zaman dulu salah seorang bernama Al-Qadhi Az-Zubaidi, ketika dia meninggal dunia lisannya berubah menjadi hitam, hal ini di sebabkan beliau semasa hidupnya suka mencibir salah seorang ulama terkemuka di dunia Islam Al-Imam An-Nawawi.

*** Helmi Abu Bakar El-langkawi, Penggiat Masalah Agama dan Sosial Masyarakat.