Kisah Aman Dimot, Pejuang Kebal Peluru yang Diharap Jadi Pahlawan

0
544

0758292passpor9780x390

GAYO LUES – Di Aceh, ada sejumlah nama yang telah tercatat di lembar negara sebagai pahlawan nasional. Sebutlah, Cut Nyak Dien, Malahayati, dan Panglima Polim, serta sejumlah nama lain.

Namun, masih ada tokoh dari dataran tinggi Gayo yang dianggap layak mendapatkan gelar pahlawan nasional.

Keberanian dan kemampuannya dalam perang gerilya melawan penjajah Belanda pada tahun 1940-an, sangatlah berbeda dengan kemampuan pahlawan lain yang telah gugur di medan perang.

Mengapa demikian? Aman Dimot di bawah pimpinan Ilyas Leube berperang dengan cara yang unik, yaitu menghadang tank dan truk pasukan Belanda.

Bukan hanya itu, dia dianggap kebal dan memiliki ilmu kanuragan, karena tidak tergores apabila disabet pedang, ataupun tidak mempan ditembus peluru.

Sejarah Perang Heroik
Pada tanggal 30 Juli 1949, di sekitar Tanah Karo, Sumatera Utara, pasukan Bagura dan Mujahidin asal Aceh Tengah, mengintai dan menunggu iring-iringan tank dan 25 truk Belanda.

Pasukan berjumlah 45 orang itu menggunakan persenjataan senapan dan kelewang.

Berdasarkan sejumlah sumber, pasukan Barisan Gurilla Rakyat (Bagura) yang dipimpin Ilyas Leube bersama gerilyawan setempat menyerbu tank dan truk tersebut dengan membabi buta, sehingga membuat pasukan marsose kalang kabut.

Satu dari puluhan serdadu tersebut bernama Abu Bakar yang dijuluki dengan Pang atau (Sang pemberani) Aman Dimot.

Sesuai dengan julukannya, Pang Aman Dimot dikenal pemberani dan tidak kenal takut jika menghadapi Belanda. Bahkan, pemuda itu tidak gentar walaupun dalam keadaan perang terbuka atau perang jarak dekat.

Terbukti, saat pasukan tersebut mulai lelah karena keterbatasan orang, persenjataan, dan logistik.

Ditambah lagi bala bantuan pasukan Belanda, semakin melemahkan perlawanan pejuang saat itu Aman Dimot berkeras untuk tetap melakukan perlawanan.

Pilihan itu tetap diambil meski Komandan Ilyas Leube sudah memberi perintah kepada pasukan tersebut untuk mundur dan meninggalkan medan perang.

Aman Dimot, pemuda kelahiran Tenamak, Kecamatan Linge, Aceh Tengah ini tetap menolak perintah Ilyas Leube. Dia memilih melanjutkan perang terbuka bersama dua rekannya yaitu Pang Ali Rema dan Pang Edem.

Setelah Ilyas Leube dan sisa pasukan pergi, Aman Dimot bersama kedua rekannya itu berpura-pura mati di sekitar mayat-mayat korban perang yang bergelimpangan.

Saat pasukan Belanda sedang memastikan para korban sudah mati, Aman Dimot bersama teman-temannya bangkit dan menyerang pasukan belanda itu dengan beringas.

Banyak di antara pasukan Belanda yang mati kala itu. Namun, Ali Rema dan Edem pun tewas saat itu.

Aman Dimot terus mengejar pasukan Belanda dengan pedang, pasukan Belanda bingung, karena serangan dari persenjataan mereka tidak mampu melukai, apalagi membunuh Pang Aman Dimot.

Namun, akibat kelelahan Aman Dimot akhirnya ditangkap Belanda. Pasukan marsose yang frustasi karena tidak mampu membunuh Aman Dimot, akhirnya memasukkan granat ke dalam mulut sang pejuang.

Tak cukup sampai di situ, pasukan Belanda pun menggilas tubuh Pang Aman Dimot dengan tank. Maka tanggal 30 Juli 1949, gugurlah Aman Dimot di Rajamerahe, Sukaramai, Karo, Sumatera Utara. Jasad Aman Dimot pun dimakamkan di tempat itu.

Beberapa tahun kemudian, kuburannya digali dan kerangkanya dipindahkan ke Tiga Binanga. Jasad Aman Dimot selanjutnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kabanjahe, Sumatera Utara.

Menanti gelar pahlawan
Bagi masyarakat Gayo di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues hingga masyarakat Alas di Kutacane, nama Aman Dimot harum karena kisah heroik perjuangannya.

Bagaimana tidak, bukan hanya sebagai pejuang di daerahnya, Aman Dimot bahkan berjuang agar Belanda tidak masuk ke Aceh dari jalur Tanah Karo, Sumatera Utara.

Pemerintah Aceh Tengah bahkan telah mengusulkan nama Aman Dimot sebagai pahlawan nasional, bersanding dengan nama besar pahlawan Aceh lainnya seperti Cut Nyak Dien, Panglima Polim dan yang lainnya.

Nama Aman Dimot telah disodorkan ke Kementerian Sosial, namun hingga saat ini belum berhasil.

“Kepada kita belum diberi tahu apa kekurangannya. Apakah kekurangan administrasi atau kekurangan bukti? Ini yang sedang kita minta untuk disampaikan, supaya kalau kurang bukti bisa kita lengkapi, bila kurang administrasi kita bisa penuhi,” kata Nasaruddin.

Nasaruddin adalah Bupati Aceh Tengah. Dia megatakan hal itu usai Upacara Peringatan Hari Pahlawan di Lapangan Setdakab Aceh Tengah, Selasa (10/11/2015) lalu.

“Cuma kita belum pernah diberikan kesempatan untuk presentasi, kita baru menyampaikan usulan yang dilengkapi dengan penelitian dan kajian ilmiahnya, mana kala kita diminta untuk menjelaskan, mungkin suasana tim itu akan berbeda,” kata dia.

Senada dengan itu, M Y Sidang Temas, veteran asal Aceh Tengah menyampaikan harapan yang sama agar Aman Dimot diberi gelar pahlawan nasional.

“Berbicara tentang Aman Dimot, saya sudah dua kali berjumpa Menteri Sosial Bachtiar Hamzah, saya bertanggung jawab untuk menyampaikan makalah tentang Aman Dimot,” kata dia.

Kepada pemerintah pusat, pria yang pernah bergabung bersama kelompok Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) tersebut mengharapkan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, agar merealisasikan gelar pahlawan nasional kepada Aman Dimot. (kompas.com)

BAGIKAN

KOMENTAR