Jangan Nodai Sakralitas Masjid dengan Mimbar Politik Praktis

0
119

Oleh: Ahmad Ghazali Al-faruq*

Masjid merupakan rumah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. bukan hanya ibadah saja dapat di lakukan di masjid juga hal postif lainnya selama tidak melanggar norma yang telah di gariskan dalam syariat Islam itu sendiri.  Salah satu diantaranya berpolitik juga tidak dilarang dalam masjid. Namun kita harus meluruskan terlebih dahulu esensial politik itu bagaimana yang dimaksudkan disini yang dapat dijadikan masjid sebagai media pembelajarannya?

Kita harus mengetahui bahwa politik itu dimensinya sangat luas. Politik dalam arti luas tidak dilarang untuk dikhutbahkan di masjid-masjid. Bukan politik praktis dan bukan politik partisan. Politik adalah ilmu dan sarana tentang penyelenggaraan negara. Membahas politik dimanapun, di masjid, kampus, gereja, dan tempat-tempat lain bila terbatas pada bahasan sisi keilmuan, sisi moralitas, sisi keadilan, dan sisi kesejahteraan masyarakat, termasuk saran dan kritik terhadap praktik-praktik penyelenggaraan negara yang dianggap merugikan masyarakat, tidak dilarang. Politik praktis dan politik partisan, sebaliknya, hanya berurusan dengan perebutan kekuasaan. Ketika masjid melibatkan diri kedalam urusan berebut kekuasaan dan berpihak kepada kelompok kekuasaan dan partai tertentu, disitulah potensi perpecahan bangsa dan umat seagama akan terjadi karena umat tersebar aspirasinya pada lebih dari satu kelompok politik dan partai. (Masjid dan Politik,Abdillah Toha, 2016)

Jelas politik yang dilarang untuk di jadikan masjid sebagai ajang kampanye dalam pemilihan kepala daerah, pemilihan anggota legeslatif dan sejenisnya. Namun sangat disayangkan terkadang mereka yang melakukannya orang yang sudah ditokohkan dalam masyarakat juga aneh bin ajaibnya mereka para pelaku sosok legeslatif yang seharusnya menjadi sosok tauladan dalam memprkatekkan politik yang sehat dan berwibawa.

Sejarah telah mencatat bahwa masjid yang pernah menjadi sejarah yang tidak baik sebagaimana ditulis dalam literatur sejarah Islam, tidak jauh dari Masjid Quba (masjid pertama yang dibangun Nabi Saw.) dibagunglah masjid “dirar” yang berarti masjid tempat yang penuh kemudaratan. Tujuan pendirian masjid itu adalah untuk memecah-belah barisan muslim yang sudah terbiasa datang ke masjid Quba dan mencelakakan Nabi Muhammad dengan mengundangnya untuk shalat di situ. Inilah untuk pertama kalinya masjid digunakan untuk tujuan busuk dan keji, bahkan oleh orang yang telah mengaku sebagai muslim.

Mereka sesungguhnya bukan muslim sejati, karena ternyata punya niat buruk dan jahat. Mereka adalah orang munafik, yakni orang yang secara lisan mengaku sebagai orang beriman dan muslim, tetapi hatinya mengingkari. Mereka biasa shalat bersama Nabi, tetapi hati mereka memendam kebencian dan kedengkian terhadapnya. Mereka ada di tengah komunitas muslim, tetapi pikiran dan hati mereka selalu mencari cara dan membuat rencana untuk menghancurkan jalinan persaudaraan.

Kita sebagai masyarakat Aceh yang dari endatu sudah muslim dan mengetahui bahwa masjidmerupakan temapt beribadah, ini sesuai dengan namanya, tempat bersujud kepada Allah. Masjid merupakan media kita untuk menundukkan kepala, menghamba, dan menangggalkan sikap jumawa. Dalam hal ini Nabi Saw. bersabda, “Telah dijadikan untukku (dan untuk umatku) bumi sebagai masjid dan sarana penyucian diri (HR. Bukhari dan Muslim). Masjid itu tempat bertolak, sekaligus pelabuhan tempatnya bersauh dalam ketaatan kepada Allah.

Masjid bukanlah sekadar tempat untuk ibadah, tetapi masjid mempunyai fungsi sosial dalam menjaga ketertiban dan merealisasikan kesejahteraan: sejahtera lahir dan batin. Seharusnya, di sana ada masjid, maka di sana mesti harus ada kesejahteraan. Bukan hanya sejahteran bagi umat Islam, tetapi juga sejahtera bagi semuanya.

Kita sebagai umat Islam wajib memakmurkan masjid, begitu pula dari ikhtiar-ikhtiar produktif strategis, masjid memakmurkan umat Islam. Pengelolaan masjid harus didasarkan ketakwaan, bukan atas dasar kepentingan sesaat dan golongan. Masjid harus menjadi sumber lahirnya peradaban yang islami, sejahtera, sentosa, dan penuh kesejahteraan. Masjid harus menjadi tempat yang sejuk, tempat menyemai kerukunan dan persatuan bangsa ini.

