Kita Sudah Menjajah Bahasa Sendiri

0
530

bahasa-asing_20151109_102738

BANDA ACEH – Sikap berbahasa masyarakat belakangan ini telah menghacurkan bahasa Indonesia. Kita sendiri yang telah menjajah bahasa sendiri dengan mengundang bahasa asing dalam bahasa Indonesia.

Dominasi bahasa asing sudah sedemikian parah. Kita telah membuang martabat bahasa Indonesia dengan penggunaan bahasa asing, yang makin terlihat dimana-mana, baik penamaan badan, toko, warung, maupun produk.

Kalimat bernada protes tersebut disampaikan DR Rajab Bahri (pakar bahasa Indonesia Unsyiah) pada Forum Diskusi Terpumpun, bertema Menjadikan Bahasa Indonesia Tuan Rumah di Negeri Sendiri, di Grand Nanggroe Hotel, Rabu (24/11), yang digelar Balai Bahasa Provinsi Aceh.

Ia memberikan beberapa contoh kelatahan berbahasa Indonesia yang banyak menyusupkan bahasa asing. Misalnya penggunaan kata café yang seharusnya bisa ditulis dengan kata kedai.

“Yang lebih parah, sudah menggunakan bahasa asing dalam media luar ruang, salah ejaan pula. Belum lagi sejumlah pengucapan bahasa Indonesia yang didialegkan dalam bahasa asing, “sindir Rajab.

Narasumber yang lain, DR Nurdasila Darsono, yang mengupas bahasa media luar ruang dari sisi ekonomi mengatakan, belajar bahasa asing itu perlu, karena memang tuntutan zaman agar kita bersaing di era globalisasi.

“Tapi tidak lantas kita memandang rendah bahasa sendiri. Hal-hal yang sederhana harus diindonesiakan. Misalnya kata exit untuk penunjuk jalan keluar. Kenapa tidak menggunakan bahasa Indonesia saja. Atau utamakan bahasa Indonesia dulu baru dalam kurung exit.”

Menurut Nurdasila, bila ditinjau dari sisi ekonomi memang ada untung ruginya menggunakan bahasa asing. Sebagai contoh penamaan toko dengan kata asing memang mempunyai nilal jual.

Masyarakat yang pola pikirnya bahwa yang kebarat-baratan lebih hebat, lebih memilih produk, tempat, toko, tempat layanan jasa yang namanya berbau asing.

Betapa sulit menganulir apa yang sudah menjadi konsep pemikiran bahwa yang berbahasa asing itu lebih wah. “Memang sih, ada toko yang tidak bisa diubah ke dalam bahasa Indonesia karena memang sudah menjadi merk dagang sebuah produk dari negeri asalnya.

Ini tidak bisa kita pungkiri. Tapi ada tulisan di papan nama sebuah toko bertuliskan Service: HP, soft ware. No.sinyal Mati Total Blaank LCD Mic Mati. Spiker Mati. Kifet Macet. Hank, apa ini tidak kacau namanya? Bahasa Indonesia bukan bahasa Inggris bukan. Siapa yang berbelanja di toko ini, orang bulek? Ini bukan pobia bahasa asing, tapi menyelamatankan bahasa Indonesia di media luar ruang, “ geram Nurdasila.

Sama gemasnya dengan Muhammmad Toha, MSi (tenaga fungsional di Balai Bahasa Provinsi Aceh), sangat menyayangkan rusaknya tatanan bahasa media luar ruang di Aceh.

Dari studi kasus papan nama di Provinsi Aceh (Banda Aceh, Bireuen, Lhoseumawe, Aceh Tengah, Langsa, Tamiang, Aceh Yaja, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, dan Aceh Selatan), penggunaan bahasa asing untuk papan nama badan usaha seperti hotel, toko, sekolah, layanan jasa seperti mencuci pakaian, mencuci kenderaan, sudah menggunakan bahasa Inggris.

Baik yang seluruhnya menggunakan bahasa asing, bahasa campuran, salah ejaan, dan sebagainya. Ironisnya ada papan nama yang seluruhnya berbahasa Inggris salah ejaan dan lokasinya bukan di kota pula.

“Siapakah sasaran konsumen mereka? Ini namanya tidak punya sikap menjunjung tinggi bahasa Indonesia. Nah perasaan rendah diri terhadap bahasa sendiri ini, mencerminkan prilaku yang gemar menunduk-nunduk di depan bangsa lain. Jadi perlu langkah strategis untuk mengobatinya,” kata Toha.

Dalam diskusi hingga menjelang waktu shalat Ashar tersebut, forum berhasil mengumpulkan beberapa saran dan ide dari 20 peserta (instansi, biro iklan, radio, dan badan usaha), antara lain perlu segera disusun regulasi yang bisa mengatur dan menertibkan penamaan papan nama, toko, dan sebagainya di media luar ruang.

Perlu juga memberi penghargaan bagi masyarakat yang telah memakai bahasa Indonesia dengan benar di media luar ruang. “Kalau perlu ada satu badan bagi masyarakat untuk mendiskusikan penamaan toko atau usahanya,” usul salah seorang peserta. (tribunnews.com)

BAGIKAN

KOMENTAR