Kado Spesial Dibalik Kesabaran Sang Sufi Guru Senior Darul Munawwarah Kuta Krueng

0
4931

SAMUDERA sabar tentunya sangat dalam dan penuh ombak dan badai kita harus melaluinya. Begitu juga kesabaran menanti jodoh dalam Islam. Sebab jodoh itu merupakan takdir yang sudah ditetapkan Allah. Tugas kita hanya berusaha dan berikhtiar sebagai hamba.

Mencermati fenomena dunia jomblo yang ingin sekali menikah selalu dirundung dilema, Kapan jodohku datang? Meski berbagai upaya sudah dilakukan, tetapi hasilnya nihil. Haruskah sabar menunggu cinta menurut Islam?

Jawabannya sudah tentu. Sebab, sabar bagian dari jihad dan berjihad itu tidak mesti mengangkat senjata dan bazoka. Jangan lupa bahwa jodoh sudah ditetapkan dan itu hanya persoalan waktu.

Menjawab fenomena ini, Alquran Surat Al Hadid ayat 22-23, Allah telah menjelaskan dengan firman-Nya:
“Tidak ada suatu bencana yang menimpa di bumi dan dirimu, kecuali sudah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Agar kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan agar kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak suka setiap orang sombong lagi membanggakan diri.”

Berdasarkan keterangan di atas sangat jelas bahwa semuanya sudah tertulis dalam kitab di Lauhul Mahfuzh, termasuk jodoh.

Meneladani Kisah Jodoh Tidak Kunjung Datang

Kesabaran menanti jodoh juga telah dialami oleh orang terdahulu. Salah satunya kisah cinta Siti Khadijah sabar menanti jodoh akan berbuah manis.

Kita ketahui bahwa Khadijah merupakan seorang perempuan yang ditinggal oleh sang suaminya sebanyak dua kali. Beliau sampai bingung, kenapa setiap yang menikahiku meninggal?

Sebagai seorang perempuan, kondisi itu tentu menjadi musibah yang sangat dalam. Tapi berkat kesabaran, Khadijah akhirnya mendapatkan mutiara.

Siapa dia? Adalah Nabi Muhammad SAW. Dengan kesabaran, ternyata Allah ternyata mempersiapkan mutiara untuk Khadijah. Nabi Muhammad menikahi Khadijah meski usianya terpaut cukup banyak. Ternyata Allah sudah mempersiapkan jodoh terbaik untuk Khadijah, yaitu Nabi Muhammad SAW.

Fenomena kesabaran dalam menanti jodoh juga mewarnai kehidupan Tgk. Rawiyah Ulim sosok guru senior dayah putri Darul Munawwarah Kuta Krueng, Ulee Glee, Pidie Jaya yang telah lama mengabdi dan mengajar serta menjabat ketua umum putri di dayah yang dipimpin Al-Mursyid Syaikhuna Abu Kuta Krueng.

Keluarga besar Tgk. Rawiyah merupakan keluarga relegius, semua saudaranya menempuh pendidikan di dayah baik dayah Darul Munawwarah Kuta Krueng, Dayah MUDI Masjid Raya Samalanga. Sekitar awal tahun 1990-an beliau pergi mengembara ke Penjara Suci Darul Munawwarah Kuta Krueng dan mengabdi serta menjadi Ketua Umum di dayah yang kini telah berkembang pesat dan go nasional.

Ini sebagaimana diungkapkan Tgk. Ridha seorang Munafis Tarekat Naqsyabandiah yang merupakan adik kandung Tgk. Rawiyah. Kesabaran sosok wanita yang alim dan salihah yang juga seorang ahli sufi ketekunannya menempuh ibadah suluk yang sudah menjadi rutinitasnya di dayah Abu Usman Al-Fauzi Lueng Ie di bawah bimbingan Al-mursyid Abon Tajuddin (putra Al-Marhum Abu Lueng Ie).

Akhirnya kesabaran, ketukunan beribadah dan mengabdi diri mengajar di dayah Kuta Krueng, Allah SWT mempertemukan Tgk. Rawiyah dengan seorang ulama muda yang mempunyai banyak kelebihan dan spesialis di bidang khat dan lainnya asal Dewantara, Krueng Geukeuh, Aceh Utara pimpinan dayah Najmush Shagirah.

Tentu saja ini buah kesabaran dari dua sejoli yang sebagian hidupnya telah mengabadi diri kepada dinul islam dan lewat kiprah yang sama pula di “Surga Dunia” dayah salafiah baik Tgk. Rawiyah maupun Tgk. Hamdan Amran.

Kebahagiaan mereka kian beraroma sa’adah daaraini kala Abu Kuta mengikat Hamra (Hamdan-Rawiyah) dalam pernikahan. Biasanya Ulama kharismatik Aceh itu melangsungkan pernikahan di kediaman dayah Kuta Krueng, namun ini sebuah keistimewaan dan kehormatan, Abu melakukan akad nikah di kediaman sang ratu sehari Tgk. Rawiyah.

Beranjak dari itu hanya doa yang dapat kita pintakan semoga dua pasangan menjadi keluarga “Baiti Jannati” dalam bingkai sakinah mawaddah warahmah.

Indahnya seuntaian doa untuk kepada dua pasangan yang sedang berbahagia :

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُمْا، وَارْحَمْهُمْا، وَبَاِرِكْ لَهُمْا فِيْمَا رَزَقْتَهُما
بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

Ya Allah, ampunilah keduanya , sayangilah keduanya dan berkahilah apa-apa yang Engkau karuniakan kepada keduanya. Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik ketika senang maupun susah dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan”.

Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Tahriq

***Helmi Abu Bakar El-Langkawi Penggiat Literasi dan Pecinta Kuliner Aceh asal Pidie Jaya.

BAGIKAN

KOMENTAR