Masjid harus dikembalikan peran dan fungsinya  sebagaimana yang diajarkan Rasulullah. Di sana ada masjid, di sana ada kesejahteraan. Di sana ada kesejahteraan, di sana ada persatuan dan perdamaian. Masjid sebagai sumber lahirnya kesejahteraan, perdamaian dan kemaslahatan publik.

Dalam bahasa Al-Quran, masjid seperti inilah yang disebut masjid yang dibangun di atas landasan takwa yang layak sebagai tempat shalat. Masjid yang diisi dengan orang-orang yang gemar melakukan pembersihan diri dari kotoran, baik itu kotoran lahiriah maupun batiniah. Kotoran lahiriah adalah perbuatan-perbuatan buruk atau jahat, sementara kotoran batiniah adalah keinginan-keinginan buruk/jahat yang terlintas di dalam hati. Masjid itu tempat menyeru amar makruf nahi munkar, bukan tempat menggelar konspirasi jahat dan makar

Negeri kita bukan negara sekuler tetapi juga bukan negara agama. Ideologi Panca Sila dan UUD 1945 yang kita sepakati bersama mengayomi semua agama. Setiap warga negara yang memenuhi persyaratan undang-undang, apapun latar belakangnya, berhak memilih dan dipilih dalam pemilihan umum.

Masjid dari namanya adalah tempat bersujud. Tempat kita mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Hadis Nabi SAW mengatakan bahwa masjid dibangun berlandaskan taqwa. Bukan tempat bersaing dalam urusan dunia dan politik praktis bahkan menyampingkan nilai kearifan local suatu masjid demi melampiskan keinginan dan hasrat pribadi dan kelompokkan dengan menelanjangi nilai-nilai “relegius sosial” yang telah lama di jalankan oleh para tokoh ulama di masjid tersebut. Kadang  kerap dengan “kesombongan”nya menyebabkan ketenangan dan kenyaman pelaksanaan shalat jum’at terganggu bahkan “tidak  sah”. Tidakkah berpikir berapa banyak kewajiban ornag lain yang terbuang sia-sia tanpa yang peduli dengan “pelecehan” syariat ini?

Seharusnya sosok ulama, tokoh agama, para teungku dan sejenisnya, sebaiknya menempatkan diri sebagai panutan moral dan pemimpin masyarakat yang memberi teladan yang baik. Jauhilah kegiatan berpolitik praktis dan upayakanlah lebih bersikap negarawan sebagai pemimpin umat yang bermartabat dengan pandangan jauh kedepan. Kewajiban menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar itu berlaku semua lapaisan masyarakat termasuk ulama, umara dan masyarakat biasa.  Dalam hal ini telah di isyarahkan dalam sebuah hadist, “Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia menegah dengan tangannya, apabila ia tidak sanggup, maka hendaklah ia menegah dengan lidahnya, dan apabila ia juga tidak sanggup, maka hendaklah ia menegah dengan hatinya, yang demikian itu (menegah dengan hati) ialah tanda iman yang sangat lemah. (HR. Muslim).

Menaggapi bagaimana klasisfikasi menegakkan kemaksiatan itu lebih jelas di apaprkan oleh Al-Qurthubi dalam tafsirnya: Berkatalah para Ulama “Kewajiban memerintahkan yang makruf dengan tangan diperuntukkan kepada Raja-raja (presiden dan perangkat negara), kewajiban menyampaikan yang makrur dan menegah yang mungkar dengan lisan diperuntukkan kepada para Ulama, dan kewajiban Amar makruf nahi mungkar dengan hati diperuntukkan kepada orang awam. Apabila kemungkaran mungkin dicegah dengan lisan, cukuplah dicegah dengan lisan saja, apabila harus dengan kekerasan dan memberi hukuman, maka harus dilakukan, tetapi selama kemungkaran mungkin dihilangkan atau dicegah tanpa kekerasan, tidak dibolehkan mencegah dengan kekerasan. (Syaikh al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, Juz. 4, hal. 49, al-Maktabah al-Syamila)

Beranjak dari itu hendaknya kita jangan menjadikan menodai masjid sebagai ajang politik praktis baik secara langsung maupun tidak langsung juga kita tetap menghormati kearifan lokal suatu tempat sehingga tidak menyalahi norma dan kebiasaan yang terkadang berhujung kepada malapetaka dan “murka” bahkan harus menanggung “dosa”orang lain sekalipun. Intinya tempatkanlah sesuatu pada tempatnya bahkan sekaliber tokoh comedian lokalpun telah memperingatkan kita dengan petuahnya  “waza’ syikfil makan”. Semoga kita mampu selalu menjadi penerang dan lampu dalam kebaikan.

*Ahmad Ghazali Al-Faruq, pemerhati masalah agama dan kemasyarakatan, tinggal di Pidie Jaya.