Ketua NU Aceh Desak MUI Menjelaskan Masalah Penistaan Agama

0
427

tgk-h-faisal-ali-ketua-pw-nu-acehBanda Aceh –  Tgk. H. Faisal Ali, Pimpinan Wilayah Nahdatul  Ulama Propinsi Aceh  mendesak  Majelis  Ulama Indonesia (MUI) Pusat secepatnya menjelaskan masalah pernyataan Ahok kepada masyarakat,  agar masyarakat bisa tentram.

“Masalah agama yang berhak menilai benar atau salah adalah ulama bukan ketua partai politik atau orang biasa”, kata Tgk.H. Faisal Ali, kepada Liputanaceh.Com di Banda Aceh, Minggu (9/10/2016).

Tgk Faisal Ali yang juga ‎Pimpinan Dayah Mahyal ‘Ulum Al-Aziziyah Sibreh‎, Aceh Besar ini mengatakan hal itu menanggapi  pernyataan Ahok yang berkaitan dengan Surat Al-Maidah (ayat 51) yang hangat dibicarakan dijejaring media sosial sebagai penistaan Agama  Islam.

Dikatakan Faisal, kalau kita tinjau dari berbagai sudut pandang keislaman ( Pernyataan Ahok-red) adalah salah. Menurut kami kalau yang dimaksudkan Ahok (Gubernur DKI Jakarta), Al-Qur’an yang membodohi maka salah dan kalau dimaksudkan dengan mufassirnya yang salah berarti Ahok menyalahkan Ulama Islam.

“Makanya wajar sekali umat Islam marah dan menuntut Ahok minta ma’af’, tegas Faisal Ali yang juga Sekretaris Himpunan Ulama Dayah (HUDA) Propinsi Aceh ini. Ahok, tambah Faisal, dipersilakan mengangkat ungkapan-ungkapan ajaran agamanya pada setiap kesempatan  dengan tidak mencampuri ajaran Islam. Kenapa Ahok kurang berani mengangkat ajaran agamanya dihadapan publik?.

Menyalahkan Ulama Islam oleh siapapun, tegas Faisal Ali,  terlebih lagi orang non muslim adalah bahagian dari penodaan ajaran Islam dan ini harus dipertanggungjawabkan.

Haram Memilih Pemimpin Non Muslim

Menurut  Faisal Ali, pernyataan Ahok itu sangat menyinggung perasaan  mayoritas umat Islam. Ulama-ulama yang mengajar agama kepada umat Islam dengan tafsir yang muktabar dan pengertian yang benar yaitu  haram memilih pemimpin non muslim dianggap oleh Ahok rasis dan pengecut  sebagai lawan politiknya dimana yang benar tafsir Al-Qur’an seperti yang dia tafsirkan ini kita sangat terluka sebab setelah dihina ulama kita, dia mengatakan yang benar diakarena sudah belajar Islam sejak SD (Sekolah Dasar). Apakah ada ummat Islam yang merasa Ahok tidak menghina Islam?, kata Faisal dalam nada tanya.

Seperti dikutip BBC Indonesia (7/10/2016), Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menyatakan tidak berniat melecehkan ayat suci Alquran, terkait pernyataannya soal surat Al Maidah dan menyebutkan ia tidak suka mempolitisasi ayat-ayat suci.

Pernyataan yang diacu gubernur petahana ini terjadi saat bertemu dengan masyarakat di Kepulauan Seribu akhir September lalu.

Namun seorang peneliti psikologi politik Universitas Indonesia, Bagus Takwin, menyebut pernyataan Ahok tentang surat itu tak perlu dan “memperkeruh suasana” dengan berbagai respons.

Dalam video terkait surat tersebut, Ahok mengatakan, “… Kan bisa saja dalam hati kecil, bapak, ibu enggak bisa pilih saya karena dibohongi (orang) dengan surat Al Maidah (ayat) 51 macam-macam itu. Itu hak bapak, ibu.”

Isi surat Al-Maidah menyebutkan, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu).”

Melalui akun Instagramnya, hari Kamis (06/10), Ahok menulis, “Saat ini banyak beredar pernyataan saya dalam rekaman video seolah saya melecehkan ayat suci Alquran surat Al Maidah ayat 51, pada acara pertemuan saya dengan warga Pulau Seribu.”

‘Lebih baik tidak memancing’

“Berkenaan dengan itu, saya ingin menyampaikan pernyataan saya secara utuh melalui video yang merekam lengkap pernyataan saya tanpa dipotong. Saya tidak berniat melecehkan ayat suci Alquran, tetapi saya tidak suka mempolitisasi ayat-ayat suci, baik itu Alquran, Alkitab, maupun kitab lainnya,” tambahnya.

Bagus Takwin mengatakan pernyataan Ahok ini digunakan orang “untuk mengingatkan orang agar tidak memilih pemimpin non-Muslim.”

Tetapi Bagus mengatakan pernyataan Surat Al Maidah ini menimbulkan berbagai penafsiran termasuk “sampai ada yang bilang, Ahok bilang surat itu bohong atau dipakai untuk membohongi.”

“Itu kan ada stimulusnya. Stimulus bahwa ucapan Ahok bisa memancing respons macem macem itu juga harus dipertimbangkan supaya tidak makin memperkeruh suasana. Perlu juga satu strategi menanggapi komentar atau serangan lawan dengan lebih tidak memancing kemungkinan untuk diserang balik,” kata Bagus (ks)

 

BAGIKAN

KOMENTAR