Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Meningkat

0

BANDA ACEH – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Banda Aceh meningkat menjadi 94 kasus dari 54 kasus tahun sebelumnya, Senin, 7 September 2015. Kasus ini didominasi oleh kekerasan terhadap perempuan.

Demikian hasil pemaparan yang dilakukan oleh Divisi Kajian Publik Flower Aceh dalam diskusi terbatas merujuk data terbaru dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Banda Aceh. Data ini dikumpulkan hingga 25 Agustus 2015.

“Angka kekerasan selama pertengahan tahun 2015 ini jauh melampaui total kekerasan yang terjadi di tahun lalu,” ujar Divisi Kajian Flower Aceh, Mirza Ardi, melalui siaran persnya kepada wartawan.

Berdasarkan wilayah sebaran kasus kekerasan paling banyak terjadi di Kecamatan Baiturrahman sejumlah 14 kasus, diikuti oleh Kuta Alam (13 kasus), Kuta Raja (10 kasus), Meuraxa, Lueng Bata (9 kasus), Ulee Kareng (7 kasus), Banda Raya (6 kasus), Jaya Baru (5 kasus), dan Syiah Kuala (2 kasus).

Flower menilai dampak kekerasan terhadap perempuan dan anak tak bisa dianggap enteng. Fakta lapangan membuktikan perempuan yang menjadi korban kekerasan menderita trauma psikis hebat dari frustasi, ketakutan, ingin bunuh diri, bahkan ada yang kehilangan kepercayaan kepada tuhan.

Demikian pula halnya dengan anak yang menjadi korban kekerasan. Selain menjadi minder dan menurunnya prestasi di sekolah yang mengakibatkan masa depan mereka terancam, dalam beberapa kasus ada yang terkena HIV.

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan Flower, fakta dan angka tersebut hanya kasus yang terlapor. Diperkirakan masih banyak kasus-kasus kekerasan lainnya yang belum terlapor.

“Kami masih melakukan pendataan lebih lanjut soal ini,” ujar Mirza.